Oct 09, 2026
Bisnis

Pameran Perjalanan Pacu Konsumsi Wisata di Kuartal Akhir

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pariwisata per awal Oktober 2026, sektor pariwisata nasional mencatatkan kenaikan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sebesar 11,4 perse...

Pameran Perjalanan Pacu Konsumsi Wisata di Kuartal Akhir

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pariwisata per awal Oktober 2026, sektor pariwisata nasional mencatatkan kenaikan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sebesar 11,4 persen year-on-year dibandingkan periode yang sama pada 2025. Angka ini menjadi sinyal positif di tengah perlambatan kinerja ekspor dan tekanan nilai tukar yang masih membayangi perekonomian domestik. Industri perjalanan pun kembali menggelar pameran berskala besar di Jakarta sebagai katalis tambahan untuk mendorong konsumsi masyarakat menjelang tutup tahun.

Sektor Pariwisata sebagai Penopang Konsumsi Rumah Tangga

Konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 53,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Dalam kerangka itu, aktivitas perjalanan dan wisata menjadi salah satu komponen yang paling sensitif terhadap sentimen pasar maupun momentum musiman. Gelaran pameran perjalanan di Jakarta dinilai efektif mengerek belanja masyarakat, khususnya pada segmen perjalanan domestik, paket liburan, dan akomodasi.

Di satu sisi, penyelenggaraan pameran semacam ini memberi dorongan langsung terhadap permintaan agregat. Pemesanan tiket, pemesanan kamar hotel, hingga pembelian paket wisata cenderung melonjak selama periode promosi. Data internal pelaku industri menunjukkan kenaikan transaksi hingga 25 sampai 30 persen pada pekan pameran dibandingkan pekan biasa. Efek berganda ini menyentuh sektor transportasi, kuliner, hingga UMKM di destinasi wisata.

Di sisi lain, masih terdapat sejumlah tantangan fundamental. Rasio okupansi hotel di beberapa destinasi utama belum sepenuhnya pulih ke level pra-pandemi. Tingkat keterisian kamar di kawasan wisata prioritas rata-rata berada di kisaran 62 persen, masih di bawah capaian 2019 yang sempat menyentuh 71 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan sektor pariwisata belum merata dan bergantung pada momentum promosi tertentu.

Pro dan Kontra: Stimulus Momentum versus Ketahanan Permintaan

Pro: Pameran perjalanan berfungsi sebagai stimulus yang cepat meresap ke pasar. Periode akhir tahun secara historis merupakan puncak musim liburan, sehingga kampanye promosi memiliki multiplikasi yang tinggi. Pemerintah maupun pelaku usaha dapat memanfaatkan momen ini untuk mengoptimalkan penerimaan negara dari sektor pariwisata, termasuk pajak hotel dan restoran yang berkontribusi pada pendapatan daerah.

Kontra: Ketergantungan pada gelaran musiman berpotensi menciptakan pola konsumsi yang tidak berkelanjutan. Tanpa perbaikan infrastruktur, konektivitas antarpulau, dan kepastian harga tiket, lonjakan permintaan hanya bersifat sementara. Selain itu, daya beli sebagian masyarakat masih tertekan oleh inflasi pangan dan biaya transportasi, sehingga kelas menengah bawah cenderung menahan pengeluaran untuk wisata.

"Momentum akhir tahun memang penting, tetapi yang lebih krusial adalah menjaga konsistensi kunjungan sepanjang tahun. Tanpa itu, pertumbuhan sektor pariwisata akan sangat bergantung pada sentimen musiman semata," ujar seorang ekonom pariwisata dari sebuah lembaga riset independen.

Proyeksi dan Sentimen Pasar Menuju Tutup Tahun

Merujuk proyeksi Kementerian Pariwisata, jumlah pergerakan wisatawan nusantara pada 2026 diprediksi mencapai 1,2 miliar perjalanan, atau mengalami kenaikan sekitar 8 persen dibandingkan realisasi 2025. Sementara itu, devisa sektor pariwisata ditargetkan menembus USD 16 miliar, setara dengan pertumbuhan 10,7 persen year-on-year.

Dari sisi likuiditas, industri perjalanan masih menikmati ruang pertumbuhan seiring normalisasi mobilitas masyarakat. Namun, investor perlu mencermati potensi capital outflow yang dapat menekan nilai tukar dan pada akhirnya menaikkan biaya perjalanan ke luar negeri. Kondisi ini justru berpotensi mengalihkan preferensi ke destinasi domestik, yang secara fundamental menguntungkan neraca pariwisata nasional.

Secara keseluruhan, valuasi sektor pariwisata masih berada pada level yang wajar dengan rasio harga terhadap pendapatan yang relatif moderat. Tren jangka pendek akan sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar terhadap momentum liburan akhir tahun, sementara fundamental jangka panjang bergantung pada perbaikan ekosistem wisata yang menyeluruh, mulai dari aksesibilitas, kualitas layanan, hingga daya tarik destinasi yang berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User