Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah jeda lebih dari enam bulan konflik berakhir. Menteri Luar Negeri Iran menuduh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berhasil menipu Washington untuk berperang melawan Republik Islam. Serangan balasan yang dilancarkan oleh Iran terhadap pangkalan-pangkalan Amerika Serikat menjadi bukti nyata bahwa eskalasi konflik tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti dalam waktu dekat.
Kronologi Kembali Meledaknya Konflik AS-Iran
Setelah gencatan senjata yang dicapai pada April lalu sempat meredakan ketegangan, serangan-serangan sporadis terus terjadi di kawasan Selat Hormuz. Berikut adalah kronologi событий yang menunjukkan eskalasi terbaru:
- April 2024: Gencatan senjata dicapai, mengakhiri fase pertempuran intensif antara pasukan AS dan Iran.
- Mei-Juni 2024: Serangan sporadis terus terjadi di sekitar Selat Hormuz meskipun gencatan senjata berlaku.
- Juli 2024: Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap beberapa situs di wilayah Iran.
- Respons Iran: Tehran segera membalas dengan serangan balasan terhadap instalasi Amerika di kawasan Teluk.
- Akhir Juli 2024: Iran menutup Selat Hormuz, menyebabkan tekanan besar terhadap pasar minyak global.
Iran Tuding Netanyahu Pancingi Perang
Dalam pernyataan resmi yang disiarkan oleh kantor berita IRNA, Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amirabdollahian menuduh Benjamin Netanyahu telah berhasil memanipulasi pemerintahan Donald Trump untuk terlibat dalam konflik bersenjata dengan Tehran.
"Netanyahu telah menipu Amerika Serikat ke dalam perang yang tidak mereka butuhkan. Konflik ini tidak akan membawa manfaat bagi siapa pun kecuali kepentingan politik Netanyahu yang sedang menghadapi tekanan hukum di negaranya sendiri," tegas Amirabdollahian dalam konferensi pers di Tehran, Minggu (28/7/2024).
Tuduhan ini muncul setelah beberapa laporan intelijen menyebutkan bahwa Israel memberikan informasi yang salah kepada Washington mengenai program nuklir Iran, yang kemudian dijadikan dasar bagi serangan AS terhadap fasilitas-fasilitas Tehran.
Dampak Terhadap Pasar Minyak Global
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadi pukulan telak bagi pasar energi dunia. Selat yang menjadi jalur pengiriman minyak paling strategis di dunia ini mengalirkan sekitar 20-25 persen pasokan minyak global. Dengan penutupan ini, harga minyak mentah melonjak drastis dalam hitungan jam.
- Harga Minyak: Kenaikan hingga 15% dalam 48 jam pertama setelah penutupan Selat Hormuz.
- Pasokan Global: Sekitar 17-21 juta barel minyak per hari terhambat distribusinya.
- Dampak Ekonomi: Negara-negara importir minyak besar termasuk China, India, dan Jepang menghadapi krisis pasokan.
Tekanan Politik Domestik terhadap Trump
Escalasi konflik ini juga memberikan tekanan politik yang signifikan terhadap pemerintahan Donald Trump di dalam negeri. Kenaikan harga BBM nasional menjadi isu politik yang panas menjelang pemilihan umum. Jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa 58% electorate Amerika tidak mendukung kebijakan militer terhadap Iran yang berujung pada kenaikan harga energi.
Para kritikus di Kongres AS mempertanyakan legalitas serangan terhadap Iran tanpa persetujuan Congrés. Senator-senator dari Partai Demokrat menuntut transparansi penuh mengenai informasi intelijen yang digunakan sebagai dasar serangan.
Upaya Mediasi Internasional
Komunitas internasional bergerak cepat untuk meredakan ketegangan. Uni Eropa melalui Alto Perwakilan Luar Negeri mengeluarkan pernyataan yang meminta semua pihak untuk menahan diri. Sementara itu, Organisasi Bangsa-Bangsa Bangsa Persatuan (PBB) seringk panggilan darurat untuk membahas situasi di Dewan Keamanan.
Analis militer memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan di kawasan Teluk dapat menarik lebih banyak negara untuk terlibat. Washington telah meminta sekutu-sekutu di NATO untuk bersiaga, sementara Iran memperkuat kerja sama dengan Rusia dan Tiongkok sebagai upaya menghadapi tekanan internasional.
Dengan tidak adanya tanda-tanda de-escalasi, dunia menanti langkah diplomatik apa pun yang dapat mencegah konflik berskala lebih besar. Sementara itu, warga di kawasan Timur Tengah harus menghadapi kenyataan bahwa perdamaian masih menjadi sesuatu yang sulit untuk dicapai dalam waktu dekat.