Oct 13, 2026
Bisnis

Gorontalo Pertimbangkan Sistem Prasmanan dalam Program MBG

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo per 2024, angka partisipasi sekolah jenjang pendidikan dasar dan menengah di wilayah ini tergolong tinggi, di atas 95 persen untuk usia ...

Gorontalo Pertimbangkan Sistem Prasmanan dalam Program MBG

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo per 2024, angka partisipasi sekolah jenjang pendidikan dasar dan menengah di wilayah ini tergolong tinggi, di atas 95 persen untuk usia 7-15 tahun. Namun, tantangan gizi anak sekolah masih menjadi persoalan struktural. Proporsi balita dan anak dengan status gizi kurang di Gorontalo masih berada di kisaran dua digit, sementara prevalensi anemia pada remaja putri nasional menurut Riskesdas menyentuh 32 persen. Dalam konteks inilah program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi instrumen kebijakan yang strategis, dan Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie membuka opsi penerapan sistem prasmanan dalam pelaksanaannya di sekolah.

Konteks Ekonomi dan Fiskal Program MBG

Secara makro, program MBG merupakan bagian dari belanja sosial pemerintah yang dialokasikan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Nilai anggaran yang digelontorkan untuk program ini pada tahun anggaran berjalan mencapai puluhan triliun rupiah, dengan proyeksi menjangkau puluhan juta penerima manfaat di seluruh Indonesia. Angka ini signifikan karena setara dengan beberapa persen dari total belanja kementerian sosial. Bagi daerah dengan kapasitas fiskal terbatas seperti Gorontalo — yang berdasarkan data Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan memiliki rasio ketergantungan pada transfer pusat di atas 70 persen — implementasi program ini menjadi ujian koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah.

Mengalami kenaikan atau penurunan penyerapan anggaran di daerah sangat dipengaruhi oleh kesiapan kelembagaan, termasuk kesiapan dapur umum, rantai pasok bahan pangan lokal, serta kapasitas sekolah sebagai titik distribusi. Dalam bahasa ekonomi, ini adalah persoalan likuiditas operasional di tingkat satuan pendidikan: apakah dana tersedia tepat waktu dan apakah barang tersedia tepat jumlah.

Di Satu Sisi: Efisiensi dan Keadilan Porsi

Penerapan sistem prasmanan memiliki argumen ekonomi yang kuat. Pertama, prasmanan memungkinkan variasi porsi sesuai kebutuhan kalori individu siswa, sehingga mengurangi pemborosan pangan (food waste). Data global dari FAO menunjukkan sekitar sepertiga pangan yang diproduksi untuk konsumsi manusia terbuang atau hilang; mengurangi pemborosan di titik konsumsi sekolah berarti menghemat anggaran per kalori yang tersalurkan. Kedua, sistem ini berpotensi menurunkan biaya pengemasan karena tidak memerlukan wadah porsi individual dalam jumlah besar, yang selama ini menjadi komponen biaya non-pangan yang cukup besar.

Ketiga, dari perspektif kelembagaan, prasmanan mendorong kemitraan dengan UMKM katering lokal. Ini menciptakan efek berganda (multiplier effect) pada ekonomi daerah, terutama pada sektor makanan olahan dan pertanian hortikultura. Jika dikelola baik, setiap rupiah belanja program dapat berputar di ekonomi lokal sebelum keluar sebagai kebocoran impor.

Di Sisi Lain: Risiko Higiene dan Konsistensi Pasokan

Namun, prasmanan juga membawa risiko yang tidak bisa diabaikan. Pertama, standar higiene menjadi lebih sulit dikontrol karena makanan terpapar di ruang terbuka lebih lama. Dalam epidemiologi gizi, ini meningkatkan risiko kontaminasi bakteri seperti Salmonella dan E. coli, terutama bila rantai pendinginan tidak memadai. Biaya pengawasan mutu pangan justru dapat meningkat, sehingga penghematan pengemasan bisa tergerus oleh kebutuhan inspeksi dan pelatihan penjamah makanan.

Kedua, konsistensi pasokan menjadi taruhan. Prasmanan membutuhkan perencanaan jumlah porsi yang lebih presisi; jika kelebihan, terjadi pemborosan, jika kekurangan, siswa di barisan belakang tidak kebagian. Ini bukan sekadar masalah logistik, melainkan juga risiko reputasi bagi pemerintah daerah. Ketiga, dari sisi perilaku, sistem prasmanan bisa memperbesar ketimpangan asupan antar siswa jika tidak diatur mekanismenya, misalnya siswa yang datang lebih awal mengambil porsi lebih besar.

"Program makan bergizi bukan sekadar soal anggaran, tetapi soal tata kelola distribusi. Model prasmanan bisa efisien, tetapi hanya jika didukung standar higiene dan pengawasan yang ketat," catat sejumlah pengamat kebijakan pangan daerah, menggambarkan dilema klasik antara efisiensi dan kendali mutu.

Sentimen Pasar dan Proyeksi ke Depan

Dari kacamata pasar, sinyal kebijakan ini dapat memengaruhi sentimen sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di bidang katering dan distribusi pangan. Jika prasmanan diterapkan secara luas, permintaan jasa katering harian berskala sekolah berpotensi mengalami kenaikan. Namun, pelaku usaha juga menghadapi tantangan likuiditas karena siklus pembayaran pemerintah yang biasanya tidak instan, sementara mereka harus membiayai bahan baku setiap hari.

Oleh karena itu, proyeksi realistis adalah penerapan bertahap pada sekolah-sekolah dengan infrastruktur dapur dan ruang makan yang memadai, disertai uji coba di sejumlah titik. Indeks keberhasilan tidak cukup diukur dari jumlah porsi tersalurkan, tetapi juga dari indikator gizi (tinggi badan dan kadar hemoglobin siswa), tingkat pemborosan pangan, serta kepuasan penerima manfaat. Fundamentalnya, kebijakan ini harus berdiri di atas data, bukan sekadar preferensi model penyajian. Dengan begitu, program MBG di Gorontalo dapat menjadi contoh tata kelola gizi sekolah yang efisien sekaligus aman.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User