Oct 09, 2026
Bisnis

Giant Sea Wall Demak Dimulai dari Rehabilitasi Mangrove Pesisir

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per awal 2026, laju penurunan muka tanah di sebagian kawasan pesisir Demak, Jawa Tengah, ...

Giant Sea Wall Demak Dimulai dari Rehabilitasi Mangrove Pesisir

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per awal 2026, laju penurunan muka tanah di sebagian kawasan pesisir Demak, Jawa Tengah, tercatat mencapai kisaran 10-15 sentimeter per tahun. Angka itu jauh melampaui rata-rata kenaikan muka laut global yang berada di kisaran 3,4 milimeter per tahun. Kombinasi keduanya menciptakan apa yang dalam literatur ekonomi lingkungan disebut sebagai ancaman ganda terhadap aset produktif di kawasan pesisir, mulai dari tambak, permukiman, hingga infrastruktur jalan.

Pemerintah memilih jalur bertahap untuk menggarap proyek tanggul laut raksasa atau giant sea wall di kawasan tersebut. Alih-alih langsung melakukan konstruksi beton berskala besar, tahap awal diisi dengan program berbasis alam, yakni penanaman mangrove. Pendekatan ini secara ekonomi menarik karena biaya per hektarenya jauh lebih rendah dibandingkan pembangunan struktur keras, sekaligus menghasilkan jasa ekosistem yang bisa dihitung sebagai manfaat ekonomi.

Konteks Makro dan Nilai Ekonomi Kawasan Pesisir

Kawasan pesisir utara Jawa merupakan salah satu koridor ekonomi dengan kontribusi signifikan terhadap produk domestik bruto, khususnya dari sektor perikanan, tambak, dan industri pengolahan. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan secara year-on-year masih mencatat pertumbuhan positif di kisaran 2-3 persen dalam beberapa kuartal terakhir. Namun, pertumbuhan itu menyimpan kerentanan struktural: sebagian besar aktivitasnya terkonsentrasi di wilayah yang secara geologis mengalami penurunan tanah.

Dalam kalkulasi ekonomi, kerugian akibat banjir rob dan abrasi di pesisir utara Jawa diperkirakan menembus angka puluhan triliun rupiah per tahun, mencakup kerusakan aset, hilangnya jam kerja produktif, dan terganggunya rantai pasok logistik. Angka ini menjadi dasar mengapa proyek tanggul laut dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar belanja infrastruktur biasa.

Di Satu Sisi: Mangrove sebagai Instrumen Ekonomi Hijau

Penanaman mangrove di tahap awal memberi sejumlah keuntungan yang bisa diukur secara ekonomi. Pertama, mangrove berfungsi sebagai penahan gelombang alami sehingga mampu meredam energi air laut sebelum mencapai permukiman. Kedua, ekosistem ini menjadi nursery ground bagi berbagai spesies ikan dan udang, yang berdampak langsung pada peningkatan produktivitas tambak di sekitarnya.

Sejumlah studi internasional menunjukkan bahwa setiap hektare mangrove sehat dapat menghasilkan manfaat ekonomi dari perikanan tangkap dan penyerapan karbon yang nilainya berkisar USD 1.000-3.000 per tahun, tergantung lokasi dan metode valuasi. Bagi Indonesia yang memiliki garis pantai sekitar 99.000 kilometer, angka ini bukan hal kecil jika dikelola dalam skala luas.

Dari sisi pembiayaan, pendekatan berbasis alam juga membuka peluang pendanaan hijau, termasuk obligasi hijau dan skema kredit karbon. Ini penting mengingat ruang fiskal pemerintah untuk membiayai proyek tanggul raksasa secara penuh cukup terbatas. Rasio utang terhadap PDB yang berada di kisaran 39-40 persen menuntut kehati-hatian dalam memilih instrumen pembiayaan.

Di Sisi Lain: Keterbatasan dan Risiko yang Perlu Dicermati

Namun, pendekatan berbasis alam tidak bebas dari kritik. Mangrove tidak mampu menghentikan penurunan muka tanah yang disebabkan pengambilan air tanah berlebihan. Selama laju subsidensi masih berada di angka 10 sentimeter per tahun, penanaman mangrove hanya bersifat menunda, bukan menyelesaikan masalah. Artinya, kombinasi antara penataan tata ruang, pengendalian air tanah, dan infrastruktur keras tetap diperlukan.

Dari sisi ekonomi, tingkat keberhasilan rehabilitasi mangrove di Indonesia tercatat belum merata. Sebagian program penanaman sebelumnya dilaporkan memiliki tingkat kelangsungan hidup (survival rate) di bawah 50 persen dalam tiga tahun pertama. Ini menandakan bahwa aspek pemeliharaan dan keterlibatan masyarakat lokal menjadi penentu apakah nilai investasi benar-benar terealisasi.

"Tanpa pengelolaan yang konsisten, belanja rehabilitasi mangrove berisiko menjadi biaya yang tidak menghasilkan imbal hasil ekonomi maupun ekologis," demikian catatan yang sering muncul dalam diskusi kebijakan lingkungan di kalangan akademisi.

Selain itu, ada pula kekhawatiran soal sentimen pasar terhadap proyek infrastruktur besar. Ketidakpastian jadwal, potensi pembengkakan biaya, dan perizinan yang berlapis dapat menekan minat investor, terutama di tengah kondisi global yang masih dibayangi volatilitas dan risiko capital outflow dari pasar negara berkembang.

Proyeksi dan Implikasi ke Depan

Ke depan, keberhasilan proyek ini akan bergantung pada integrasi antara kebijakan tata ruang, pengendalian air tanah, dan pendanaan berkelanjutan. Jika tahap mangrove berjalan sesuai rencana, fundamental kawasan bisa membaik, valuasi aset properti di wilayah pesisir berpotensi stabil, dan risiko kerugian akibat banjir rob menurun.

Namun, jika hanya berhenti pada seremoni penanaman tanpa pemeliharaan, proyeksi manfaat ekonomi tersebut sulit terealisasi. Keseimbangan antara optimisme dan kehati-hatian menjadi kunci, karena keberlanjutan kawasan pesisir Demak tidak hanya soal membangun tanggul, tetapi juga soal menjaga likuiditas ekologis dan ekonomi secara bersamaan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User