Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan taji pada penutupan perdagangan Rabu (4/3/2020), bertengger di level
5.650 setelah menguat signifikan untuk hari kedua berturut-turut. Padahal, pasar saham domestik baru saja diguncang oleh pengumuman pertama kasus positif virus corona di Indonesia dua hari sebelumnya, yang sempat memicu kejatuhan tajam indeks. Data Bursa Efek Indonesia mencatat, jika Saat itu Senin lalu IHSG sempat terperosok ke area
5.350 akibat kepanikan investor, namun pemulihan cepat terjadi. Dalam dua sesi setelahnya, indeks berhasil menghapus sebagian besar kerugian, mengerek kapitalisasi pasar hingga lebih dari
Rp400 triliun dalam tempo sangat singkat.
Lonjakan ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Pelaku pasar domestik, terutama investor institusional, tampak memanfaatkan momentum pelemahan harga saham untuk akumulasi. Di sisi lain, intervensi stabilisasi oleh otoritas—termasuk pembelian kembali saham oleh emiten BUMN dan kebijakan buyback tanpa RUPS—ikut menopang sentimen. Meski demikian, fundamental ekonomi masih dibayangi ketidakpastian penyebaran virus. Indeks manufaktur Indonesia per Februari turun ke
48,2, mendekati kontraksi, sementara proyeksi pertumbuhan PDB kuartal I-2020 dipangkas sejumlah lembaga.
Analisis Dua Sisi: Mengapa IHSG Menguat Padahal Corona Mengancam
Penguatan dua hari ini merupakan cermin dari dualisme psikologi pasar: di satu sisi, koreksi awal akibat sentimen negatif corona membuka peluang valuasi menarik, sementara di sisi lain aksi para pelaku besar yang melakukan rebalancing portofolio menciptakan permintaan artifisial yang tidak selalu mencerminkan perbaikan fundamental.
Pasar seolah mengabaikan risiko riil penyebaran virus, setidaknya untuk sesaat. Akan tetapi, data historis menunjukkan bahwa reli berbasis stimulus di tengah ketidakpastian makro cenderung rapuh. Dengan merujuk pada krisis serupa seperti SARS 2003 dan MERS 2015, indeks acap kali mengalami penguatan teknikal sebelum kembali terkoreksi seiring meningkatnya jumlah kasus dan dampak ekonomi yang lebih konkret.
Perbandingan Kinerja Indeks Regional
| Indeks |
Penutupan 4 Maret 2020 |
Perubahan Harian (%) |
Perubahan dari Awal Kasus Corona (%) |
| IHSG |
5.650 |
+3,2% |
-10,1% |
| Strait Times (Singapura) |
3.022 |
+1,9% |
-8,5% |
| KLCI (Malaysia) |
1.462 |
+1,5% |
-6,8% |
| SET (Thailand) |
1.348 |
+2,7% |
-9,3% |
Dari tabel di atas, terlihat bahwa IHSG membukukan kenaikan harian tertinggi di antara peer regional, meski secara akumulasi masih mencatat pelemahan paling dalam sejak kasus pertama muncul di kawasan. Hal ini menandakan bahwa pemulihan cepat IHSG bersifat teknikal dan masih rentan terhadap shock eksternal.
Membaca Arah Pasar: Optimisme atau Jebakan?
“Pergerakan IHSG dalam dua hari terakhir ini lebih didorong oleh faktor teknikal dan likuiditas domestik, bukan perbaikan fundamental,” kata seorang analis dari perusahaan sekuritas terkemuka di Jakarta. “Selama data penyebaran corona belum menunjukkan puncak, pasar masih bisa berbalik arah kapan saja. Namun, penurunan tajam sebelumnya membuka ruang bagi investor jangka panjang untuk masuk di level diskon.”
Secara sektoral, saham perbankan (BBRI, BMRI, BBCA) dan telekomunikasi (TLKM) menjadi motor penguatan. Sektor yang terkait langsung dengan mobilitas seperti transportasi dan ritel justru masih tertekan, menandakan adanya selektivitas pasar yang cukup tinggi. Investor asing tercatat masih melakukan aksi jual bersih sebesar
Rp1,2 triliun dalam sepekan, meskipun net sell pada hari Rabu mengecil.
Dari sudut pandang kebijakan, Bank Indonesia mengisyaratkan akan menurunkan suku bunga acuan dan melonggarkan kebijakan makroprudensial apabila tekanan ekonomi semakin besar. Langkah antisipatif ini direspons positif oleh pelaku pasar, namun efektivitasnya sangat bergantung pada kecepatan penanganan wabah di Indonesia.
Berikut adalah ringkasan perbandingan pro dan kontra dari penguatan IHSG saat ini:
Pro: Momentum beli investor domestik memanfaatkan diskon harga saham; kebijakan buyback emiten dan stimulus moneter memberikan bantalan likuiditas; valuasi IHSG menjadi lebih menarik dengan price-to-earnings ratio (PER) turun ke level
13,5x, terendah dalam enam bulan.
Kontra: Kasus corona di Indonesia belum mencapai puncak dan berpotensi meluas sehingga mengganggu aktivitas ekonomi; net sell investor asing masih berlanjut; data makro mulai menunjukkan perlambatan; reli berpotensi menjadi dead cat bounce jika sentimen global memburuk; sektor riil terutama pariwisata, transportasi, dan manufaktur masih dalam tekanan.
Comments (0)