Jakarta — Kebiasaan Sehari-hari yang Diam-diam Mengganggu Ketenangan Pikiran

Ketenangan pikiran menjadi fondasi penting bagi kesehatan mental. Namun, tanpa disadari, sejumlah rutinitas harian justru perlahan mengikis ketenangan itu.

Jul 08, 2026 - 15:32
0 0
Jakarta — Kebiasaan Sehari-hari yang Diam-diam Mengganggu Ketenangan Pikiran

Ketenangan pikiran menjadi fondasi penting bagi kesehatan mental. Namun, tanpa disadari, sejumlah rutinitas harian justru perlahan mengikis ketenangan itu. Aktivitas yang dianggap normal atau bahkan produktif ternyata bisa memicu kecemasan, stres, dan ketidakstabilan emosi apabila dilakukan secara terus-menerus tanpa kontrol.

Kebiasaan yang Kerap Tak Disadari

Berikut adalah beberapa kebiasaan yang sering dianggap sepele, tapi berdampak pada ketenangan mental:

  • Mengecek media sosial ketika baru bangun tidur. Banyak orang menjadikan ponsel sebagai benda pertama yang disentuh di pagi hari. Alih-alih menyegarkan pikiran, kebiasaan ini justru membanjiri otak dengan informasi yang belum tentu dibutuhkan. Akibatnya, fokus dan suasana hati di awal hari langsung dikacaukan oleh perbandingan sosial, berita negatif, atau tuntutan pekerjaan yang muncul di linimasa.
  • Multitasking berlebihan. Mengerjakan dua atau tiga hal sekaligus sering dikaitkan dengan produktivitas tinggi. Padahal, riset dari Universitas Stanford menunjukkan multitasking kronis melemahkan kemampuan otak menyaring informasi dan meningkatkan hormon stres kortisol. Di satu sisi, menyelesaikan beberapa pekerjaan dalam waktu bersamaan memberi kesan efisien; di sisi lain, pikiran menjadi mudah lelah dan rentan mengalami kecemasan.
  • Menunda tidur tanpa alasan mendesak (revenge bedtime procrastination). Setelah seharian bekerja, banyak orang memilih begadang untuk ‘membalas dendam’ waktu luang. Ini adalah bentuk perlawanan psikologis terhadap kurangnya kendali atas siang hari. Padahal, kurang tidur secara langsung merusak regulasi emosi, membuat orang lebih mudah tersinggung dan sulit berkonsentrasi keesokan harinya.
  • Menimbun benda yang tidak lagi terpakai. Clutter atau tumpukan barang di ruang tinggal dan kerja berpengaruh nyata pada kesehatan mental. Studi yang dimuat dalam Journal of Environmental Psychology menyebutkan bahwa ruangan berantakan meningkatkan kadar kortisol dan memicu kelelahan kognitif. Pikiran tanpa sadar terus memproses keberadaan benda-benda yang seharusnya sudah disingkirkan, menciptakan beban mental tersembunyi.
  • Terus mengiyakan permintaan orang lain tanpa menyaringnya. Kebiasaan menyenangkan semua orang alias people-pleasing kerap dianggap sebagai sikap baik. Namun, ini adalah jalan cepat menuju kelelahan emosional. Setiap “iya” yang tidak disertai kapasitas diri akan menabung stres dan rasa bersalah. Pada titik tertentu, akumulasi ini meledak menjadi ledakan emosi atau justru depresi ringan karena merasa diri dimanfaatkan.
  • Mengonsumsi berita negatif secara terus-menerus (doomscrolling). Dorongan untuk terus menggulir berita buruk, terutama saat terjadi krisis, adalah respons alami otak yang ingin waspada. Namun, kebiasaan ini memperbesar persepsi ancaman, sehingga seseorang melihat dunia lebih berbahaya dari kenyataannya. Kecemasan kronis yang timbul dari doomscrolling dapat memicu gangguan tidur dan menurunkan optimisme dalam jangka panjang.
"Kebiasaan-kebiasaan kecil seperti mengecek ponsel sebelum bangkit dari tempat tidur terlihat remeh. Tetapi itu membentuk arsitektur saraf kita sepanjang hari. Otak butuh transisi yang tenang untuk bisa mengatur emosi dan fokus," ujar dr. Aisya Rachman, psikolog klinis di Jakarta.

Analisis Dua Sisi

Jika ditelaah lebih dalam, kebiasaan-kebiasaan di atas tidak sepenuhnya buruk. Media sosial, misalnya, adalah saluran untuk terhubung dengan orang tercinta dan mengakses informasi penting. Begadang memberikan momen 'me time' yang langka bagi pekerja dengan jam kerja tinggi. Persoalannya terletak pada intensitas, kontrol diri, dan kesadaran saat melakukannya. Ketika kegiatan tersebut berlangsung otomatis tanpa refleksi, yang muncul bukan lagi manfaat, melainkan kelelahan pikiran yang menumpuk secara diam-diam.

Pro: Beberapa kebiasaan seperti multitasking dan konsumsi informasi masih memberikan nilai produktivitas dan persiapan mental terhadap situasi dunia yang bergerak cepat. Pada takaran yang sehat, kebiasaan ini mendukung adaptasi dan konektivitas sosial.

Kontra: Rendahnya kesadaran akan batas diri membuat kebiasaan tersebut bergeser menjadi distraksi dan beban psikologis. Dampak terbesarnya adalah meningkatnya risiko kecemasan, turunnya kualitas tidur, dan menipisnya kemampuan menikmati momen saat ini. Tanpa intervensi, siklus ini memperlemah ketahanan mental secara progresif.

Untuk mengembalikan ketenangan, para ahli menyarankan praktik mindfulness sederhana seperti menyisihkan 10 menit pertama bangun tidur tanpa gawai, menjadwalkan waktu khusus untuk membaca berita, dan melatih asertivitas agar mampu berkata “tidak” tanpa rasa bersalah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User