Sep 01, 2026
Bisnis

Pertumbuhan Kredit Perbankan Ungguli Penghimpunan DPK, Apa Implikasinya?

Berdasarkan data Bank Indonesia per kuartal III-2024, pertumbuhan kredit perbankan nasional tercatat mencapai 11,2% year-on-year, sementara dana pihak ketiga (DPK) hanya tumbuh 8,7% pada periode yang ...

Pertumbuhan Kredit Perbankan Ungguli Penghimpunan DPK, Apa Implikasinya?

Berdasarkan data Bank Indonesia per kuartal III-2024, pertumbuhan kredit perbankan nasional tercatat mencapai 11,2% year-on-year, sementara dana pihak ketiga (DPK) hanya tumbuh 8,7% pada periode yang sama. Ketimpangan pertumbuhan ini menjadi sorotan pelaku industri perbankan dan regulator dalam beberapa waktu terakhir.

Kesenjangan Kredit dan DPK

Secara historis, pertumbuhan kredit dan DPK seharusnya bergerak selaras dalam koridor ekonomi yang sehat. Namun, kondisi saat ini menunjukkan bahwa ekspansi kredit lebih cepat dibandingkan kemampuan bank dalam menghimpun dana murah dari masyarakat.

Situasi ini menciptakan tekanan pada rasio loan-to-deposit (LDR) perbankan nasional. Data OJK menunjukkan LDR sektor perbankan secara agregat sudah menembus 94,5% pada September 2024, mendekati batas maksimum 92%-110% yang ditetapkan regulator.

Pro: Ekspansi Kredit Tanda Ekonomi Bergerak

Di satu sisi, pertumbuhan kredit yang kencang menandakan menggeliatnya permintaan domestik. Sektor produktif mulai ramai diakses pengusaha untuk ekspansi usaha, sementara konsumsi rumah tangga juga menunjukkan tren kenaikan. Bank-bank besar seperti BRI, BCA, dan Mandiri mencatat pertumbuhan kredit korporasi yang solid, didorong oleh sektor manufaktur, perdagangan, dan infrastruktur.

Ekonomi Indonesia yang tumbuh 5,01% pada kuartal III-2024 secara year-on-year turut mendukung momentum ini. Rasio kredit bermasalah (NPL) terjaga di level 2,3%, menunjukkan kualitas aset masih terkendali meskipun ekspansi berjalan agresif.

Kontra: Tekanan Likuiditas Perlu Diwaspadai

Di sisi lain, pertumbuhan DPK yang lebih lambat menciptakan tantangan likuiditas bagi bank. Dana murah alias current account saving account (CASA) cenderung stagnan, membuat bank harus mengandalkan instrumen deposito yang biaya dananya lebih tinggi. Hal ini berpotensi menggerus margin bunga bersih (NIM) perbankan ke depan.

Kepala Eksekutif OJK dalam beberapa kesempatan mengingatkan bank untuk tidak terlalu agresif dalam ekspansi kredit tanpa diimbangi penghimpunan DPK yang memadai. "Likuiditas adalah fondasi operasional perbankan. Jika LDR terus naik, bank harus lebih selektif dalam menyalurkan kredit," tegas beliau dalam salah satu forum.

Proyeksi dan Strategi antecipatif

Analis memperkirakan ketimpangan ini akan berlanjut hingga paruh pertama 2025, didorong oleh siklus kebijakan moneter global yang mulai mengarah pada pelonggaran.净 capital outflow yang sebelumnya membebani likuiditas domestik diproyeksikan berbalik arah, membantu pemulihan DPK.

Beberapa bank telah mulai strategi antecipatif dengan meningkatkan suku bunga deposito untuk menarik dana masyarakat. others fokus padaefisiensi biaya operasional dan diversifikasi sumber pendanaan, termasuk melalui penerbitan surat utang.

"Keseimbangan antara pertumbuhan kredit dan penghimpunan DPK adalah kunci stabilitas sistem perbankan. Regulator perlu mengawal ini agar tidak menjadi sumber systemic risk," kata ekonom senior dari salah satu universitas terkemuka.

Bagi masyarakat, kondisi ini berarti peluang akses pembiayaan yang lebih mudah, namun dengan kemungkinan bunga yang kompetitif. Bagi investor, sektor perbankan tetap menarik dengan catatan memperhatikan fundamental likuiditas masing-masing bank.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User