Aug 28, 2026
Bisnis

Harga Emas Antam Turun Rp 27.000, Pasar Cerna Koreksi Global

Berdasarkan data Harga Acuan Emas Bank Indonesia dan pantauan harga jual logam mulia per Selasa (21/10), harga emas batangan Antam mengalami penurunan Rp 27.000 per gram dan kini berada di posisi Rp 2...

Harga Emas Antam Turun Rp 27.000, Pasar Cerna Koreksi Global

Berdasarkan data Harga Acuan Emas Bank Indonesia dan pantauan harga jual logam mulia per Selasa (21/10), harga emas batangan Antam mengalami penurunan Rp 27.000 per gram dan kini berada di posisi Rp 2.723.000 per gram. Penyesuaian ini terjadi setelah sebelumnya logam mulia tersebut menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa pada pekan lalu, seiring gejolak sentimen pasar global yang telah mendorong valuasi emas naik lebih dari 50 persen sejak awal tahun 2025.

Untuk pembaca awam, pergerakan harga emas domestik umumnya mengikuti dua variabel utama: harga emas dunia di bursa internasional dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Ketika indeks dolar menguat atau harga dunia terkoreksi, harga emas di dalam negeri cenderung ikut turun, dan sebaliknya. Bagi masyarakat yang menyimpan emas sebagai bagian portofolio jangka panjang, penurunan harian semacam ini umumnya tidak serta-merta mengubah nilai fundamental kepemilikannya.

Koreksi Setelah Rekor Tertinggi

Di satu sisi, penurunan hari ini dapat dibaca sebagai pengambilan untung (profit taking), yaitu aksi investor yang melepas sebagian aset setelah harganya naik tajam guna mengamankan keuntungan. Harga emas dunia sempat menembus rekor di atas US$4.300 per ounce — satu ounce setara 31,1 gram — sebelum mengalami koreksi. Setelah tren naik yang begitu curam sepanjang tahun, koreksi teknikal semacam ini lazim terjadi di pasar komoditas dan kerap memicu capital outflow jangka pendek dari instrumen berorientasi spekulasi.

Di sisi lain, sejumlah ekonom menilai fundamental emas sesungguhnya belum berubah. Bank-bank sentral dunia tercatat masih membeli emas dalam jumlah besar, lebih dari 1.000 ton per tahun dalam tiga tahun terakhir, sebagai upaya diversifikasi portofolio cadangan devisa dari aset berdenominasi dolar. Ekspektasi suku bunga acuan The Fed yang mulai diturunkan sejak September 2025 juga menekan imbal hasil obligasi, sehingga emas yang tidak memberikan kupon menjadi relatif lebih menarik di mata investor global.

Selama ekspektasi pelonggaran moneter global dan ketidakpastian geopolitik masih membayangi, tren jangka panjang emas cenderung bertahan positif meski terdapat koreksi jangka pendek, ujar seorang pengamat pasar komoditas.

Rincian Harga dan Buyback di Pasar Domestik

Mengikuti penyesuaian tersebut, harga emas Antam untuk berbagai ukuran turun serentak. Emas 0,5 gram kini dijual Rp 1.361.500, ukuran 1 gram Rp 2.723.000, ukuran 2 gram Rp 5.446.000, dan ukuran 5 gram tercatat Rp 13.615.000. Untuk ukuran 10 gram, harganya menjadi Rp 27.230.000, ukuran 25 gram Rp 68.075.000, dan emas 100 gram ditawarkan Rp 272.300.000. Adapun harga buyback — skema penjualan kembali emas kepada produsen — berada di kisaran Rp 2,6 juta per gram, lebih rendah sekitar Rp 100.000 dari harga jual karena memperhitungkan biaya pengolahan dan margin distributor.

Faktor nilai tukar turut berperan. Rupiah yang bergerak di kisaran Rp 16.500 hingga Rp 16.700 per dolar AS membuat emas impor relatif lebih mahal. Di satu sisi, kondisi ini menahan laju penurunan harga jual lokal ketika harga dunia terkoreksi. Di sisi lain, daya beli masyarakat terhadap logam mulia ikut tertekan, sehingga likuiditas pasar fisik berpotensi menipis dalam jangka pendek.

Proyeksi: Koreksi Sehat atau Awal Pembalikan Tren?

Proyeksi ke depan menawarkan dua skenario. Pro: apabila The Fed kembali menurunkan suku bunga dan sentimen geopolitik memburuk, permintaan aset lindung nilai dapat bangkit dan mendorong harga mencoba rekor baru. Kontra: apabila data ekonomi Amerika Serikat terbit lebih kuat dari perkiraan atau capital outflow dari pasar berkembang menekan rupiah, indeks dolar bisa menguat dan memperpanjang koreksi emas ke area psikologis berikutnya.

Dari sisi valuasi dan rasio risiko, sebagian analis menilai emas saat ini tidak lagi murah. Year-on-year, kenaikan harganya telah jauh melampaui laju inflasi, sehingga potensi konsolidasi dalam beberapa pekan ke depan tetap terbuka lebar. Bagi masyarakat, pemahaman bahwa harga emas bergerak dua arah — naik maupun turun — menjadi penting, sebagaimana karakteristik instrumen penyaluran kekayaan lainnya. Arah pergerakan berikutnya akan sangat bergantung pada rilis data ekonomi AS dan sikap bank-bank sentral dunia dalam pekan-pekan mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User