MotoGP Mandalika 2026 dan Kalkulasi Dampak Ekonomi NTB

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Bank Indonesia per kuartal IV 2024, sektor pariwisata menyumbang sekitar 4,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional, dengan Nu...

Oct 11, 2026 - 17:19
0 0
MotoGP Mandalika 2026 dan Kalkulasi Dampak Ekonomi NTB

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Bank Indonesia per kuartal IV 2024, sektor pariwisata menyumbang sekitar 4,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional, dengan Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi salah satu provinsi dengan pertumbuhan kunjungan wisatawan tertinggi, yakni 18,7 persen year-on-year pada 2023. Angka ini menjadi konteks penting ketika InJourney selaku holding BUMN aviasi dan pariwisata mendorong penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika sebagai katalis pertumbuhan ekonomi daerah. Langkah ini bukan sekadar perhelatan olahraga, melainkan bagian dari strategi pengembangan destinasi pariwisata terintegrasi yang menyentuh sektor akomodasi, transportasi, kuliner, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Pro: Efek Berganda dan Daya Ungkit Fiskal

Di satu sisi, penyelenggaraan MotoGP di Mandalika menawarkan efek berganda (multiplier effect) yang cukup signifikan. Mengacu pada studi dampak penyelenggaraan edisi sebelumnya, jumlah penonton yang hadir secara langsung menembus 100 ribu orang selama tiga hari rangkaian acara, dengan estimasi perputaran uang di sektor akomodasi dan konsumsi mencapai Rp1,5 triliun hingga Rp2 triliun. Tingkat hunian hotel (occupancy rate) di kawasan Kuta Mandalika dan Mataram dilaporkan mendekati 95 persen pada periode balapan, jauh di atas rata-rata harian yang berkisar 55–60 persen. Dari sisi ketenagakerjaan, ribuan tenaga kerja lokal terserap dalam event organisasi, keamanan, katering, dan transportasi.

"Event berskala internasional seperti MotoGP berfungsi sebagai katalis yang mempercepat pembangunan infrastruktur pendukung, mulai dari akses jalan, bandara, hingga jaringan digital. Dampaknya tidak berhenti pada tiga hari balapan, tetapi menciptakan fundamental ekonomi baru bagi daerah," ujar seorang ekonom pariwisata dalam sebuah forum diskusi industri.

Dari perspektif investasi, keberadaan sirkuit berstandar internasional meningkatkan valuasi kawasan sekitar dan menarik minat investor pada sektor properti dan hospitality. Proyeksi pemerintah daerah menyebutkan potensi tambahan penerimaan asli daerah (PAD) dari sektor pajak hotel, restoran, dan hiburan yang dapat mengalami kenaikan dua digit pada tahun penyelenggaraan.

Kontra: Beban Fiskal, Musiman, dan Kapasitas Infrastruktur

Di sisi lain, sejumlah kalangan mengingatkan bahwa dampak ekonomi event akbar bersifat musiman dan cenderung terpusat. Kritik utama menyoroti besarnya biaya penyelenggaraan (hosting fee) serta belanja infrastruktur yang harus ditanggung negara dan daerah. Rasio antara biaya yang dikeluarkan dan manfaat langsung yang diterima publik kerap menjadi perdebatan, terutama bila dibandingkan dengan kebutuhan pembangunan dasar seperti pendidikan dan kesehatan di NTB yang masih menghadapi tantangan indeks pembangunan manusia (IPM) di bawah rata-rata nasional.

Kekhawatiran lain adalah kapasitas infrastruktur. Lonjakan penumpang di Bandara Internasional Lombok serta kepadatan lalu lintas menuju kawasan Mandalika menjadi uji ketahanan (stress test) bagi layanan publik. Bila tidak diantisipasi, sentimen negatif wisatawan justru dapat menurunkan citra destinasi. Selain itu, pola konsumsi wisatawan event cenderung jangka pendek; tanpa strategi pasca-event yang kuat, kenaikan belanja dapat mengerucut kembali ke level normal dalam hitungan pekan, menciptakan apa yang disebut sebagai event bubble.

Aspek likuiditas pelaku usaha lokal juga menjadi catatan. UMKM sering kali tidak siap menangkap lonjakan permintaan karena keterbatasan modal kerja, akses pembiayaan, dan kapasitas produksi. Tanpa pendampingan, manfaat ekonomi bisa dinikmati pemain besar, sementara usaha kecil hanya menjadi penonton di rumah sendiri.

Sinergi sebagai Penentu Keberhasilan

Karena itu, kunci keberhasilan bukan terletak pada perhelatan itu sendiri, melainkan pada seberapa erat sinergi antar pemangku kepentingan. Diperlukan integrasi antara pemerintah pusat dan daerah, BUMN, pelaku industri, serta komunitas lokal dalam merancang program yang berkelanjutan. Skema seperti pengembangan paket wisata terpadu, sertifikasi tenaga kerja lokal, dan kemitraan pembiayaan UMKM akan menentukan apakah MotoGP menjadi katalis jangka panjang atau sekadar euforia sesaat.

Dari kacamata pasar, keberhasilan penyelenggaraan dapat memperkuat sentimen investor terhadap sektor pariwisata Indonesia, terutama bila indikator seperti jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan devisa sektor jasa mengalami tren kenaikan yang konsisten. Sebaliknya, bila eksekusi lapangan lemah, capital outflow dari sektor terkait bisa terjadi seiring pelaku pasar menilai proyek hanya sebagai belanja tanpa hasil.

Pada akhirnya, MotoGP Mandalika 2026 adalah cermin dari pilihan kebijakan: antara menjadikannya mesin pertumbuhan yang inklusif atau beban fiskal yang mahal. Data dan eksekusi di lapangan akan menjadi hakimnya, bukan sekadar gemuruh mesin di sirkuit.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User