Jakarta — Hiruk-pikuk pusat perbelanjaan buku dan alat tulis di kawasan Pasar
Pergeseran preferensi ini menjadi potret tahunan yang kini terasa semakin dominan. Buku tulis tidak lagi sekadar media mencatat pelajaran, melainkan menjel
Pergeseran preferensi ini menjadi potret tahunan yang kini terasa semakin dominan. Buku tulis tidak lagi sekadar media mencatat pelajaran, melainkan menjelma menjadi kanvas ekspresi diri, pembawa semangat, bahkan simbol status sosial di antara teman sebaya. Para pelajar dari tingkat sekolah dasar hingga menengah atas berlomba-lomba mencari edisi terbaru dan terunik, sebuah fenomena yang turut memengaruhi strategi produsen dan jaringan distribusi nasional.
Dari Fungsi ke Identitas
Menurut pengamatan beberapa pemilik toko, preferensi pelajar terhadap buku tulis berdesain karakter sudah meningkat cukup signifikan dalam dua tahun terakhir pasca-pandemi. Toko Buku Abadi, salah satu grosir di bilangan Senen, mencatat kenaikan penjualan buku bergambar lisensi resmi mencapai 40 persen dibandingkan tahun ajaran sebelumnya."Sekarang, kalau stok buku polos terbatas, pelanggan masih mau menunggu. Tapi kalau desain karakter yang sedang tren kosong, mereka langsung pergi ke toko lain. Jadi, kami harus jeli membaca selera pasar yang berubah cepat," ujar Suryadi, pemilik Toko Buku Abadi.Fenomena ini sejalan dengan dorongan psikologis di kalangan remaja yang ingin memiliki sense of belonging serta personalisasi terhadap barang-barang yang digunakan sehari-hari. Buku bergambar karakter idola atau desain estetik menjadi semacam "teman" yang memotivasi mereka untuk lebih rajin membuka halaman catatan.
Comments (0)