Berdasarkan data Bank Indonesia per Agustus 2026, suku bunga acuan atau BI Rate masih berada di level 4,75 persen, inflasi year-on-year terjaga di kisaran 2 persen — di tengah target pemerintah sebesar 2,5 persen dengan toleransi 1 persen — sementara cadangan devisa tercatat kuat di kisaran US$155 miliar. Rupiah diperdagangkan relatif stabil di sekitar Rp16.400 per dolar AS, dan indeks harga saham gabungan (IHSG) bertahan di zona 8.000-an. Pada lanskap makro yang relatif tenang itulah, DPR RI menggelar uji kecocokan dan kelayakan (fit and proper test) terhadap Aida S Budiman sebagai calon Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia pada Rabu (26/8/2026).
Fit and proper test adalah mekanisme penilaian integritas, kompetensi, dan rekam jejak calon pejabat pimpinan institusi keuangan sebelum dilantik. Dalam paparannya, Aida mengusung visi yang tergolong ambisius: menjadikan Bank Indonesia bank sentral terbaik di antara negara-negara berkembang. Pernyataan tersebut menarik perhatian karena bukan sekadar janji administratif, melainkan tolok ukur kompetitif yang pada akhirnya bisa diuji dengan data — mulai dari keberhasilan menahan inflasi, stabilitas nilai tukar, hingga kredibilitas kebijakan di mata pelaku pasar.
“Bank Indonesia harus hadir sebagai bank sentral terbaik di antara negara-negara berkembang — bukan sekadar mengikuti praktik terbaik, tetapi menjadi rujukan bagi negara lain,” kata Aida S Budiman di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Titik Berangkat: Fundamental Domestik yang Relatif Sehat
Ambisi tersebut tidak berangkat dari nol. Fundamental ekonomi domestik saat ini memang berada dalam kondisi yang memungkinkan. Inflasi yang mengalami penurunan dari puncaknya pada 2022-2023 kini konsisten di bawah 2,5 persen, jauh lebih rendah dibanding sejumlah negara berkembang yang masih bergulat dengan kenaikan harga dua digit. Neraca berjalan — rasio seluruh transaksi ekonomi Indonesia dengan dunia luar terhadap produk domestik bruto — juga diperkirakan hanya mencatat defisit tipis di kisaran 0,5-0,7 persen PDB, jauh lebih sehat dibanding defisit lebih dari 3 persen PDB pada 2013 ketika rupiah sempat tertekan tajam.
Perbandingan dengan bank sentral negara berkembang lain menunjukkan posisi Indonesia tidak buruk. Bank sentral India, misalnya, masih menetapkan koridor inflasi 4 persen dengan toleransi dua persen, sementara otoritas moneter Brazil terpaksa menahan suku bunga di kisaran dua digit untuk meredam inflasi. Dengan BI Rate 4,75 persen dan inflasi sekitar 2 persen, Indonesia sesungguhnya menikmati kombinasi suku bunga rendah dan harga yang stabil — kombinasi yang diinginkan hampir semua bank sentral di negara berkembang.
Visi Terbaik di Kelas Negara Berkembang: Ambisi dan Tolok Ukurnya
Pertanyaannya, apa arti konkret menjadi “terbaik”? Dalam kerangka analisis ekonomi, kinerja bank sentral lazim diukur dari setidaknya empat indikator: keberhasilan menahan inflasi dekat target, stabilitas nilai tukar yang mencerminkan valuasi wajar, kedalaman likuiditas pasar keuangan, serta kredibilitas yang tercermin dari sentimen pasar terhadap aset domestik — termasuk posisi portofolio investor asing di pasar surat berharga negara. Sampai saat ini, visi yang diusung Aida belum dirinci menjadi indikator terukur. Ketiadaan rincian itu wajar pada tahap uji kelayakan, tetapi akan menjadi ujian sesungguhnya begitu ia resmi menduduki jabatan tersebut.
Di Satu Sisi: Modal Pengalaman dan Momentum Kebijakan
Di satu sisi, pencalonan Aida membawa modal yang tidak dimiliki banyak kandidat: pengalaman panjang di Komisi XI DPR RI yang membidangi keuangan, perbankan, dan moneter. Dari kursi legislatif itu ia terbiasa membedah anggaran, mengawasi regulator sektor jasa keuangan, dan memahami dinamika koordinasi fiskal-moneter — area yang dalam beberapa tahun terakhir semakin menentukan, misalnya saat kebijakan bank sentral dan pemerintah harus seirama menjaga daya beli masyarakat. Momentum kebijakan juga berpihak: tren inflasi yang mengalami penurunan memberi ruang bagi bank sentral mempertahankan orientasi akomodatif tanpa mengorbankan kredibilitas.
Di Sisi Lain: Ujian Independensi dan Sentimen Pasar Global
Di sisi lain, latar belakang politisi menimbulkan pertanyaan klasik mengenai independensi bank sentral. Pasar global punya ingatan panjang: ketika kredibilitas kebijakan moneter diragukan, capital outflow — kondisi ketika dana asing menarik diri dari pasar berkembang — bisa terjadi dengan cepat, menekan rupiah dan memaksa kenaikan suku bunga yang menyakitkan. Tantangan eksternal juga tidak sederhana. Proyeksi arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat masih berubah-ubah, dan setiap pergeseran ekspektasinya berpotensi memicu gelombang perputaran portofolio global yang menguji likuiditas pasar domestik. Ditambah lagi, rekam jejak operasional Aida di dalam sistem bank sentral sendiri belum teruji, berbeda dengan tradisi kenaikan jenjang dari jajaran internal BI.
Proyeksi: Suksesi 2028 dan Ekspektasi Pasar
Posisi Deputi Senior Gubernur secara tradisi menjadi jalur suksesi kepemimpinan bank sentral, mengingat masa jabatan Gubernur Perry Warjiyo akan berakhir pada 2028. Artinya, keputusan DPR — yang akan menentukan lolos atau tidaknya Aida — bukan sekadar memilih pejabat nomor dua, melainkan menentukan calon pemimpin kebijakan moneter tiga tahun ke depan. Selama proses berlangsung, pasar kemungkinan besar mengadopsi sikap menunggu: valuasi aset domestik diperkirakan bergerak dalam kisaran, dengan sentimen pasar lebih banyak ditentukan data inflasi dan arah suku bunga global ketimbang dinamika politik di Senayan. Namun begitu nama calon resmi disahkan, pekerjaan rumah baru dimulai: mengubah satu kalimat visi menjadi deretan angka yang diakui dunia — inflasi rendah, nilai tukar stabil, dan kredibilitas yang membuat Indonesia disebut sebagai acuan, bukan pengikut.
Comments (0)