JAKARTA — PT RANS Entertainment Indonesia Tbk Resmi Melantai di Bursa Efek Indonesia
Suara denting gong elektronik bergema pelan, lalu diiringi tepuk tangan riuh yang memecah heningnya Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (10/7/2026)
Suara denting gong elektronik bergema pelan, lalu diiringi tepuk tangan riuh yang memecah heningnya Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (10/7/2026). Di hadapan puluhan pewarta dan para pelaku pasar, Raffi Ahmad—yang tampil dengan setelan jas biru gelap—menekan tombol perdana sembari melemparkan senyum khasnya. Detik itu, kode saham RANS resmi menyala di papan bursa, menandai babak anyar bagi industri hiburan Tanah Air: sebuah perusahaan yang dibangun dari kamar kos dan kanal YouTube kini bertransformasi menjadi emiten publik.
PT RANS Entertainment Indonesia Tbk melepas 1,5 miliar lembar saham biasa atas nama dengan nilai nominal Rp20 per saham dalam penawaran umum perdana (IPO). Harga penawaran ditetapkan Rp200 per lembar, sehingga perusahaan mengantongi dana segar Rp300 miliar. Masa penawaran umum yang berlangsung 2–7 Juli 2026 mencatat kelebihan permintaan hingga 12 kali lipat, sinyal bahwa investor ritel dan institusi menaruh harap besar pada entitas yang dibesarkan oleh pasangan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina itu.
“Dulu kami hanya bermimpi bisa bikin konten yang menghibur jutaan orang. Hari ini mimpi itu berubah menjadi perusahaan yang sahamnya bisa dibeli siapa saja,” ujar Raffi Ahmad, Direktur Utama RANS, dengan suara bergetar kala memberikan sambutan. Di sebelahnya, Nagita Slavina, yang menjabat Komisaris Utama, sesekali menyeka sudut mata.
Dari Garasi Digital ke Lantai Bursa
Perjalanan RANS bukan cerita instan. Berawal dari kanal YouTube keluarga pada 2015, RANS berkembang menjadi ekosistem hiburan terintegrasi: manajemen artis, produksi film dan serial web, penyelenggaraan event, lisensi merek, sampai kedai kopi dan wahana wisata. Dalam prospektus, perusahaan melaporkan pendapatan Rp420 miliar pada 2025, naik 38 persen dari tahun sebelumnya. Laba bersih tumbuh 22 persen menjadi Rp98 miliar.
Dana hasil IPO dialokasikan untuk tiga pilar utama: 35 persen untuk ekspansi bisnis manajemen artis dan akuisisi kanal konten baru; 40 persen untuk pembangunan studio produksi film dan virtual set berteknologi Extended Reality (XR) di BSD City; sisanya untuk modal kerja serta pengembangan platform digital berbasis kecerdasan buatan yang akan merilis rekomendasi konten ke pengiklan.
Antusiasme di Lantai Perdagangan
Ketika jam perdagangan dibuka, saham RANS langsung melonjak 25 persen ke Rp250, menyentuh batas auto-rejection atas. Ribuan order beli antre di Rp252–Rp260. Di anjungan informasi, seorang investor ritel asal Surabaya, Deni Santoso, mengaku sengaja datang ke BEI. “Saya ikut IPO karena suka kontennya, tapi setelah baca prospektus, saya yakin ini bisnis serius. Valuasi juga masih wajar,” katanya.
“Kami ingin publik tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pemilik. Jadi ketika RANS menghasilkan karya bagus, pemegang saham ikut menikmati hasilnya,” kata Raffi Ahmad saat dikonfirmasi di sela seremoni.
Analis dari NH Korindo Sekuritas, Marissa Putri, menilai RANS menawarkan proposisi unik di sektor konsumen non-siklikal dan hiburan. “Mereka memiliki basis penggemar loyal yang sulit ditiru. Tantangan utamanya adalah menjaga pertumbuhan di tengah selera pasar yang cepat berubah. IPO ini memberi modal untuk diversifikasi,” paparnya.
Strategi Bertahan di Industri yang Berubah Cepat
Kompetisi di dunia hiburan digital kian sengit. Namun kehadiran RANS di BEI dipandang sebagai langkah defensif sekaligus ofensif. Dengan status perusahaan terbuka, RANS wajib menyajikan laporan keuangan rutin dan menjalankan tata kelola yang transparan—aspek yang selama ini kerap menjadi titik lemah perusahaan milik figur publik.
RANS juga berencana menerbitkan obligasi konversi pada kuartal IV-2026 untuk mendanai akuisisi dua rumah produksi menengah di kawasan Jabodetabek. Pasca-IPO, kepemilikan pendiri menjadi 70 persen, publik 20 persen, dan sisanya dipegang mitra strategis. Komposisi ini menjamin kendali sekaligus membuka pintu kolaborasi.
Di tengah riuh perdagangan, layar besar di aula BEI menayangkan video kilas balik RANS: mulai dari video amatiran di garasi hingga konser musik yang dihadiri puluhan ribu orang. Banyak karyawan RANS yang hadir tak kuasa menahan tangis. “Ini bukan sekadar bisnis, ini keluarga kami,” bisik seorang staf produksi.
Peresmian ini sekaligus menjadi jawaban atas skeptisisme yang selama ini mengira bisnis hiburan berbasis popularitas sesaat akan sulit naik kelas. Dengan pencatatan ini, RANS menjadi perusahaan konten kedua yang melantai di BEI, membuka jalan bagi pemain lain di industri yang diproyeksi bernilai Rp150 triliun pada 2027.
FAQ Seputar IPO PT RANS Entertainment Indonesia Tbk:
Comments (0)