Oct 09, 2026
Bisnis

Bank BUMN Genjot Ekonomi Kreatif Lewat Kemitraan Perbankan di IdeaFest 2026

Industri ekonomi kreatif Indonesia kembali menjadi sorotan setelah salah satu bank badan usaha milik negara (BUMN) resmi menempati posisi sebagai Official Banking Partner pada IdeaFest 2026. Langkah i...

Bank BUMN Genjot Ekonomi Kreatif Lewat Kemitraan Perbankan di IdeaFest 2026

Industri ekonomi kreatif Indonesia kembali menjadi sorotan setelah salah satu bank badan usaha milik negara (BUMN) resmi menempati posisi sebagai Official Banking Partner pada IdeaFest 2026. Langkah ini dipandang sebagai upaya memperkuat ekosistem transaksi digital sekaligus mendorong pertumbuhan sektor kreatif yang selama ini menjadi salah satu penopang konsumsi rumah tangga. Mengusung tema "Re:Humanize", penyelenggaraan tahun ini secara khusus menyoroti posisi manusia di tengah percepatan adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di berbagai lini industri.

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, kontribusi ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional berada di kisaran Rp1.300 triliun atau setara 7,4 persen dari total PDB pada periode pembanding 2023. Angka tersebut menempatkan subsektor kuliner, kriya, dan fesyen sebagai tiga penyumbang terbesar. Sementara itu, laporan Bank Indonesia mencatat nilai transaksi ekonomi digital nasional mengalami kenaikan year-on-year, dengan proyeksi menembus Rp5.000 triliun pada 2026, tumbuh sekitar 15 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya.

Dorongan Digitalisasi dan Literasi Transaksi Non-Tunai

Kehadiran perbankan dalam ajang tahunan industri kreatif bukan sekadar strategi pemasaran. Di satu sisi, kemitraan ini memberi ruang bagi pelaku usaha kreatif untuk mengakses layanan transaksi non-tunai, pembayaran digital, hingga pembiayaan modal kerja berbasis portofolio usaha. Likuiditas yang lebih terjaga memungkinkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kriya maupun kuliner memperluas jangkauan pasar tanpa terbentur keterbatasan alat pembayaran.

Di sisi lain, sejumlah pengamat menilai penetrasi layanan perbankan digital masih belum merata. Rasio inklusi keuangan nasional tercatat 75,02 persen pada survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terakhir, sementara rasio literasi keuangan baru menyentuh 65,43 persen. Artinya, masih ada celah signifikan antara ketersediaan layanan dan pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan. Tanpa pendampingan, digitalisasi berisiko hanya dinikmati segmen menengah ke atas di kota-kota besar.

Sentimen Pasar dan Fundamental Sektor Kreatif

Dari kacamata pasar modal, sentimen terhadap sektor perbankan digital relatif positif. Indeks saham perbankan mencatat penguatan bertahap sepanjang kuartal terakhir, sejalan dengan ekspektasi penurunan suku bunga acuan. Namun fundamental pelaku ekonomi kreatif kerap menjadi kendala tersendiri. Banyak usaha berbasis ide belum memiliki laporan keuangan tertata, sehingga valuasi usaha sulit diukur secara objektif ketika mengajukan kredit.

"Ekonomi kreatif tumbuh dari gagasan, tetapi keberlanjutannya bergantung pada tata kelola keuangan yang rapi. Perbankan berperan menjembatani dua hal itu," ujar seorang analis industri keuangan di Jakarta.

Perlu dicatat, proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini berada di rentang 4,8 hingga 5,2 persen. Sektor kreatif diperkirakan menyumbang sekitar 1,1 poin persentase terhadap angka tersebut, terutama melalui konsumsi domestik dan ekspor kriya. Risiko utama tetap datang dari capital outflow akibat ketidakpastian global yang dapat menekan nilai tukar dan menaikkan biaya impor bahan baku.

Pro dan Kontra Keterlibatan Perbankan di Ruang Kreatif

Pro: kemitraan ini memperluas akses pembiayaan, meningkatkan literasi keuangan, dan mempercepat adopsi pembayaran digital di kalangan pekerja kreatif. Bukti empiris menunjukkan setiap kenaikan 10 persen transaksi digital berkorelasi dengan pertumbuhan pendapatan UMKM sekitar 4 persen.

Kontra: sebagian pihak khawatir agenda komersial perbankan mendominasi ruang ekspresi kreatif. Ada pula kekhawatiran bahwa fokus pada teknologi AI "Re:Humanize" justru mengaburkan persoalan struktural, seperti perlindungan hak kekayaan intelektual dan ketimpangan pendapatan antarpekerja kreatif.

Terlepas dari perdebatan tersebut, arah kebijakan tampak jelas: sinergi antara lembaga keuangan dan industri kreatif akan terus didorong. Keberhasilan sesungguhnya tidak diukur dari besarnya nilai transaksi selama pameran, melainkan dari kemampuan ekosistem ini menjaga tren pertumbuhan setelah panggung ditutup.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User