Folklor Kuntilanak di Mata Augusta de Wit dan Nilai Ekonominya

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per 2024, sektor ekonomi kreatif berkontribusi sekitar Rp1.300 triliun atau mendekati 8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesi...

Aug 07, 2026 - 17:24
0 0
Folklor Kuntilanak di Mata Augusta de Wit dan Nilai Ekonominya

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per 2024, sektor ekonomi kreatif berkontribusi sekitar Rp1.300 triliun atau mendekati 8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, dengan subsektor film dan konten budaya mencatatkan pertumbuhan signifikan secara year-on-year. Di tengah tren tersebut, kisah klasik kembali mencuat: pengalaman Augusta de Wit, penulis asal Belanda yang pernah bermukim di Jawa pada era kolonial, mengaku berjumpa dengan sosok kuntilanak. Reaksinya yang tidak terduga justru membuka diskusi menarik tentang bagaimana folklor Nusantara dipandang dari perspektif Barat, sekaligus bagaimana warisan budaya takbenda ini menyimpan potensi ekonomi yang selama ini kerap diabaikan.

Augusta de Wit dikenal sebagai salah satu penulis Belanda yang mendokumentasikan kehidupan dan kepercayaan masyarakat Jawa pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Dalam catatannya, ia menggambarkan pertemuan dengan sosok yang oleh masyarakat lokal disebut kuntilanak—hantu perempuan berambut panjang yang diyakini gentayangan. Alih-alih lari ketakutan, reaksinya tergolong tak biasa: ia justru mengamati, mencatat, dan berupaya memahami makna sosial di balik kepercayaan tersebut. Bagi de Wit, fenomena supranatural itu bukan sekadar cerita seram, melainkan cerminan struktur sosial dan psikologi kolektif masyarakat Jawa pada masanya.

Folklor sebagai Aset Ekonomi Kreatif

Di satu sisi, kisah seperti pengalaman de Wit menegaskan bahwa folklor Indonesia memiliki daya tarik lintas budaya yang kuat. Data industri film nasional menunjukkan genre horor berbasis mitologi lokal konsisten mendominasi box office. Film KKN di Desa Penari (2022), misalnya, meraup lebih dari 10 juta penonton, menjadikannya film terlaris sepanjang masa di Indonesia. Tren ini menunjukkan bahwa konten berbasis kepercayaan lokal memiliki valuasi komersial tinggi dan fundamental pasar yang solid. Dari sisi pariwisata, wisata bertema mistis—mulai dari tur lokasi angker hingga festival budaya—juga mengalami kenaikan peminat, menciptakan likuiditas ekonomi baru di daerah.

Sentimen pasar terhadap konten horor lokal bahkan menembus batas domestik. Sejumlah film horor Indonesia berhasil didistribusikan ke pasar Asia Tenggara dan platform streaming global, membuka aliran devisa dari sektor jasa kreatif. Rasio produksi terhadap imbal hasil di genre ini tergolong efisien: biaya produksi horor relatif lebih rendah dibanding genre aksi, namun margin keuntungannya kerap lebih tinggi.

Perspektif Kritis: Antara Komodifikasi dan Pelestarian

Di sisi lain, terdapat pandangan kontra yang patut dipertimbangkan. Sebagian budayawan mengingatkan bahwa komodifikasi berlebihan terhadap folklor berisiko mengikis makna aslinya. Kuntilanak, misalnya, dalam konteks aslinya bukan sekadar figur menakutkan, melainkan bagian dari sistem kepercayaan yang mengatur norma sosial masyarakat tradisional. Ketika dikemas semata untuk kepentingan komersial, kedalaman filosofisnya berpotensi hilang.

"Warisan budaya takbenda memang bisa menjadi mesin ekonomi, tetapi tanpa riset dan penghormatan terhadap konteks aslinya, yang terjadi bukan pelestarian melainkan reduksi budaya," ujar sejumlah pengamat kebudayaan dalam berbagai forum diskusi publik.

Pro: monetisasi folklor membuka lapangan kerja, memperkuat identitas nasional, dan mendongkrak portofolio ekspor kreatif. Kontra: tanpa tata kelola yang baik, eksploitasi cerita rakyat dapat memicu homogenisasi konten dan kehilangan nilai edukatif.

Proyeksi dan Tantangan ke Depan

Proyeksi ke depan, ekonomi berbasis budaya populer—termasuk folklor mistis—diperkirakan terus mengalami kenaikan seiring penetrasi platform digital yang mencapai lebih dari 185 juta pengguna internet di Indonesia. Namun, tantangan capital outflow tetap ada jika produksi konten lokal dikuasai modal asing tanpa transfer pengetahuan kepada pelaku kreatif domestik.

Kisah Augusta de Wit seabad silam pada akhirnya relevan hingga kini: folklor Nusantara selalu mampu memikat siapa pun, termasuk orang asing. Pertanyaannya bukan lagi apakah kuntilanak itu nyata, melainkan apakah Indonesia mampu mengelola kekayaan naratifnya menjadi fundamental ekonomi yang berkelanjutan—tanpa kehilangan ruh budayanya sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User