Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per kuartal IV 2023, kontribusi usaha mikro, kecil, dan menengah terhadap produk domestik bruto nasional mencapai 61,07 persen, atau setara dengan nilai nominal Rp9.580 triliun. Namun, dari total 65,5 juta unit usaha tersebut, hanya sekitar 15,7 persen yang mampu menembus pasar ekspor. Angka ini menunjukkan kesenjangan antara kapasitas produksi domestik dan akses ke pasar global—sebuah persoalan struktural yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi perekonomian Indonesia.
Di tengah tantangan itu, kisah Setiawati, perajin mutiara asal Lombok, Nusa Tenggara Barat, menjadi salah satu contoh bagaimana intervensi pelatihan bisa mengubah trajektori sebuah usaha. Setia Pearl, merek yang ia dirikan, awalnya hanya mengandalkan penjualan lokal dengan positioning sebagai oleh-oleh khas daerah. Kini, produknya telah menembus beberapa pasar mancanegara, meski skala ekspornya masih tergolong rintisan.
Fundamental Ekspor Mutiara dan Posisi Indonesia
Di satu sisi, mutiara merupakan komoditas dengan nilai tambah tinggi. Data International Trade Centre mencatat nilai ekspor mutiara dan batu permata dunia mencapai USD 28,4 miliar pada 2022. Indonesia sendiri baru menyumbang sekitar USD 42 juta atau kurang dari 0,2 persen pangsa pasar global—sebuah rasio yang sangat kecil jika dibandingkan dengan potensi laut Indonesia yang memiliki garis pantai 99.093 kilometer.
Artinya, ada ruang pertumbuhan yang besar. Tren permintaan mutiara budidaya, khususnya jenis South Sea Pearl yang banyak dihasilkan perairan Nusa Tenggara, mengalami kenaikan year-on-year di pasar Eropa dan Timur Tengah. Sentimen pasar terhadap produk ramah lingkungan dan bernilai etnis turut mengangkat valuasi produk kerajinan lokal di mata konsumen global.
Di sisi lain, pelaku usaha kecil menghadapi hambatan fundamental yang tidak sederhana: akses pembiayaan, sertifikasi kualitas, hingga kapasitas produksi yang belum konsisten. Rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan per Desember 2023 berada di kisaran 19 persen, jauh di bawah target pemerintah sebesar 30 persen. Likuiditas yang terbatas membuat ekspansi usaha sering kali bergantung pada program pendampingan, bukan pada mekanisme pasar yang murni.
"UMKM ekspor kita menghadapi tiga tembok: standarisasi mutu, logistik, dan pembiayaan. Pelatihan membantu dua yang pertama, tapi yang ketiga tetap butuh ekosistem keuangan yang inklusif," ujar seorang analis perdagangan internasional dalam sebuah diskusi panel di Jakarta.
Pro: Pelatihan Mendorong Kapasitas Ekspor
Pro dari model pendampingan seperti yang dijalani Setia Pearl adalah adanya transfer pengetahuan praktis: mulai dari prosedur kepabeanan, pengemasan standar ekspor, hingga literasi negosiasi dengan pembeli luar negeri. Pendekatan ini efektif untuk menekan biaya pembelajaran awal yang biasanya mahal bagi usaha mikro.
Selain itu, diversifikasi pasar mengurangi ketergantungan pada satu negara tujuan. Portofolio ekspor yang tersebar di beberapa negara memberikan ketahanan terhadap guncangan eksternal, misalnya volatilitas nilai tukar atau kebijakan proteksi dagang.
Kontra: Risiko Skala dan Keberlanjutan
Kontra atau tantangan yang tak kalah penting adalah soal skala. Ekspor rintisan sering kali berhenti di tahap pengiriman sampel atau pesanan kecil. Tanpa peningkatan kapasitas produksi dan manajemen rantai pasok, keberlanjutan ekspor sulit dipertahankan. Capital outflow kecil dari sisi nilai, tetapi tuntutan mutu konsisten tetap tinggi.
Ada pula risiko kebijakan eksternal. Ketidakpastian permintaan global dan perlambatan ekonomi Tiongkok serta Uni Eropa—dua pasar utama produk kerajinan—berpotensi menekan proyeksi ekspor tahun mendatang. Menurut proyeksi Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi global 2024 diperkirakan hanya 3,2 persen, lebih rendah dari rata-rata sepuluh tahun terakhir.
Dengan demikian, kisah Setia Pearl mencerminkan dua sisi mata uang yang sama. Di satu sisi, ia membuktikan bahwa produk lokal mampu bersaing di pasar global jika didukung pendampingan. Di sisi lain, keberhasilan ini belum tentu bisa direplikasi tanpa perbaikan struktural pada akses pembiayaan dan infrastruktur logistik. Tanpa itu, ekspor UMKM akan tetap menjadi cerita-cerita individual, bukan sebuah tren agregat yang menggerakkan fundamental ekonomi nasional.
Comments (0)