Harga Telur Anjlok, Peternak Buang Produksi ke Jalan

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan dan Badan Pusat Statistik per kuartal terakhir, harga telur ayam ras di tingkat peternak mengalami penurunan tajam hingga menyentuh kisaran Rp18.000–Rp20.000...

Oct 11, 2026 - 17:19
0 0
Harga Telur Anjlok, Peternak Buang Produksi ke Jalan

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan dan Badan Pusat Statistik per kuartal terakhir, harga telur ayam ras di tingkat peternak mengalami penurunan tajam hingga menyentuh kisaran Rp18.000–Rp20.000 per kilogram, jauh di bawah harga pokok produksi yang berada di level Rp24.000–Rp26.000 per kilogram. Kesenjangan ini memicu aksi protes sejumlah peternak ayam petelur yang membuang hasil produksi ke jalan sebagai bentuk simbolik kebangkrutan usaha. Fenomena ini menjadi sorotan karena telur merupakan salah satu komoditas pangan strategis yang berkontribusi signifikan terhadap inflasi pangan nasional.

Dalam konteks ekonomi, harga telur yang anjlok mencerminkan ketidakseimbangan antara sisi penawaran (supply) dan permintaan (demand). Penawaran yang melimpah akibat overproduksi bertemu dengan permintaan yang melemah pasca-periode hari besar keagamaan. Akibatnya, terjadi tekanan deflasi di tingkat produsen yang tidak dinikmati konsumen secara proporsional karena rantai distribusi yang panjang.

Anatomi Penurunan Harga di Tingkat Peternak

Mengutip penjelasan resmi Kementerian Perdagangan, penurunan harga telur di tingkat peternak dipicu oleh beberapa faktor simultan. Pertama, lonjakan populasi ayam petelur dalam dua tahun terakhir sebagai respons terhadap harga yang tinggi pada periode 2022–2023. Kedua, melemahnya daya beli masyarakat pasca-Lebaran yang secara musiman menurunkan konsumsi rumah tangga. Ketiga, masuknya pasokan dari daerah surplus ke daerah defisit tanpa penyesuaian biaya logistik yang memadai.

Angka inflasi pangan bergejolak (volatile food) per periode pembanding menunjukkan telur ayam ras tercatat mengalami penurunan harga year-on-year sebesar minus 8,4 persen. Ini kontras dengan tren lima tahun terakhir yang rata-rata tumbuh positif 4–6 persen per tahun. Kondisi ini menempatkan peternak skala kecil dalam posisi rentan karena struktur biaya mereka tidak fleksibel terhadap fluktuasi harga jual.

Di satu sisi, konsumen diuntungkan karena harga telur di pasar ritel menjadi lebih terjangkau. Indeks Harga Konsumen (IHK) kelompok makanan mencatat penurunan pada komponen protein hewani, yang secara teknis membantu menahan laju inflasi umum. Rumah tangga berpenghasilan rendah merasakan manfaat langsung dalam bentuk daya beli yang sedikit longgar.

Di sisi lain, tekanan terhadap peternak berpotensi menciptakan disinsentif produksi jangka panjang. Jika harga di bawah biaya produksi berlangsung lama, banyak peternak akan mengurangi populasi ayam atau keluar dari usaha. Dalam 6–9 bulan ke depan, hal ini dapat memicu kelangkaan pasokan dan lonjakan harga telur yang lebih tinggi dari sebelumnya — pola boom and bust yang klasik di sektor peternakan.

"Siklus harga komoditas peternakan sangat dipengaruhi oleh keputusan produksi yang tertunda. Ketika peternak rugi hari ini, mereka memotong populasi, dan efeknya baru terasa setahun kemudian dalam bentuk harga tinggi," ujar seorang pengamat ekonomi pertanian dalam sebuah diskusi panel.

Dampak terhadap Rantai Pasok dan Proyeksi ke Depan

Dari perspektif fundamental pasar, harga telur yang rendah seharusnya menjadi sinyal bagi pelaku usaha untuk melakukan konsolidasi. Namun, struktur industri telur nasional didominasi oleh peternak rakyat dengan skala kepemilikan di bawah 5.000 ekor, yang memiliki akses terbatas terhadap informasi pasar dan pembiayaan. Ketimpangan ini membuat mereka menjadi price taker tanpa daya tawar terhadap pedagang besar.

Rasio harga telur terhadap pakan (feed conversion ratio) saat ini berada di bawah ambang batas ideal 1,3, yang berarti setiap kilogram pakan yang dikonversi menjadi telur tidak menghasilkan nilai tambah yang layak. Kondisi ini diperparah oleh kenaikan harga jagung dan bungkil kedelai sebagai komponen utama pakan yang mencapai Rp7.500–Rp8.200 per kilogram.

Proyeksi jangka pendek menunjukkan harga telur berpotensi bertahan rendah hingga akhir siklus panen raya unggas. Namun, sentimen pasar dapat berubah cepat jika terjadi gangguan pasokan akibat wabah penyakit atau cuaca ekstrem. Pemerintah disebut tengah mengkaji opsi penyerapan kelebihan pasokan melalui operasi pasar terbatas dan insentif bagi peternak yang melakukan culling terencana.

Dari kacamata kebijakan, intervensi yang hanya berfokus pada harga akan menciptakan distorsi. Diperlukan pendekatan holistik mencakup perbaikan data populasi ternak, penguatan koperasi peternak, dan stabilisasi harga pakan. Tanpa itu, siklus protes peternak berpotensi berulang setiap tahun, menggerus likuiditas usaha kecil dan mengancam ketahanan pangan nasional.

Implikasi bagi Konsumen dan Stabilitas Pangan

Bagi konsumen, harga murah saat ini adalah berkah sementara. Namun, stabilitas pasokan jangka panjang lebih penting daripada harga rendah yang tidak berkelanjutan. Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa sektor pangan yang sehat memerlukan margin yang adil di seluruh rantai nilai, dari peternak hingga pedagang eceran.

Oleh karena itu, polemik harga telur ini bukan sekadar persoalan naik-turun angka di pasar. Ia mencerminkan persoalan struktural dalam tata kelola pangan yang menuntut perhatian serius. Tanpa koreksi kebijakan yang tepat, gelombang protes peternak dapat menjadi indikator awal dari gejolak yang lebih besar di sektor pertanian dan peternakan nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User