Sep 09, 2026
Hukum

ITV Hapus Jajak Pendapat Usai 89 Persen Publik Tolak Vaksinasi Wajib

Sebuah jejak digital yang mendadak lenyap memicu gelombang kecaman publik terhadap integritas media arus utama di Inggris. Program berita pagi andalan salu

ITV Hapus Jajak Pendapat Usai 89 Persen Publik Tolak Vaksinasi Wajib

Sebuah jejak digital yang mendadak lenyap memicu gelombang kecaman publik terhadap integritas media arus utama di Inggris. Program berita pagi andalan saluran televisi ITV, Good Morning Britain (GMB), kedapatan menghapus jajak pendapat daring yang mereka gelar di media sosial Twitter setelah hasil pemungutan suara menunjukkan penolakan masif terhadap wacana kewajiban vaksinasi Covid-19.

Langkah kontroversial tersebut terungkap setelah puluhan ribu warganet menyadari bahwa unggahan survei publik itu tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan resmi dari pihak redaksi. Keputusan sepihak ini memicu tudingan serius bahwa media penyiaran tersebut berupaya menyembunyikan konsensus publik yang bertolak belakang dengan narasi pembatasan ketat pemerintah.

Hasil Telak yang Dilenyapkan dari Ruang Publik

Jajak pendapat tersebut awalnya diluncurkan sebagai respons atas kepanikan merebaknya varian baru Omicron. Redaksi GMB mengajukan pertanyaan sederhana kepada para pemirsa dan warganet: "Apakah sudah waktunya untuk mewajibkan vaksinasi?"

Dalam kurun waktu singkat, jajak pendapat tersebut meledak di lini masa dan berhasil menjaring lebih dari 42.000 suara. Namun, angka akhir yang terbentuk tampaknya tidak sesuai dengan ekspektasi narasi tertentu.

Pilihan Respon Persentase Suara Status Data
Menolak Vaksin Wajib (No) 89% Dihapus oleh admin
Mendukung Vaksin Wajib (Yes) 11% Dihapus oleh admin

Sebanyak 89 persen responden secara tegas menolak gagasan kewajiban vaksinasi, sementara hanya 11 persen yang menyatakan setuju. Bukannya membedah hasil tersebut secara analitis dalam siaran, pihak stasiun televisi justru memilih untuk menghapus unggahan survei itu dari peredaran digital.

Tuduhan Sensor dan Manipulasi Narasi Media

Langkah penghapusan tersebut langsung memicu reaksi keras. Tangkapan layar yang mengabadikan hasil akhir pemungutan suara beredar luas, memicu perdebatan sengit mengenai transparansi jurnalistik di era krisis kesehatan.

"Menyebarkan misinformasi, lalu menghapus polling ketika jelas-jelas publik menolak agenda tirani Anda. Pekan yang luar biasa bagi jurnalisme televisi," tulis salah satu kritikus vokal di media sosial yang mengunggah bukti tangkapan layar polling tersebut.

Sejumlah pengamat media dan aktivis kebebasan sipil menilai tindakan GMB mencerminkan fenomena agenda-setting yang bias. Ketika opini publik tidak sejalan dengan narasi pengetatan kebijakan yang kerap digaungkan di ruang siaran, saluran media cenderung meredam realitas tersebut alih-alih menjadikannya bahan evaluasi kritis.

Dilema Etika Jurnalistik di Tengah Pandemi

Insiden ini mempertegas jurang pemisah antara sentimen masyarakat akar rumput dan wacana yang dibangun di studio-studio penyiaran besar. Menghapus data opini publik bukan hanya mencoreng kredibilitas editorial, melainkan juga memicu kecurigaan bahwa ruang publik sedang diarahkan menuju konsensus palsu.

Hingga saat ini, pihak ITV maupun tim produksi Good Morning Britain belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai alasan teknis atau editorial di balik penghapusan jajak pendapat yang telah melibatkan puluhan ribu warga negara tersebut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User