Aug 28, 2026
Bisnis

Destry Damayanti Resmi Pimpin Bank Indonesia Periode 2026-2031

Berdasarkan data Bank Indonesia hingga akhir 2025, inflasi nasional terjaga pada kisaran 2 persen year-on-year, masih berada di dalam sasaran 1,5 hingga 3,5 persen, sementara BI Rate mengalami penurun...

Destry Damayanti Resmi Pimpin Bank Indonesia Periode 2026-2031

Berdasarkan data Bank Indonesia hingga akhir 2025, inflasi nasional terjaga pada kisaran 2 persen year-on-year, masih berada di dalam sasaran 1,5 hingga 3,5 persen, sementara BI Rate mengalami penurunan bertahap dari level 6 persen pada awal tahun menjadi kisaran 4,75 hingga 5 persen. Dalam lanskap makro yang relatif kondusif itu, Komisi XI DPR RI yang membidangi keuangan dan perbankan menyetujui usulan Presiden Prabowo Subianto untuk menetapkan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026-2031. Keputusan ini menandai pergantian komando di bank sentral dari Perry Warjiyo, yang memimpin BI sejak 2018 dan kembali dipercaya untuk periode 2023-2028.

Proses Persetujuan di Ruang Parlemen

Sebelum disetujui, nama Destry melewati serangkaian uji kelayakan di Komisi XI. Anggota dewan menyoroti sejumlah isu krusial: arah kebijakan suku bunga ketika pertumbuhan ekonomi nasional bergerak di kisaran 4,7 hingga 5 persen, stabilitas nilai tukar rupiah yang sempat melemah menembus Rp16.800 per dolar AS pada April 2025, serta koordinasi kebijakan moneter dengan fiskal di tengah program prioritas pemerintah seperti makan bergizi gratis dan hilirisasi. Sentimen pasar pun turut dipantau ketat; pergerakan indeks serta posisi portofolio investor asing di pasar surat berharga negara menjadi bahan diskusi karena capital outflow sewaktu-waktu dapat menguji kredibilitas bank sentral baru. Pada akhirnya proses tersebut berlangsung tanpa hambatan berarti dan usulan presiden dinyatakan lolos untuk periode lima tahun ke depan.

Rekam Jejak Ekonom di Balik Nominasi

Destry Damayanti bukan figur baru dalam birokrasi moneter. Ia mengabdi di Bank Indonesia sejak 1990 dan menempati sejumlah posisi strategis, mulai dari Direktur Pengaturan Kebijakan Moneter pada 2013-2018 hingga Deputi Senior Gubernur yang dilantik pada 2018, kemudian dipilih kembali untuk periode 2023-2028. Doktor ekonomi moneter ini terlibat langsung dalam pengelolaan krisis 1998, penguatan kerangka sasaran inflasi, serta pengendalian inflasi inti yang kini menjadi rujukan standar kebijakan. Sebelum naik ke jajaran deputi, ia juga memimpin perumusan respons moneter ketika taper tantrum dan normalisasi suku bunga global menggoyang pasar berkembang. Pengalaman lebih dari tiga dekade tersebut dinilai banyak pihak sebagai fundamental yang kokoh untuk memimpin institusi penjaga likuiditas sistem keuangan nasional.

Tantangan Kebijakan Moneter 2026 dan Sesudahnya

Warisan kebijakan Perry Warjiyo tidak ringan untuk dilanjutkan. Selama kepemimpinannya, BI Rate mengalami kenaikan hingga 6,75 persen pada Oktober 2023 untuk membela rupiah, sebelum turun bertahap seiring meredanya tekanan global. Destry menghadapi agenda yang tidak kalah berat: menjaga valuasi rupiah tetap wajar di tengah ketidakpastian arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat, mengelola tren digitalisasi pembayaran termasuk penguatan rupiah digital, serta memastikan rasio kecukupan modal dan likuiditas perbankan tetap sehat ketika proyeksi ekonomi dunia masih dipagari risiko geopolitik. Koordinasi dengan pemerintah juga menjadi ujian, mengingat kebutuhan belanja fiskal yang besar kerap menuntut dukungan pembiayaan dari sisi moneter tanpa mengorbankan stabilitas harga.

Dua Sisi Pandang atas Pergantian Ini

Di satu sisi, pengangkatan Destry dinilai memberikan jaminan kontinuitas. Ia adalah wajah kedua dari kebijakan moneter selama delapan tahun terakhir, sehingga pelaku pasar tidak perlu menebak adanya pergeseran arah. Pro: transisi mulus, rekam jejak pengendalian inflasi yang teruji, serta pemahaman mendalam terhadap seluk-beluk internal bank sentral. Di sisi lain, muncul pertanyaan mengenai kebaruan. Kontra: kandidat dari dalam sistem berpotensi membawa status quo, padahal sejumlah ekonom menuntut evaluasi menyeluruh atas efektivitas suku bunga terhadap pertumbuhan kredit dan penyaluran pembiayaan ke sektor produktif. Sorotan juga tertuju pada independensi bank sentral, mengingat usulan datang dari presiden dan disetujui parlemen dalam waktu relatif singkat.

Bagaimanapun, kepastian kepemimpinan menghilangkan satu variabel ketidakpastian bagi pasar. Selama inflasi tetap terkendali, nilai tukar stabil, dan komunikasi kebijakan konsisten, pergantian di puncak Bank Indonesia berpeluang diterima sebagai agenda rutin ketatanegaraan, bukan guncangan. Sorotan kini beralih ke langkah pertama Destry begitu resmi menjabat: apakah tren pelonggaran suku bunga dilanjutkan, atau justru dijaga ketat untuk membela fundamental eksternal Indonesia di tengah arus dana global yang masih mudah berbalik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User