Sep 01, 2026
Hukum

Gus Lilur Kritik Hasil Muktamar ke-35 NU, Siap Tempuh Jalur Hukum

Jakarta — Kritik terhadap hasil Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama terus bermunculan. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah, Gus Lilur, melontarkan kritik tajam

Gus Lilur Kritik Hasil Muktamar ke-35 NU, Siap Tempuh Jalur Hukum

Jakarta — Kritik terhadap hasil Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama terus bermunculan. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah, Gus Lilur, melontarkan kritik tajam terhadap proses Pemilihan Umum (Pemilu) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang dianggapnya penuh manipulasi. Ia menyatakan bahwa perubahan mekanisme pemilu kepengurusan NU menjadi salah satu faktor utama yang memunculkan ketidakpuasan di kalangan kader dan warga NU.

Kronologi Persoalan Muktamar ke-35 NU

Gus Lilur mengungkapkan bahwa dirinya tidak terima dengan hasil Muktamar ke-35 NU yang berlangsung baru-baru ini. Dalam pernyataan resminya, ia menegaskan bahwa proses pemilihan yang terjadi tidak berjalan sesuai harapan. "Mereka bukan menang, tapi dimeinkan," tegas Gus Lilur dalam kesempatan jumpa pers di Jakarta, Minggu.

"Proses yang terjadi di Muktamar ke-35 NU tidak bisa disebut sebagai kemenangan yang bersih. Ada banyak kejanggalan yang kami temukan dalam mekanisme Pemilihan Umum kemarin," tutur Gus Lilur.

Lebih lanjut, Gus Lilur menjelaskan bahwa perubahan mekanisme pemilu kepengurusan NU menjadi sorotan utama. Perubahan yang dilakukan pada sistem voting dan penetapan calon dianggapnya tidak memberikan keadilan bagi seluruh kandidat yang mengikuti proses tersebut. Ia juga menyoroti adanya indikasi kecurangan yang terjadi selama proses pemungutan suara berlangsung.

Perubahan Mekanisme Pemilu yang Dipertanyakan

Salah satu poin utama yang dikritik Gus Lilur adalah perubahan mekanisme pemilu yang dilakukan menjelang Muktamar. Menurut pengamat organisasi NU, perubahan ini seharusnya mendapatkan perhatian lebih dari pihak-pihak terkait agar proses demokrasi di tubuh NU bisa berjalan dengan transparan dan akuntabel.

  • Perubahan sistem voting yang dianggap tidak transparan
  • Proses verifikasi calon yang dinilai tidak adil
  • Mekanisme penetapan hasil yang disebut penuh manipulasi
  • Keterlibatan pihak luar yang dianggap mempengaruhi hasil

Gus Lilur menegaskan bahwa ia memiliki bukti-bukti terkait adanya kecurangan dalam proses Muktamar tersebut. Meskipun demikian, ia menyatakan bahwa saat ini dirinya masih memprioritaskan upaya internal sebelum membawa masalah ini ke ranah hukum yang lebih luas.

Siap Tempuh Jalur Hukum Jika Diperlukan

Meskipun masih berharap masalah ini bisa diselesaikan secara internal di lingkungan NU, Gus Lilur tidak menutup kemungkinan untuk menempuh jalur hukum. Ia menegaskan bahwa jika upaya internal tidak membuahkan hasil yang diharapkan, maka dirinya siap membawa kasus ini ke ranah hukum yang lebih tinggi.

"Kami masih memberikan kesempatan untuk proses internal. Namun, jika tidak ada respons yang baik, kami tidak akan ragu untuk menempuh jalur hukum," tegas Gus Lilur. Pernyataan ini mendapat respons beragam dari berbagai kalangan, baik yang mendukung maupun yang menganggap langkah tersebut terlalu ekstrem.

Respons dari Kubu PBNU

Menanggapi kritik yang dilontarkan Gus Lilur, pihak PBNU melalui juru bicaranya menyatakan bahwa proses Muktamar ke-35 NU telah berjalan sesuai anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi. Mereka membantah adanya manipulasi atau kecurangan dalam proses pemilihan yang telah dilakukan.

"Seluruh proses Muktamar telah kami jalankan sesuai mekanisme yang berlaku. Hasil yang dicapai adalah hasil dari voting yang sah dan transparan," tegas juru bicara PBNU.

Dampak bagi Konsolidasi NU ke Depan

Situasi ini tentu menjadi PR besar bagi Nahdlatul Ulama ke depan. Dengan adanya kritik yang begitu tajam dari Gus Lilur dan kelompok yang mendukungnya, soliditas organisasi bisa terganggu. Banyak pihak berharap agar masalah ini bisa diselesaikan dengan bijak tanpa menimbulkan perpecahan di kalangan warga NU.

Ke depan, diharapkan PBNU dapat membuka ruang dialog yang lebih luas dengan seluruh elemen NU untuk mendengarkan aspirasi dan masukan terkait proses organisasi ke depan. Transparansi dan akuntabilitas dalam setiap proses organisasi menjadi kunci utama untuk menjaga kepercayaan seluruh warga NU.

Prospek Penyelesaian Masalah

Saat ini, beberapa tokoh NU telah mencoba menengahi konflik yang muncul. Mereka berharap agar kedua belah pihak bisa duduk bersama untuk mencari solusi terbaik. Gus Lilur sendiri menyatakan terbuka untuk berdialog dengan pihak PBNU guna mencari jalan keluar yang terbaik bagi organisasi.

Namun demikian, jika negosiasi internal tidak membuahkan hasil, maka langkah hukum yang ditempuh Gus Lilur dan kelompoknya menjadi opsi yang realistis. Nasib Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia sangat bergantung pada bagaimana pemimpinnya mampu menangani konflik internal ini dengan bijak dan profesional.

Penutup

Situasi ini menjadi ujian tersendiri bagi Nahdlatul Ulama sebagai organisasi yang menaungi jutaan warga. Kritik Gus Lilur terhadap hasil Muktamar ke-35 NU menunjukkan bahwa proses demokrasi di tubuh organisasi Islam terbesar di Indonesia ini masih perlu diperbaiki. Semoga konflik ini bisa diselesaikan dengan bijaksana demi keutuhan dan keberlangsungan organisasi.