Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per Oktober 2026, pameran kriya terbesar tahunan INACRAFT kembali digelar di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Ajang yang mempertemukan ratusan perajin lokal dari berbagai daerah ini menargetkan nilai transaksi mencapai Rp100 miliar selama periode pameran. Angka tersebut mengalami kenaikan dibandingkan capaian tahun sebelumnya, seiring menguatnya tren permintaan produk kriya berbasis teknologi dan kearifan lokal.
Pameran ini tidak sekadar menjadi etalase produk, melainkan juga menjadi barometer kesehatan industri kriya nasional yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Sektor ekonomi kreatif, khususnya kriya, tercatat menyumbang sekitar 15,7 persen terhadap total produk domestik bruto (PDB) ekonomi kreatif nasional pada 2025, dengan nilai ekspor yang terus menunjukkan tren positif year-on-year.
Fundamental Sektor Kriya dan Proyeksi Nilai Transaksi
Secara fundamental, industri kriya memiliki karakteristik padat karya yang membuatnya relatif tangguh terhadap gejolak eksternal. Di satu sisi, target transaksi Rp100 miliar mencerminkan optimisme pelaku usaha terhadap daya beli masyarakat kelas menengah yang mulai pulih pascapandemi. Indeks keyakinan konsumen yang dirilis Bank Indonesia pada kuartal III 2026 berada di level optimistis, yakni di atas 120, yang secara historis berkorelasi dengan kenaikan belanja produk sekunder seperti kriya dan dekorasi.
Di sisi lain, capaian target tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan struktural. Likuiditas perajin skala mikro dan kecil kerap menjadi kendala utama, terutama untuk memperluas kapasitas produksi dan mengadopsi teknologi tepat guna. Rasio kredit usaha mikro terhadap total kredit perbankan masih berada di kisaran 19 persen, sehingga akses pembiayaan menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya tuntas.
Inovasi Teknologi sebagai Katalis Pertumbuhan
Yang menarik dari penyelenggaraan tahun ini adalah penekanan pada inovasi kriya berbasis teknologi. Sejumlah peserta menampilkan produk yang menggabungkan teknik tradisional dengan peralatan produksi modern, mulai dari pemotongan laser, pewarnaan digital, hingga pemasaran berbasis platform e-commerce. Pendekatan ini dipandang mampu mempercepat waktu produksi sekaligus menjaga konsistensi kualitas, dua faktor yang selama ini menjadi kelemahan produk kriya lokal di pasar global.
"Transformasi digital bukan lagi pilihan, melainkan keharusan bagi perajin agar tetap kompetitif. Nilai tambah kriya tidak hanya dari keunikan desain, tetapi juga dari efisiensi rantai pasok," ujar seorang pengamat ekonomi kreatif dalam diskusi panel di sela pameran.
Dari perspektif valuasi pasar, produk kriya Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Pangsa pasar kriya nasional di pasar global diperkirakan baru mencapai 1,8 persen, jauh di bawah potensi mengingat kekayaan budaya yang dimiliki. Ini menandakan peluang ekspansi masih terbuka lebar, khususnya ke pasar Eropa dan Amerika Utara yang menghargai produk handmade dengan cerita budaya.
Sentimen Pasar dan Tantangan Capital Outflow
Meski sentimen pasar domestik relatif positif, pelaku usaha kriya perlu mencermati dinamika global. Tekanan capital outflow yang dialami sejumlah negara berkembang dapat memengaruhi nilai tukar rupiah, yang berimbas pada harga bahan baku impor seperti pewarna, benang, dan komponen mesin. Depresiasi rupiah sebesar 1 persen secara historis mendorong kenaikan biaya produksi perajin hingga 0,6 persen, sehingga margin keuntungan tergerus jika tidak diimbangi penyesuaian harga jual.
Namun, pelemahan kurs juga memiliki sisi positif. Produk kriya Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar ekspor, karena harga dalam dolar AS relatif lebih murah. Inilah yang membuat pameran seperti INACRAFT menjadi momen strategis untuk menghubungkan perajin dengan buyer internasional, sekaligus memperkuat portofolio ekspor nonmigas yang selama ini didominasi komoditas.
Ke depan, keberlanjutan sektor kriya akan sangat bergantung pada sinergi antara pembiayaan, teknologi, dan akses pasar. Pemerintah melalui berbagai program pendampingan diharapkan dapat memperkuat fundamental pelaku usaha mikro, sementara perajin dituntut adaptif terhadap perubahan selera pasar. Jika ekosistem ini terbangun, bukan tidak mungkin target Rp100 miliar hanya menjadi titik awal menuju kontribusi kriya yang lebih besar bagi perekonomian nasional.
Comments (0)