Jakarta — Chery Umumkan Simulasi Biaya BBM Hybrid per Kilometer

Deru kemacetan ibu kota yang tak kunjung reda dan harga BBM yang terus merangkak naik seolah menjadi monster tak kasatmata yang menggerogoti dompet para ko

Jul 09, 2026 - 10:10
0 0

Deru kemacetan ibu kota yang tak kunjung reda dan harga BBM yang terus merangkak naik seolah menjadi monster tak kasatmata yang menggerogoti dompet para komuter urban setiap hari. Di tengah tekanan ekonomi itu, pabrikan asal Tiongkok, Chery, menyodorkan solusi yang menjanjikan: lini mobil hybrid dengan klaim konsumsi BBM super irit dan biaya operasional yang ramah di kantong. Teknologi Chery Super Hybrid (CSH), yang diusung dalam model-model andalan mereka, diklaim mampu menjawab kegelisahan konsumen akan keberlanjutan mobilitas tanpa mengorbankan kenyamanan. Namun, seberapa realistiskah angka-angka yang dipresentasikan?

Filosofi “Weekday EV, Weekend Hybrid”: Ceruk Baru Mobilitas Perkotaan

Chery Tiggo 9 CSH menjadi ujung tombak strategi ini. Sebagai sebuah Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), model flagship tersebut dirancang dengan filosofi “Weekday EV, Weekend Hybrid”. Artinya, pada hari kerja, pengguna bisa mengandalkan motor listrik murni untuk menempuh jarak pendek dalam kota tanpa setetes bensin sekalipun. Kemudian, saat akhir pekan tiba dan perjalanan menuju luar kota menjadi pilihan, mesin bensin akan mengambil alih atau bekerja berdampingan untuk memperpanjang jelajah. Pola ini, klaim Chery, bisa menekan biaya operasional secara drastis.

“Kami ingin memberikan pengalaman ‘dua mobil dalam satu’. Di keseharian, pengguna hanya perlu mengisi daya di rumah dengan tarif listrik non-subsidi sekitar Rp1.700 per kWh, sangat ekonomis. Sementara untuk mobilitas akhir pekan, tangki bensin tetap siap bekerja,” ujar Head of Product Chery Indonesia dalam siaran pers yang diterima Kamis (18/6/2026).

Sebagai gambaran, jika mobil listrik mengonsumsi sekitar 15 kWh untuk 100 km, maka biaya per kilometernya hanya Rp255. Angka itu jelas jauh di bawah biaya operasional mobil bensin konvensional yang—dengan harga Pertamax Rp16.250 per liter dan konsumsi 1:10—bisa menyentuh Rp1.625 per km. Namun, perlu dicatat bahwa konsumsi listrik sangat bergantung pada gaya berkendara, bobot kendaraan, dan kondisi lalu lintas.

Simulasi Biaya: Dua Muka Realitas Klaim Pabrikan

Dalam simulasi resminya, Chery mematok asumsi harga BBM Rp16.250 per liter dan tarif listrik rumah tangga Rp1.700 per kWh. Untuk model seperti Tiggo 9 CSH yang berbasis PHEV, pabrikan mengklaim biaya operasional dalam mode listrik bisa sangat rendah, sementara dalam mode hybrid tetap kompetitif. Sementara itu, model hybrid konvensional (non-plug-in) seperti Tiggo 8 Pro e+ diklaim memiliki konsumsi BBM di kisaran 20–25 km per liter, atau biaya sekitar Rp650–Rp812 per km.

Namun, klaim pabrikan ini tak jarang berbeda jauh dengan pengalaman pengguna sehari-hari. Pengujian mandiri oleh komunitas otomotif kerap menunjukkan selisih 10–20% dari klaim pabrikan, terutama saat berkendara di kemacetan ekstrem atau rute menanjak. Kondisi baterai yang tidak selalu terisi penuh juga menjadi variabel penting yang kerap luput dari simulasi resmi.

“Klaim pabrikan sering kali berdasarkan siklus pengujian laboratorium yang ideal. Konsumen perlu menambahkan margin sekitar 15–20% untuk mendapatkan gambaran biaya riil,” pungkas Bisma Ardi, pengamat otomotif dari Forum Transportasi Berkelanjutan.

Infrastruktur dan Psikologis: Apa yang Belum Terjawab?

Kesuksesan PHEV seperti Tiggo 9 CSH sangat bergantung pada ketersediaan titik pengisian daya. Di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) mulai banyak ditemui, tetapi untuk pengisian daya di rumah—sebagaimana yang direkomendasikan Chery—apartemen dan rumah tapak dengan daya listrik terbatas masih menghadapi hambatan. Biaya pemasangan wall charger yang bisa mencapai Rp10–15 juta juga menjadi pertimbangan tersendiri yang memperpanjang payback period.

Dari sisi psikologis, range anxiety atau kecemasan jarak tempuh masih membayangi calon pengguna PHEV. Meski mesin bensin siap menjadi cadangan, transisi dari kendaraan konvensional ke kebiasaan mengisi daya setiap malam bukan perkara sepele.

Di bawah ini adalah perbandingan singkat biaya operasional berdasarkan klaim vs realita potensial:

  • Perkotaan stop-and-go (mode listrik): Klaim ~Rp300/km → Realita potensial: Rp350–450/km (efek AC, kemacetan).
  • Rute kombinasi (mode hybrid): Klaim ~Rp850/km → Realita potensial: Rp950–1.100/km.
  • Tol luar kota (mode bensin penuh): Klaim ~Rp1.000/km → Realita potensial: Rp1.200–1.400/km.

Simpulan Dua Sisi: Mana yang Lebih Berat?

Kehadiran mobil hybrid Chery dengan simulasi biaya yang memukau ini memang membawa angin segar. Namun calon pembeli perlu menimbang dengan cermat, karena angka di atas kertas hanyalah permulaan.

Pro:
  • Efisiensi BBM nyata, terutama pada rute dalam kota dengan stop-and-go; mode listrik mampu menekan biaya hingga di bawah Rp400/km jika terisi penuh.
  • Emisi karbon lebih rendah, terutama saat beroperasi dalam mode EV, mendukung tren mobilitas hijau.
  • Fleksibilitas pengisian daya di rumah dengan tarif murah, mengurangi ketergantungan pada SPKLU.
Kontra:
  • Biaya investasi awal (pembelian mobil + wall charger) lebih tinggi dibandingkan mobil bensin sekelas; payback period bisa mencapai 3–5 tahun tergantung intensitas pemakaian.
  • Kinerja konsumsi BBM riil sering kali meleset dari klaim, terutama jika baterai tidak terisi penuh atau digunakan di medan berat.
  • Infrastruktur pengisian daya di perumahan padat dan apartemen belum merata, menambah potensi biaya tersembunyi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User