Gedung Baru Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta Tuai Pro Kontra

Jakarta — Pembangunan gedung baru Fakultas Ushuluddin (FU) di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta memasuki tahap akhir da

Jul 08, 2026 - 17:57
0 0
Gedung Baru Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta Tuai Pro Kontra

Jakarta — Pembangunan gedung baru Fakultas Ushuluddin (FU) di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta memasuki tahap akhir dan direncanakan segera diresmikan pada awal tahun ajaran mendatang. Gedung berlantai empat ini didesain untuk memenuhi kebutuhan ruang perkuliahan yang terus meningkat seiring bertumbuhnya jumlah mahasiswa di fakultas yang mengkhususkan diri pada studi agama dan filsafat ini. Namun, megaproyek yang menelan anggaran puluhan miliar rupiah ini tidak lepas dari sorotan tajam, memantik perdebatan antara urgensi modernisasi sarana dengan kekhawatiran akan komersialisasi pendidikan tinggi agama.

Argumen Pihak Kampus: Modernisasi sebagai Keniscayaan

Pihak rektorat dan dekanat Fakultas Ushuluddin menegaskan bahwa pembangunan gedung ini merupakan respons terhadap keterbatasan kapasitas ruang kelas yang selama ini menjadi kendala utama proses belajar mengajar. Jumlah mahasiswa Fakultas Ushuluddin telah meningkat dua kali lipat dalam satu dekade terakhir, sementara gedung lama yang dibangun pada era 1980-an tidak lagi mampu menampung aktivitas akademik secara optimal.

“Gedung ini bukan sekadar penambah ruang. Kami merancangnya sebagai pusat studi Islam yang terintegrasi dengan peradaban modern. Ada laboratorium digital untuk riset manuskrip, ruang diskusi interdisipliner, dan perpustakaan yang lebih representatif,”

ujar seorang pejabat fakultas yang enggan disebut namanya karena belum mendapat izin resmi untuk berbicara kepada media. Ia menambahkan, desain gedung telah mengakomodasi prinsip ramah lingkungan dengan ventilasi alami dan panel surya parsial, sehingga biaya operasional jangka panjang dapat ditekan.

Para pendukung proyek dari kalangan dosen dan mahasiswa pun menyambut antusias. Mereka menilai bahwa citra fisik kampus turut memengaruhi semangat akademik dan daya saing lulusan di tengah persaingan global.

Suara Kritis: Anggaran Fantastis dan Hilangnya Ruang Hijau

Di sisi lain, sejumlah elemen menyuarakan keberatan yang tak kalah keras. Aliansi Mahasiswa Peduli Kampus (AMARA) mencatat, pembangunan ini menghabiskan area terbuka hijau seluas 0,9 hektare yang sebelumnya menjadi ruang interaksi dan diskusi informal mahasiswa. Mereka juga mempertanyakan prioritas anggaran di saat sebagian beasiswa dan dana riset justru mengalami pemangkasan.

“Kami tidak menolak perbaikan sarana. Tapi ketika gedung megah dibangun sementara laboratorium riset di fakultas lain masih kekurangan alat, atau mahasiswa kesulitan mengakses jurnal internasional berbayar, di situlah letak persoalannya,”

tegas seorang aktivis mahasiswa dalam aksi teatrikal di depan gedung dekanat pekan lalu.

Lembaga swadaya masyarakat pemerhati tata kota pun turut angkat bicara. Mereka menyoroti minimnya partisipasi publik dalam proses perencanaan dan potensi pelanggaran Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) DKI Jakarta yang membatasi koefisien dasar bangunan di kawasan pendidikan. Kekhawatiran lain adalah dampak jangka panjang terhadap resapan air di wilayah Ciputat yang sudah rawan banjir setiap musim hujan.

Titik Tengah dan Solusi Kompromis

Beberapa pengamat pendidikan menawarkan jalan tengah: gedung baru sebaiknya dioptimalkan sebagai aset multifungsi yang terbuka bagi publik, seperti perpustakaan yang bisa diakses masyarakat umum atau ruang seminar untuk kegiatan sosial. Dengan demikian, investasi besar ini memberikan dampak meluas, tidak sekadar menjadi menara gading eksklusif. Mereka juga mendorong audit transparansi anggaran dan pelibatan mahasiswa dalam pengelolaan fasilitas pasca-peresmian.

Berikut perbandingan dua perspektif utama yang mengemuka:

  • Pro: Gedung baru menjawab kebutuhan ruang perkuliahan yang mendesak, menyediakan sarana modern untuk riset dan studi Islam, serta meningkatkan daya saing akademik UIN Jakarta di level global.
  • Kontra: Proyek ini mengorbankan ruang hijau kampus, memunculkan pertanyaan tentang keadilan alokasi anggaran internal, serta minim transparansi dan partisipasi publik dalam perencanaannya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User