Perbaikan Buku Pelajaran dalam Timbangan Ekonomi Modal Manusia

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per 2024, rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia baru mencapai sekitar 9,9 tahun, sementara Indeks Pembangunan Manusia berada di level 75,02. Di sisi la...

Aug 09, 2026 - 11:20
0 0
Perbaikan Buku Pelajaran dalam Timbangan Ekonomi Modal Manusia

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per 2024, rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia baru mencapai sekitar 9,9 tahun, sementara Indeks Pembangunan Manusia berada di level 75,02. Di sisi lain, Bank Dunia mencatat Indeks Modal Manusia (Human Capital Index) Indonesia sebesar 0,54, yang berarti seorang anak yang lahir hari ini secara ekonomi hanya akan mencapai 54 persen dari potensi produktivitasnya kelak. Dalam kerangka makroekonomi tersebut, rencana pemerintah memperbaiki kualitas buku pelajaran SD hingga SMA, dengan menjadikan Malaysia dan Kamboja sebagai pembanding, layak dibaca sebagai kebijakan investasi jangka panjang, bukan sekadar program administratif kementerian.

Anggaran Pendidikan dan Rasio Belanja Kualitas

APBN 2025 mengalokasikan anggaran fungsi pendidikan sebesar Rp724,3 triliun, setara 20 persen dari total belanja negara sesuai amanat konstitusi. Dari perspektif anggaran, perbaikan buku pelajaran tergolong belanja kualitas, yakni pengeluaran yang ditujukan untuk meningkatkan hasil pembelajaran, berbeda dengan belanja kuantitas seperti pembangunan gedung atau penggajian. Berbagai kajian menunjukkan bahwa intervensi pada kualitas materi ajar termasuk kebijakan dengan rasio biaya-manfaat (cost-effectiveness) paling tinggi di sektor pendidikan. Dengan kata lain, setiap rupiah yang dibelanjakan untuk memperbaiki konten buku berpotensi menghasilkan perbaikan capaian belajar yang lebih besar dibandingkan belanja fisik.

Namun, fundamental kebijakan ini akan diuji pada tataran tata kelola. Pengadaan buku dalam skala nasional melibatkan puluhan juta eksemplar dan ribuan sekolah, sehingga transparansi kurasi konten, penerbitan, hingga distribusi menjadi variabel penentu. Tanpa tata kelola yang baik, belanja kualitas berisiko berubah menjadi belanja rutin yang minim dampak terhadap tren perbaikan pembelajaran.

Di Satu Sisi: Investasi Modal Manusia yang Efisien

Di satu sisi, argumen ekonomi mendukung langkah ini. Literatur ekonomi pendidikan mencatat imbal hasil (return) pendidikan dasar dan menengah berkisar 9 hingga 10 persen per tahun tambahan sekolah, tercermin dari kenaikan upah dan produktivitas tenaga kerja. Buku pelajaran yang akurat, mutakhir, dan mudah dipahami merupakan infrastruktur lunak yang memperkuat kualitas sumber daya manusia. Hasil PISA 2022 menunjukkan skor matematika Indonesia di level 366, jauh di bawah rata-rata OECD yang berkisar 472, sehingga perbaikan materi ajar menjadi salah satu pintu masuk yang logis untuk mengejar ketertinggalan.

Perbaikan kualitas materi ajar adalah salah satu intervensi pendidikan dengan biaya relatif rendah namun dampaknya terukur terhadap capaian belajar, demikian benang merah berbagai kajian ekonom pendidikan.

Di Sisi Lain: Risiko Eksekusi dan Prioritas Anggaran

Di sisi lain, kalangan pengamat mengingatkan sejumlah risiko. Pertama, perbaikan buku tidak otomatis menaikkan capaian belajar apabila tidak dibarengi peningkatan kapasitas guru, karena guru adalah faktor penentu utama di dalam kelas. Kedua, pengalaman pergantian kurikulum dalam dua dekade terakhir menunjukkan biaya penggantian buku yang tidak kecil, sementara umur pakai kebijakan kerap lebih pendek dari umur pakai buku. Ketiga, ada risiko inefisiensi pengadaan apabila kurasi penerbit dan pengawasan mutu tidak berjalan ketat. Dari sudut pandang portofolio kebijakan, alokasi untuk buku harus dibandingkan dengan alternatif penggunaan dana yang sama, misalnya pelatihan guru atau pemerataan akses internet sekolah.

Malaysia dan Kamboja sebagai Cermin Perbandingan

Pemilihan Malaysia dan Kamboja sebagai pembanding menarik dianalisis. Malaysia mencatat skor PISA 2022 lebih tinggi dari Indonesia, dengan matematika 409 dan sains 416, sehingga relevan sebagai acuan standar kualitas konten di kawasan. Adapun Kamboja, meskipun skor PISA-nya masih di bawah Indonesia, dikenal giat melakukan reformasi kurikulum dan penulisan ulang buku teks dalam satu dekade terakhir dengan dukungan mitra pembangunan. Kombinasi keduanya memberi dua arah cermin: standar kualitas yang ingin dicapai dan metode pembaruan buku yang bisa ditiru. Bagi pembaca awam, PISA adalah survei internasional tiga tahunan yang mengukur kemampuan membaca, matematika, dan sains siswa usia 15 tahun.

Proyeksi Dampak Jangka Panjang terhadap Ekonomi

Dalam proyeksi jangka panjang, keberhasilan kebijakan ini baru akan terlihat dalam 10 hingga 15 tahun, ketika kohort siswa yang belajar dengan buku berkualitas memasuki pasar tenaga kerja. Apabila berhasil menaikkan capaian belajar secara signifikan, dampaknya akan terbaca pada kenaikan produktivitas, daya saing industri, dan pada akhirnya pertumbuhan ekonomi potensial. Sebaliknya, apabila berhenti pada penggantian cetakan tanpa perbaikan konten dan pedagogi, program ini hanya akan tercatat sebagai belanja barang dalam neraca anggaran. Sentimen publik dan dunia usaha terhadap kualitas lulusan pada akhirnya akan menjadi indikator paling jujur untuk menilai keberhasilan kebijakan ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User