Berdasarkan data pemantauan harga pangan nasional per kuartal terkini, harga telur ayam ras di tingkat peternak mengalami penurunan yang cukup dalam, sementara biaya pakan justru bergerak ke arah sebaliknya. Kondisi ini menciptakan tekanan ganda bagi pelaku usaha peternakan ayam petelur di berbagai sentra produksi, mulai dari Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Sulawesi Selatan. Sejumlah peternak melaporkan bahwa selisih antara harga jual dan biaya produksi kian menyempit, bahkan di beberapa daerah sudah menyentuh titik impas atau di bawahnya.
Fenomena ini menarik untuk dicermati karena terjadi di tengah narasi pemulihan ekonomi pascapandemi. Secara year-on-year, harga telur di tingkat konsumen memang sempat mencatatkan kenaikan pada periode tertentu, tetapi di tingkat peternak pergerakannya tidak sejalan. Inilah yang kemudian memunculkan pertanyaan soal struktur pasar dan distribusi margin di sepanjang rantai pasok, dari kandang hingga meja makan.
Di Satu Sisi: Tekanan Biaya dan Oversupply Lokal
Di satu sisi, penurunan harga telur di tingkat peternak tidak bisa dilepaskan dari kombinasi dua faktor utama, yakni lonjakan biaya input dan kelebihan pasokan (oversupply) di sejumlah wilayah. Pakan menyumbang porsi terbesar dalam struktur biaya produksi, berkisar antara 65 hingga 75 persen dari total biaya operasional. Komponen utama pakan seperti jagung, bungkil kedelai, dan tepung ikan mengalami kenaikan harga yang dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat serta gangguan pasokan global.
Ketika harga jagung naik, misalnya, dampaknya langsung terasa pada harga pakan jadi. Peternak yang sebelumnya membeli pakan pabrikan dengan harga tertentu kini harus merogoh kocek lebih dalam. Sementara itu, harga jual telur justru melemah karena pasokan yang melimpah. Siklus ini menciptakan apa yang dalam terminologi ekonomi disebut sebagai cost-price squeeze, yakni kondisi di mana biaya naik sementara pendapatan stagnan atau menurun.
Akibatnya, banyak peternak memilih mengurangi populasi ayam dengan menjual ayam afkir lebih awal atau membiarkan sebagian kandang kosong. Keputusan ini rasional secara bisnis jangka pendek, tetapi berpotensi menimbulkan efek bergulir terhadap pasokan nasional dalam beberapa bulan ke depan. Indeks kepercayaan pelaku usaha di sektor peternakan pun menunjukkan tren penurunan, mencerminkan sentimen pasar yang masih lesu.
Di Sisi Lain: Peluang Ekspor dan Stabilitasi Harga
Di sisi lain, situasi ini membuka ruang untuk melihat persoalan dari perspektif yang lebih luas. Beberapa pengamat menilai bahwa pelemahan harga di tingkat peternak sebenarnya membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisi di pasar ekspor telur, terutama ke negara-negara Asia Tenggara dan Timur Tengah yang permintaannya cukup tinggi. Dengan harga yang relatif rendah, produk telur Indonesia bisa lebih kompetitif di pasar global.
"Persoalan utama bukan semata harga yang turun, tetapi bagaimana menciptakan mekanisme penyerapan yang stabil, baik melalui industri pengolahan maupun pasar ekspor," ujar seorang ekonom pertanian dalam sebuah diskusi panel baru-baru ini.
Selain itu, pemerintah memiliki instrumen untuk melakukan stabilisasi harga, misalnya melalui operasi pasar, pengaturan tata niaga, atau insentif bagi industri pengolahan telur menjadi produk turunan seperti tepung telur dan telur pasteurisasi. Langkah ini dapat menyerap kelebihan pasokan sekaligus meningkatkan nilai tambah. Beberapa negara tetangga telah berhasil menerapkan model serupa, sehingga harga di tingkat peternak lebih stabil dan tidak terlalu fluktuatif.
Dari sisi likuiditas, peternak skala kecil hingga menengah masih menghadapi keterbatasan akses pembiayaan. Rasio kredit usaha rakyat untuk sektor peternakan tercatat belum optimal, padahal sektor ini menyerap banyak tenaga kerja. Tanpa dukungan pembiayaan yang memadai, kemampuan peternak untuk bertahan dan melakukan investasi jangka panjang, seperti pembangunan kandang berteknologi lebih baik atau integrasi pakan mandiri, akan terbatas.
Proyeksi dan Fundamental Pasar Telur
Ke depan, proyeksi harga telur akan sangat bergantung pada beberapa variabel kunci. Pertama, pergerakan harga pakan internasional yang dipengaruhi oleh produksi jagung dan kedelai di Amerika Serikat serta Brasil. Kedua, kebijakan moneter dan nilai tukar rupiah yang memengaruhi harga bahan baku impor. Ketiga, pola permintaan domestik yang biasanya meningkat pada momen hari besar keagamaan dan akhir tahun.
Secara fundamental, konsumsi telur per kapita Indonesia masih menunjukkan tren positif seiring meningkatnya kesadaran gizi masyarakat. Ini menjadi sinyal bahwa permintaan jangka panjang tetap solid. Namun, volatilitas jangka pendek tetap menjadi tantangan utama. Dalam konteks portofolio usaha tani, diversifikasi pendapatan dan efisiensi biaya menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan.
Prakiraan sejumlah lembaga riset menunjukkan bahwa harga telur berpotensi mulai stabil pada semester berikutnya, dengan catatan tidak ada guncangan besar pada sisi pasokan pakan. Namun, bila oversupply berlanjut tanpa intervensi yang terukur, tekanan terhadap peternak bisa berlangsung lebih lama. Capital outflow dari sektor-sektor padat modal juga dapat memperlambat pemulihan investasi di industri peternakan.
Pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar soal harga naik atau turun. Ini menyangkut keberlanjutan ekosistem pangan nasional yang melibatkan jutaan pelaku usaha kecil. Diperlukan pendekatan yang seimbang antara melindungi konsumen dari harga tinggi dan memastikan peternak mendapat imbal hasil yang wajar. Tanpa keseimbangan itu, fluktuasi harga akan terus berulang, dan kandang-kandang kosong akan menjadi penanda bisu dari persoalan yang belum tuntas.
Comments (0)