Ria Norsan: Profil dan Kinerja Gubernur Kalimantan Barat

Ria Norsan: Profil dan Kinerja Gubernur Kalimantan Barat

Ria Norsan: Profil dan Kinerja Gubernur Kalimantan Barat

Profil Singkat

H. Ria Norsan, S.Sos., M.H., lahir di Kalimantan Barat pada 23 Desember 1959. Sebelum menjabat sebagai Gubernur, ia dikenal luas sebagai Bupati Mempawah selama dua periode (2009-2014 dan 2014-2019). Pada Pilkada Serentak 2024, Ria Norsan berpasangan dengan Krisantus Kurniawan dan memenangkan kontestasi dengan perolehan suara signifikan. Ia dilantik sebagai Gubernur Kalimantan Barat periode 2025-2030 oleh Presiden Prabowo Subianto pada Februari 2025.

Karier dan Riwayat Jabatan

Ria Norsan memulai karier birokrasi sebagai Pegawai Negeri Sipil sebelum terjun ke politik praktis. Jabatan strategis pertamanya adalah Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Pontianak. Ia kemudian terpilih sebagai Wakil Bupati Pontianak mendampingi Bupati Agus Salim. Puncak karier politiknya di tingkat kabupaten adalah memimpin Kabupaten Mempawah. Selama satu dekade memimpin Mempawah, ia membangun fondasi pembangunan daerah pesisir. Tak berhenti di situ, ia terpilih sebagai Wakil Gubernur Kalimantan Barat periode 2019-2024 mendampingi Gubernur Sutarmidji. Pengalaman sebagai "orang kedua" di provinsi ini menjadi batu loncatan penting menuju kursi Gubernur.

Kinerja dan Program Unggulan

Sebagai Gubernur definitif, Ria Norsan mengusung visi keberlanjutan dan akselerasi pembangunan. Ia menekankan pentingnya infrastruktur konektivitas, terutama pemeliharaan jalan provinsi dan pembangunan jembatan yang menghubungkan daerah terisolir. Dalam seratus hari pertama kepemimpinannya, Ria Norsan menginisiasi program "Kalbar Sehat" yang fokus pada penurunan angka stunting. Data tahun 2025 menunjukkan penurunan prevalensi stunting di Kalbar menjadi 21 persen, mendekati target nasional.

Ria Norsan juga berkomitmen memperkuat sektor pertanian dan perkebunan. Ia menggagas hilirisasi produk kelapa sawit dan karet agar warga Kalbar tidak hanya mengekspor bahan mentah. Program cetak sawah baru di Kabupaten Kubu Raya dan Sambas seluas 10.000 hektar pada tahun 2026 menjadi langkah ambisius mewujudkan ketahanan pangan Ibu Kota Nusantara. Di bidang tata kelola, ia mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian dari BPK RI yang telah diraih Kalbar selama empat tahun berturut-turut.

Tantangan dan Harapan

Warisan masalah yang dihadapi Ria Norsan tidak ringan. Ia harus menuntaskan pembangunan Bandara Internasional Singkawang dan memastikan jalan perbatasan tembus hingga Serawak. Isu tata ruang dan alih fungsi lahan gambut juga menjadi sorotan. Publik berharap ia mampu menekan angka kemiskinan di wilayah perbatasan yang masih tertinggal jauh. Masyarakat adat Dayak dan Melayu mendorong pengakuan hak ulayat yang lebih konkret melalui peraturan daerah.

Memasuki era Ibu Kota Nusantara, Ria Norsan memikul ekspektasi besar agar Kalimantan Barat menjadi provinsi penyangga pangan dan energi strategis. Keberpihakannya terhadap kearifan lokal dan investasi hijau akan diuji dalam dua tahun pertamanya. Konsolidasi birokrasi yang lamban akibat transisi dari rezim sebelumnya juga menjadi pekerjaan rumah yang harus segera ia selesaikan.

Pro dan Kontra

  • Pro: Pengalaman birokrasi dan politik di tiga level pemerintahan yang lengkap dan mumpuni memudahkannya beradaptasi dengan kompleksitas provinsi.
  • Pro: Keberhasilan menjaga stabilitas fiskal daerah serta mempertahankan opini WTP BPK menunjukkan kapasitas tata kelola anggaran yang baik.
  • Pro: Visi hilirisasi komoditas unggulan dinilai tepat sasaran untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah dan kesejahteraan petani lokal.
  • Kontra: Ketergantungan pada model pembangunan ekstraktif dikhawatirkan memperburuk deforestasi di kawasan jantung Borneo jika hilirisasi tidak diiringi pengawasan lingkungan ketat.
  • Kontra: Lambatnya penyelesaian proyek strategis seperti Bandara Singkawang yang diwarisi dari era sebelumnya menimbulkan pertanyaan soal ketegasan eksekusi.
  • Kontra: Isu krusial seperti pengakuan masyarakat hukum adat dan reforma agraria belum menjadi prioritas utama dalam narasi kebijakan awal pemerintahannya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User