Hipertensi Bisa Picu Disabilitas Netra dan Demensia, Kata Dokter
JAKARTA — Hipertensi atau tekanan darah tinggi selama ini dikenal luas sebagai faktor risiko utama penyakit stroke dan serangan jantung. Namun, riset terba
JAKARTA — Hipertensi atau tekanan darah tinggi selama ini dikenal luas sebagai faktor risiko utama penyakit stroke dan serangan jantung. Namun, riset terbaru mengungkapkan bahwa "silent killer" ini juga memiliki dampak serius terhadap organ vital lain, termasuk mata dan otak, yang dapat berujung pada disabilitas netra permanen hingga demensia.
Dokter spesialis saraf sekaligus Ketua Indonesian Society of Hypertension (InaSH), Dr. Eka Harmeiwaty, Sp.S, menegaskan bahwa masyarakat perlu mewaspadai komplikasi hipertensi di luar stroke yang selama ini kurang mendapat perhatian publik.
"Hipertensi merusak pembuluh darah di seluruh tubuh, tidak hanya di otak. Retina mata memiliki pembuluh darah yang sangat halus dan sensitif terhadap lonjakan tekanan darah. Kerusakan di area ini dapat menyebabkan retinopati hipertensif yang berujung pada kebutaan,"
ujar Dr. Eka dalam temu media di Jakarta, Selasa (20/5/2026).
Bagaimana Hipertensi Merusak Mata?
Retinopati hipertensif terjadi ketika tekanan darah tinggi kronis menyebabkan penyempitan, kebocoran, hingga penyumbatan pembuluh darah di retina. Dalam jangka panjang, kondisi ini memicu pembengkakan saraf optik dan perdarahan mikro yang mengganggu fungsi penglihatan secara progresif.
Data dari Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) mencatat bahwa sekitar 15-20 persen penderita hipertensi kronis mengalami retinopati hipertensif dalam berbagai tingkatan. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi kebutaan ireversibel.
- Tahap awal: Penyempitan arteriol retina, sering tanpa gejala
- Tahap moderat: Perdarahan retina berbentuk flame-shaped, eksudat keras
- Tahap lanjut: Edema makula, ablasi retina eksudatif, kehilangan penglihatan permanen
Hubungan Hipertensi dan Demensia Vaskular
Selain mata, Dr. Eka menyoroti kaitan erat antara hipertensi jangka panjang dengan demensia vaskular—jenis demensia kedua tersering setelah Alzheimer. Hipertensi mempercepat aterosklerosis di pembuluh darah otak kecil, menyebabkan infark lakunar multipel yang secara kumulatif merusak fungsi kognitif.
"Kami melihat peningkatan signifikan kasus demensia vaskular pada pasien hipertensi yang tidak terkontrol selama lebih dari satu dekade. Kerusakan white matter otak akibat hipertensi kronis ini sering tidak terdeteksi sampai gejala kognitif muncul,"
lanjut Dr. Eka.
Studi kohort yang dipublikasikan di Lancet Neurology pada 2025 menunjukkan bahwa pengendalian tekanan darah sistolik di bawah 130 mmHg pada usia paruh baya dapat menurunkan risiko demensia hingga 35-40 persen di kemudian hari.
Deteksi Dini dan Pencegahan
InaSH merekomendasikan pemeriksaan tekanan darah rutin minimal sebulan sekali bagi individu berusia di atas 40 tahun, serta pemeriksaan funduskopi atau OCT retina setiap 6-12 bulan bagi pasien hipertensi untuk mendeteksi retinopati secara dini.
Langkah-langkah pencegahan yang direkomendasikan meliputi:
- Diet rendah garam (DASH diet) dengan asupan natrium maksimal 1.500 mg per hari
- Aktivitas aerobik minimal 150 menit per minggu
- Manajemen stres melalui teknik relaksasi dan tidur cukup 7-8 jam
- Kepatuhan pengobatan antihipertensi sesuai resep dokter
Dr. Eka menutup paparannya dengan mengingatkan bahwa hipertensi adalah penyakit kronis yang dapat dicegah dan dikendalikan. Kuncinya adalah kesadaran, deteksi dini, dan disiplin dalam menjalani terapi jangka panjang.
[SOCIAL_TWEET]: Hipertensi bukan cuma bikin stroke. Dokter saraf ungkap "silent killer" ini juga bisa sebabkan kebutaan dan demensia. Cek tensi rutin, jangan tunggu gejala! #Hipertensi #KesehatanOtak #CekTensi[SOCIAL_TG]: ❤️🩺 Hipertensi = silent killer. Dokter saraf Dr. Eka Harmeiwaty ungkap fakta mengejutkan: tekanan darah tinggi bisa sebabkan kebutaan dan demensia. Simak penjelasannya dan cara pencegahannya!
Comments (0)