IHSG Reli di Akhir Pekan, Rupiah Menguat ke Rp 17.800 per Dolar

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) dan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dirilis Bank Indonesia per penutupan perdagangan akhir pekan, Indeks Harga Saham Gabunga...

Aug 12, 2026 - 03:20
0 0
IHSG Reli di Akhir Pekan, Rupiah Menguat ke Rp 17.800 per Dolar

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) dan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dirilis Bank Indonesia per penutupan perdagangan akhir pekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,24 persen ke level 8.014,62. Pada saat yang sama, rupiah mengalami kenaikan ke kisaran Rp 17.840 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat sekitar 0,34 persen dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang berada di atas Rp 17.900. Penguatan ganda di pasar saham dan pasar valuta asing ini menjadi penutup pekan yang positif setelah pasar sempat dilanda ketidakpastian global.

Sepanjang pekan, IHSG sebenarnya bergerak volatil alias naik-turun tajam. Namun, aksi beli di pengujung sesi, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar, mendorong indeks melompat. Data bursa mencatat investor asing membukukan pembelian bersih (net buy) sekitar Rp 1,1 triliun di pasar reguler, dengan nilai transaksi harian menembus Rp 14,6 triliun.

Sektor Pendorong Reli dan Likuiditas Pasar

Reli akhir pekan ditopang oleh sektor perbankan, energi, dan teknologi. Saham bank-bank besar menguat rata-rata 1,5 hingga 2,3 persen seiring ekspektasi margin bunga yang stabil. Sektor energi terangkat harga minyak mentah dunia yang bertengger di kisaran US$ 82 per barel, sementara saham teknologi mengikuti tren penguatan bursa regional Asia. Dari sisi likuiditas, yakni kemudahan dana berputar di pasar, frekuensi transaksi tercatat naik sekitar 8 persen dibanding rata-rata sepekan, menandakan minat pelaku pasar yang kembali meningkat.

Kenaikan indeks juga tidak lepas dari valuasi yang dianggap menarik. Rasio harga terhadap laba (price to earnings ratio/PER) IHSG saat ini berada di kisaran 14 kali, di bawah rata-rata lima tahun sekitar 16 kali. Bagi sebagian manajer investasi, selisih valuasi ini menjadi alasan untuk menambah porsi portofolio saham Indonesia, meski keputusan tersebut tetap bergantung pada profil risiko masing-masing.

Rupiah Menguat Tipis, Tren Pelemahan Belum Berbalik

Di pasar valas, rupiah menguat ke Rp 17.800-an per dolar AS setelah sempat menyentuh level terlemah Rp 17.950 pada pertengahan pekan. Penguatan ini ditopang langkah stabilisasi Bank Indonesia di pasar spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF), serta cadangan devisa yang terjaga di level US$ 152 miliar, setara pembiayaan sekitar 6,5 bulan impor. Dolar AS sendiri melemah terhadap sejumlah mata uang utama setelah data ketenagakerjaan Negeri Paman Sam yang lebih lemah dari perkiraan memicu ekspektasi penurunan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve.

Namun perlu dicatat, secara year-on-year rupiah masih mengalami penurunan sekitar 10 persen dibandingkan posisi setahun lalu yang berada di kisaran Rp 16.200-an. Artinya, penguatan akhir pekan ini lebih bersifat teknikal, yakni pantulan sesaat setelah pelemahan beruntun, ketimbang pembalikan tren. Defisit neraca transaksi berjalan yang diperkirakan mencapai 1,2 persen dari produk domestik bruto (PDB) juga masih menjadi beban struktural bagi mata uang garuda.

Di Satu Sisi Optimisme, di Sisi Lain Kehati-hatian

Di satu sisi, sejumlah analis menilai kombinasi penguatan IHSG dan rupiah mencerminkan fundamental ekonomi domestik yang relatif solid. Pertumbuhan ekonomi kuartal terakhir tercatat 5,1 persen year-on-year, inflasi terkendali di 2,8 persen, dan disiplin fiskal menjaga kepercayaan investor. Aliran modal asing yang kembali masuk ke pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN), dengan imbal hasil obligasi 10 tahun di kisaran 6,9 persen, menunjukkan aset Indonesia masih kompetitif di kawasan.

Di sisi lain, kalangan yang lebih berhati-hati mengingatkan bahwa penguatan satu hari tidak cukup untuk menyimpulkan perubahan tren. Risiko capital outflow, yaitu keluarnya dana asing secara cepat, masih membayangi mengingat ketidakpastian arah kebijakan moneter AS, ketegangan geopolitik, dan potensi kenaikan tarif perdagangan global. Level rupiah di atas Rp 17.800 secara historis juga masih tergolong lemah, sehingga beban perusahaan berutang dolar dan yang bergantung pada impor bahan baku belum sepenuhnya berkurang.

Penguatan rupiah dan reli IHSG di akhir pekan memang melegakan, tetapi pasar akan terus menguji konsistensinya pekan depan. Kuncinya ada pada data inflasi AS, arah suku bunga bank sentral, dan kemampuan Bank Indonesia menjaga stabilitas kurs tanpa menguras cadangan devisa, ujar seorang ekonom pasar modal di Jakarta.

Proyeksi dan Faktor yang Perlu Dicermati

Ke depan, sejumlah ekonom memproyeksikan rupiah bergerak di rentang Rp 17.700 hingga Rp 18.000 per dolar AS dalam jangka pendek, dengan bias pelemahan terbatas. Untuk IHSG, level psikologis 8.000 menjadi penopang (support), sementara penghalang berikutnya (resistance) berada di kisaran 8.100. Pelaku pasar kini menanti rilis data ekonomi domestik, termasuk neraca perdagangan dan indeks keyakinan konsumen, serta komunikasi pejabat The Fed yang berpotensi menggerakkan sentimen pasar global.

Pada akhirnya, pergerakan akhir pekan ini menunjukkan pasar yang responsif terhadap katalis positif, namun tetap rapuh terhadap kejutan eksternal. Satu hal yang patut dipahami pembaca: penguatan harian adalah kabar baik, tetapi pengambilan keputusan keuangan yang sehat selalu bertumpu pada tren jangka panjang dan data yang konsisten, bukan euforia sesaat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User