Langkah radikal diambil oleh industri penyiaran arus utama Britania Raya. Empat raksasa media terkemuka—BBC, ITV, Channel 4, dan Channel 5—secara resmi mengumumkan kesepakatan bersama untuk menghentikan penggunaan akronim BAME (Black, Asian, and Minority Ethnic) dalam pemberitaan maupun komunikasi internal korporasi mereka. Istilah payung yang selama berdekade-dekade digunakan untuk mengelompokkan warga minoritas tersebut kini dinilai tidak lagi bernuansa, menggeneralisasi identitas yang kompleks, dan mengaburkan fakta atas ketimpangan yang dihadapi oleh masing-masing komunitas etnis.
Keputusan kolektif yang tergolong langka ini diambil setelah munculnya desakan kuat dari para pengamat media dan aktivis keragaman. Istilah tunggal dianggap gagal menggambarkan realitas sosial yang dihadapi individu berdasarkan latar belakang etnis spesifik mereka di Inggris.
Awal Mula Penggunaan Akronim dan Gelombang Kritik
Akronim BAME awalnya diciptakan untuk memudahkan pengelompokan statistik dan kebijakan publik terkait diferensiasi rasial. Namun dalam perkembangannya, penggunaan istilah ini dalam lanskap jurnalistik justru memicu polemik mendalam. Banyak peneliti mengkritik bahwa menggabungkan beragam kelompok etnis yang berbeda ke dalam satu label raksasa hanya menyederhanakan dinamika diskriminasi yang mereka alami.
Penggunaan istilah kolektif ini semakin intensif dan mencapai titik kritis sepanjang tahun 2020. Kala itu, dunia dihantam dua peristiwa besar: mencuatnya gerakan global Black Lives Matter dan merebaknya pandemi COVID-19. Berbagai riset kesehatan saat pandemi mengungkap bahwa dampak krisis kesehatan terhadap etnis tertentu sangat berbeda secara signifikan, sehingga pengelompokan yang terlalu umum justru menyulitkan pemetaan masalah yang akurat.
Kronologi Keputusan Konsensus Empat Raksasa Penyiaran
Proses perubahan kebijakan redaksional di media Inggris ini berlangsung melalui beberapa tahapan penting yang diuji secara akademis:
- Publikasi Laporan Independen: Lembaga riset media Sir Lenny Henry Centre for Media Diversity (LHC) melakukan kajian mendalam mengenai dampak penggunaan istilah BAME dalam industri media dan dampaknya terhadap persepsi publik.
- Rekomendasi Spesifisitas Narasi: Tim peneliti menyimpulkan bahwa media harus bergerak menuju istilah yang lebih spesifik demi menghargai keunikan pengalaman hidup setiap etnis minoritas.
- Pernyataan Bersama Industri: Empat penyiar publik dan komersial utama menggelar konsensus bersama untuk menindaklanjuti rekomendasi LHC secara serentak.
"Pergerakan menuju spesifisitas, dan menjauh dari istilah yang serba mencakup (catch-all term), membuka jalan bagi pengakuan yang lebih besar atas pengalaman unik orang-orang dari latar belakang etnis yang berbeda, serta memberikan wawasan tentang masalah yang dihadapi kelompok tertentu," tulis pernyataan resmi bersama dari para penyiar tersebut.
Laporan Sir Lenny Henry Centre Jadi Pemicu Utama
Hasil investigasi yang dirilis oleh Sir Lenny Henry Centre for Media Diversity (LHC) menegaskan bahwa penyamarataan etnis di bawah bendera BAME menyulitkan publikasi berita yang adil. Laporan tersebut menyoroti bagaimana istilah tersebut sering kali digunakan sebagai alat pemenuhan kuota formalitas keberagaman tanpa memahami kebutuhan riil di lapangan.
Kajian tersebut juga menekankan bahwa ketimpangan kesehatan, ekonomi, dan perlakuan hukum antara warga keturunan Afro-Karibia, Asia Selatan, maupun etnis minoritas lainnya memiliki akar historis dan bentuk yang berbeda. Menggeneralisasi mereka dalam satu akronim justru dinilai menutup mata publik dari persoalan ketidakadilan yang sebenarnya.
Implikasi Bagi Standar Jurnalistik dan Industri Kreatif
Dengan berlakunya aturan baru ini, para jurnalis dan produser program di BBC, ITV, Channel 4, dan Channel 5 kini diwajibkan untuk menyebutkan identitas etnis secara eksplisit dan rinci. Misalnya, menggunakan istilah seperti "British South Asian" atau "Black Caribbean" dibanding hanya sekadar menyebut BAME.
Langkah progresif ini diharapkan dapat menetapkan standar baru dalam etika jurnalistik internasional. Kebijakan ini menegaskan bahwa keadilan narasi berawal dari ketepatan berbahasa, dan pengakuan atas keberagaman tidak bisa dicapai melalui penyederhanaan istilah yang dangkal.
Comments (0)