Oct 10, 2026
Bisnis

INACRAFT 2026 Targetkan Transaksi Rp100 Miliar, Sektor Kriya Bergeliat

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per Oktober 2026, pameran kerajinan terbesar di Asia Tenggara, INACRAFT, kembali digelar di Jakarta International Convention Center (JICC) J...

INACRAFT 2026 Targetkan Transaksi Rp100 Miliar, Sektor Kriya Bergeliat

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per Oktober 2026, pameran kerajinan terbesar di Asia Tenggara, INACRAFT, kembali digelar di Jakarta International Convention Center (JICC) Jakarta. Ajang tahunan ini diikuti ratusan perajin lokal dari berbagai daerah dan menargetkan nilai transaksi mencapai Rp100 miliar, angka yang mencerminkan optimisme terhadap pemulihan daya beli masyarakat serta menguatnya permintaan pasar ekspor terhadap produk kriya Indonesia.

Pameran yang berlangsung sepanjang Oktober 2026 ini tidak sekadar menjadi etalase produk, tetapi juga menjadi barometer kesehatan industri kriya nasional yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi kreatif. Sektor ini tercatat menyumbang sekitar 15,7 persen terhadap total produk domestik bruto ekonomi kreatif pada 2025, dengan serapan tenaga kerja yang menembus angka 3,8 juta orang di seluruh Indonesia.

Pro: Inovasi Teknologi Dorong Nilai Tambah Kriya

Di satu sisi, penyelenggaraan INACRAFT 2026 menandai babak baru bagi perajin lokal yang mulai mengadopsi teknologi digital dalam proses produksi dan pemasaran. Sejumlah peserta memanfaatkan teknologi seperti pencetakan tiga dimensi, pewarnaan berbasis komputer, hingga platform perdagangan elektronik lintas negara untuk menjangkau pembeli mancanegara. Langkah ini dinilai mampu menaikkan margin keuntungan per unit produk, karena kriya yang diproduksi secara presisi dan konsisten memiliki valuasi lebih tinggi di pasar global.

Dari sisi fundamental, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekspor kriya sebesar 8,2 persen year-on-year pada 2026. Proyeksi ini didukung oleh tren permintaan negara-negara tujuan utama seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Emirat Arab yang terus mengalami kenaikan terhadap produk berkelanjutan berbahan baku alami. Sentimen pasar pun terlihat positif, tercermin dari meningkatnya jumlah pembeli institusional yang melakukan kontrak jangka panjang dengan perajin lokal.

"Kriya Indonesia memiliki keunggulan kompetitif berupa kearifan lokal yang tidak bisa ditiru mesin. Teknologi hanya alat, bukan pengganti identitas budaya," ujar seorang pengamat ekonomi kreatif dalam sebuah forum diskusi industri.

Selain itu, kehadiran pameran berskala internasional ini memberikan efek berganda bagi sektor penunjang, mulai dari perhotelan, transportasi, hingga usaha mikro di sekitar lokasi acara. Likuiditas pelaku usaha kriya pun berpotensi membaik ketika transaksi langsung terjadi di lokasi, memangkas rantai distribusi yang selama ini menekan harga jual di tingkat perajin.

Kontra: Ketimpangan Akses dan Ketergantungan Pasar

Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa capaian transaksi pameran tidak otomatis mencerminkan pemerataan kesejahteraan perajin. Struktur industri kriya nasional masih didominasi pelaku usaha skala mikro dengan kapasitas produksi terbatas. Dari ratusan peserta, hanya sebagian kecil yang mampu memenuhi standar kualitas dan volume pesanan ekspor secara konsisten. Kesenjangan akses terhadap pembiayaan, pelatihan digital, dan sertifikasi produk masih menjadi hambatan struktural yang belum terselesaikan.

Risiko lain adalah ketergantungan pada pasar luar negeri. Ketika terjadi perlambatan ekonomi global atau gejolak kurs, sektor kriya rentan mengalami penurunan pesanan secara mendadak. Capital outflow dari pasar negara berkembang dapat melemahkan nilai tukar rupiah, yang pada akhirnya menaikkan biaya impor bahan baku dan menekan margin perajin. Fluktuasi ini memerlukan strategi lindung nilai serta diversifikasi pasar domestik yang lebih agresif.

"Target Rp100 miliar itu bagus sebagai indikator sentimen, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana angka itu terdistribusi secara merata ke perajin di daerah, bukan hanya ke segelintir pemain besar," ujar seorang analis industri.

Proyeksi dan Tantangan Fundamental

Ke depan, keberlanjutan momentum INACRAFT akan sangat bergantung pada kemampuan seluruh pemangku kepentingan menjaga kualitas produk, memperkuat ekosistem digital, dan membuka akses pembiayaan yang inklusif. Rasio ekspor terhadap total produksi kriya nasional perlu dinaikkan secara bertahap sembari membangun pasar dalam negeri yang lebih resilien terhadap guncangan eksternal.

Indeks kepercayaan pelaku usaha kriya pada semester kedua 2026 tercatat berada di zona ekspansif, namun masih di bawah level pra-pandemi. Artinya, pemulihan berjalan, tetapi belum sepenuhnya kokoh. Portofolio produk yang terdiversifikasi, mulai dari tekstil, aksesori, hingga dekorasi interior, menjadi kunci untuk menjaga stabilitas permintaan di tengah ketidakpastian global.

Dengan demikian, INACRAFT 2026 bukan sekadar perayaan visual budaya, melainkan cermin dinamika ekonomi kreatif Indonesia yang berada di persimpangan antara peluang ekspansi dan tantangan struktural. Data transaksi akan menjadi ukuran awal, tetapi dampak jangka panjangnya terhadap kesejahteraan perajin dan daya saing nasional yang akan menentukan apakah tren positif ini berlanjut atau sekadar sentimen musiman.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User