Oct 10, 2026
Bisnis

Likuiditas Melimpah Tak Cukup, Rupiah Perlu Diarahkan ke Sektor Produktif

Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir kuartal terbaru, likuiditas perekonomian yang tercermin dalam uang beredar luas (M2) tumbuh sekitar 6,5 persen year-on-year, sementara pertumbuhan kredit perb...

Likuiditas Melimpah Tak Cukup, Rupiah Perlu Diarahkan ke Sektor Produktif

Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir kuartal terbaru, likuiditas perekonomian yang tercermin dalam uang beredar luas (M2) tumbuh sekitar 6,5 persen year-on-year, sementara pertumbuhan kredit perbankan bergerak di kisaran 9-10 persen year-on-year. Angka ini menunjukkan bahwa ruang likuiditas sebenarnya tersedia cukup melimpah. Namun, pertanyaan fundamentalnya bukan sekadar seberapa banyak uang beredar, melainkan ke mana aliran dana tersebut bermuara. Kementerian Keuangan menegaskan bahwa ketersediaan likuiditas di pasar saja belum cukup untuk menggerakkan roda perekonomian nasional.

Pernyataan ini menyentuh inti persoalan struktural ekonomi Indonesia: melimpahnya dana tidak otomatis menjelma menjadi aktivitas produksi riil. Uang yang menganggur di instrumen keuangan jangka pendek, misalnya, hanya berputar di lingkaran pasar uang tanpa menciptakan lapangan kerja atau nilai tambah. Dalam terminologi ekonomi, fenomena ini kerap disebut sebagai idle liquidity atau likuiditas yang tidak tersalurkan ke sektor produktif.

Mengapa Likuiditas Tak Otomatis Jadi Pertumbuhan

Secara teori moneter, penambahan uang beredar seharusnya mendorong konsumsi dan investasi. Namun dalam praktiknya, transmisi kebijakan moneter ke sektor riil kerap terhambat oleh beberapa faktor. Pertama, permintaan kredit dari dunia usaha belum pulih sepenuhnya, terutama di sektor manufaktur padat karya yang masih menghadapi tekanan permintaan eksternal. Kedua, perbankan cenderung lebih konservatif menyalurkan kredit ke sektor yang dianggap berisiko tinggi, sehingga dana lebih banyak mengalir ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan obligasi korporasi berperingkat tinggi.

Ketiga, sebagian dana berpotensi mengalir keluar sebagai capital outflow ketika imbal hasil aset domestik kurang kompetitif dibandingkan pasar global. Ketika sentimen pasar berbalik, misalnya akibat ketidakpastian kebijakan moneter negara maju, dana asing yang parkir di pasar keuangan domestik bisa cepat ditarik. Kondisi ini membuat nilai tukar rupiah rentan terhadap gejolak, meski likuiditas domestik melimpah.

"Likuiditas itu syarat perlu, bukan syarat cukup. Tanpa penyaluran ke sektor produktif, dana hanya menjadi angka di neraca, bukan penggerak ekonomi," demikian inti peringatan yang disampaikan kalangan pengambil kebijakan fiskal.

Dua Sisi Pandang: Pro dan Kontra

Di satu sisi, argumen bahwa likuiditas harus diarahkan ke sektor produktif memiliki dasar kuat. Sektor produktif seperti industri pengolahan, pertanian bernilai tambah, dan ekonomi hijau mampu menyerap tenaga kerja sekaligus meningkatkan nilai ekspor. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, kontribusi industri pengolahan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berkisar 18-19 persen, turun dibandingkan era 2000-an yang sempat menyentuh 27 persen. Revitalisasi sektor ini membutuhkan pendanaan jangka panjang, bukan sekadar likuiditas jangka pendek.

Selain itu, penyaluran dana ke sektor produktif akan memperkuat fundamental ekonomi terhadap guncangan eksternal. Ketika ekspor bernilai tambah meningkat, defisit transaksi berjalan bisa ditekan, sehingga tekanan terhadap rupiah berkurang. Rasio kecukupan modal perbankan yang saat ini berada di level tinggi, sekitar 25 persen, sebenarnya memberikan ruang besar untuk ekspansi kredit produktif tanpa mengorbankan stabilitas.

Di sisi lain, tidak semua pihak sepakat bahwa mendorong dana ke sektor produktif semudah membalikkan telapak tangan. Kalangan perbankan berargumen bahwa risiko kredit macet di sektor riil masih nyata, terutama bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sering terkendala agunan dan administrasi. Intermediasi yang dipaksakan tanpa manajemen risiko yang matang justru berpotensi menciptakan kredit bermasalah di kemudian hari.

Lebih jauh, sebagian analis menilai bahwa likuiditas yang parkir di pasar keuangan tidak sepenuhnya negatif. Dana tersebut membantu menjaga stabilitas pasar obligasi, menekan biaya bunga utang negara, dan menyediakan bantalan likuiditas bagi sistem keuangan. Dalam situasi ketidakpastian global, adanya likuiditas di pasar justru berfungsi sebagai peredam gejolak. Persoalannya adalah bagaimana menciptakan insentif agar dana itu bergerak dari instrumen pasif ke pembiayaan investasi riil.

Arah Kebijakan dan Proyeksi ke Depan

Untuk menjembatani dua perspektif tersebut, sejumlah langkah tengah ditempuh. Pemerintah mendorong penyaluran kredit usaha rakyat dan program pembiayaan berbasis sektor prioritas, sementara otoritas moneter menjaga likuiditas perbankan melalui operasi pasar terbuka. Insentif fiskal berupa keringanan pajak dan penjaminan kredit juga disiapkan agar risiko intermediasi tidak seluruhnya dibebankan ke perbankan.

Dari kacamata proyeksi, keberhasilan mengarahkan rupiah dan likuiditas ke sektor produktif akan tercermin pada beberapa indikator kunci: pertumbuhan kredit modal kerja yang melampaui kredit konsumsi, peningkatan kontribusi industri pengolahan terhadap PDB, serta surplus atau setidaknya perbaikan neraca perdagangan nonmigas. Sebaliknya, jika dana tetap berputar di pasar keuangan, pertumbuhan ekonomi berpotensi stagnan di kisaran 5 persen tanpa perbaikan kualitas.

Kesimpulannya, likuiditas melimpah adalah modal awal, tetapi bukan tujuan akhir. Fundamental ekonomi hanya akan menguat jika aliran dana bermuara pada aktivitas yang menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, dan ekspor berdaya saing. Di tengah sentimen pasar global yang fluktuatif, kemampuan mentransformasi likuiditas menjadi produksi riil akan menjadi penentu apakah tren pertumbuhan Indonesia berkelanjutan atau sekadar bertahan di permukaan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User