Berdasarkan data Kementerian Perdagangan per pekan ketiga tahun ini, harga telur ayam ras di tingkat peternak mengalami penurunan tajam hingga menyentuh kisaran Rp 18.000–Rp 20.000 per kilogram, jauh di bawah harga pokok produksi yang dihitung peternak berkisar Rp 23.000–Rp 24.000 per kilogram. Kesenjangan ini memicu gelombang protes dari kalangan peternak ayam petelur di sejumlah sentra produksi, mulai dari Blitar, Malang, hingga Jawa Barat, yang bahkan menyerahkan telur ke jalan sebagai simbol kerugian yang tak lagi tertanggung.
Dalam konteks ekonomi, harga pokok produksi adalah biaya total yang dikeluarkan peternak untuk menghasilkan satu kilogram telur, mencakup pakan, tenaga kerja, listrik, dan penyusutan kandang. Ketika harga jual berada di bawah angka tersebut, peternak mengalami apa yang disebut negative margin—setiap kilogram telur yang dijual justru menambah kerugian. Kondisi ini menjelaskan mengapa aksi demonstrasi dan pembuangan telur bukan sekadar unjuk rasa, melainkan sinyal distorsi pasar yang serius.
Di Satu Sisi: Tekanan Struktural dan Anjloknya Permintaan
Di satu sisi, penurunan harga telur dapat dipahami sebagai konsekuensi dari kelebihan pasokan (oversupply) yang bertemu dengan melemahnya daya beli masyarakat pasca-periode puncak konsumsi. Siklus peternakan ayam petelur memiliki jeda waktu antara keputusan penambahan populasi dan realisasi produksi. Ketika harga sempat tinggi pada periode sebelumnya, banyak peternak berbondong-bondong menambah populasi layer. Akibatnya, produksi telur nasional meningkat pesat, sementara permintaan tidak tumbuh secepat pasokan.
Bank Indonesia dalam laporan terbaru mencatat bahwa inflasi pangan bergejolak (volatile food) memang melandai, namun di balik angka itu terdapat tekanan deflasi pada komoditas tertentu seperti telur. Indeks Harga Konsumen (IHK) kelompok bahan makanan menunjukkan tren penurunan harga telur secara year-on-year. Bagi konsumen, ini kabar baik karena harga lebih terjangkau. Namun bagi peternak, ini adalah pukulan ganda: biaya pakan yang masih tinggi akibat fluktuasi harga jagung dan kedelai impor, sementara harga jual terus tertekan.
Faktor eksternal turut memperparah situasi. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS membuat harga bahan baku impor, termasuk soybean meal dan corn gluten feed, relatif mahal. Di sisi lain, capital outflow dari pasar keuangan domestik turut memperketat likuiditas di sektor riil, mempersulit peternak kecil mengakses modal kerja berbunga rendah.
Di Sisi Lain: Intervensi Pasar dan Proyeksi ke Depan
Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan menegaskan bahwa fluktuasi harga telur merupakan bagian dari dinamika pasar yang perlu dikelola dengan hati-hati. Sejumlah langkah telah disiapkan, antara lain penyerapan kelebihan pasokan oleh badan usaha milik negara, operasi pasar, serta koordinasi dengan asosiasi peternak untuk menyesuaikan populasi secara bertahap. Pendekatan ini bertujuan menghindari pemangkasan populasi besar-besaran yang justru bisa memicu lonjakan harga pada siklus berikutnya.
"Fluktuasi harga telur adalah persoalan struktural yang membutuhkan solusi menyeluruh, mulai dari tata niaga pakan hingga distribusi antarwilayah. Intervensi jangka pendek harus disertai perbaikan fundamental agar tidak menciptakan siklus masalah yang berulang," ujar seorang pejabat di lingkungan kementerian.
Dari kacamata analis, valuasi harga telur saat ini secara historis berada di level terendah dalam beberapa tahun terakhir. Proyeksi jangka pendek menunjukkan potensi pemulihan jika permintaan musiman meningkat, misalnya menjelang hari besar keagamaan. Namun pemulihan itu akan sangat bergantung pada kecepatan penyesuaian pasokan dan stabilitas harga pakan. Sentimen pasar masih rapuh karena peternak menahan penjualan atau justru memilih mengurangi populasi secara mandiri.
Fundamental yang Perlu Dibenahi
Persoalan ini menyingkap tiga hal fundamental. Pertama, struktur biaya produksi peternak rakyat masih sangat rentan terhadap gejolak harga pakan impor. Ketergantungan pada bahan baku impor membuat peternak tidak memiliki ruang manuver ketika rupiah melemah. Kedua, rantai distribusi yang panjang menyebabkan disparitas harga antara peternak dan konsumen tetap lebar. Ketiga, sistem informasi pasar yang belum terintegrasi membuat peternak kerap terlambat merespons sinyal permintaan.
Tanpa pembenahan di tiga area tersebut, siklus harga telur yang naik-turun tajam akan terus berulang. Peternak berada di posisi paling rentan karena mereka adalah pihak yang menanggung risiko produksi sekaligus risiko harga. Sementara konsumen juga dirugikan ketika harga melonjak akibat kelangkaan yang dipicu kepanikan pasar. Pada akhirnya, stabilitas harga telur bukan hanya soal pangan murah, melainkan soal keberlangsungan mata pencaharian ratusan ribu rumah tangga peternak dan ketahanan pangan nasional secara keseluruhan.
Comments (0)