Emiten Legendaris RI Kini Kembang Kempis, Ada yang Bangkrut

Pasar modal Indonesia menyimpan banyak kisah tentang kejayaan yang berakhir senyap. Sepuluh emiten yang pernah digadang-gadang sebagai primadona bursa kini

Jul 09, 2026 - 21:13
0 0

Pasar modal Indonesia menyimpan banyak kisah tentang kejayaan yang berakhir senyap. Sepuluh emiten yang pernah digadang-gadang sebagai primadona bursa kini bernasib tragis—sebagian terkapar di papan pemantauan khusus, sebagian lagi sudah resmi delisting atau dinyatakan pailit oleh pengadilan. Perubahan pola konsumsi, kegagalan adaptasi digital, serta tata kelola korporasi yang buruk menjadi benang merah di balik keruntuhan nama-nama besar ini. Data terbaru menunjukkan kapitalisasi pasar kesepuluh emiten ini merosot drastis dari total puncak Rp 87 triliun pada periode 2010-2015 menjadi hanya Rp 3,2 triliun per penutupan kuartal ketiga 2024.

Kronologi Keruntuhan: Era 1990-an hingga Awal 2000-an

Kebangkrutan para emiten legendaris berlangsung dalam tiga fase gelombang besar. Fase pertama terjadi pasca-krisis moneter 1998, fase kedua pada periode transformasi digital 2010-2015, dan fase ketiga berlangsung selama tekanan pandemi 2020-2022. Berikut urutan kronologisnya berdasarkan tahun delisting atau saat finansial perusahaan mulai menunjukkan indikasi gagal bayar:

  1. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) — Pernah menjadi induk raksasa diversifikasi dengan valuasi mencapai Rp 78 triliun pada 2008. Krisis keuangan global dan akumulasi utang valas menyebabkan BNBR kesulitan membayar kewajiban obligasi senilai US$ 1,2 miliar kepada kreditur asing. Pada 2024, ekuitas perusahaan tercatat minus Rp 14,6 triliun.
  2. PT Nyonya Meneer — Perusahaan jamu legendaris berdiri sejak 1919 ini resmi dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Semarang pada 2017 setelah gagal membayar utang kepada karyawan dan pemasok sebesar Rp 534 miliar. Kasus ini menjadi simbol kegagalan pabrikan tradisional bertransisi ke industri 4.0.
  3. PT Zebra Nusantara Tbk (ZBRA) — Operator taksi yang berjaya era 1990-an ini delisting dari BEI pada 9 Oktober 2023 setelah suspensi selama 24 bulan. Jumlah armada anjlok dari 4.500 unit pada 2010 menjadi hanya 67 unit pada 2022 akibat tidak mampu bersaing dengan ride-hailing berbasis aplikasi.

Gelombang Kedua di Era 2000-an: Tekanan Digital dan Perubahan Konsumsi

  1. PT Sunson Textile Manufacturer Tbk (SSTM) — Pabrikan tekstil yang melantai di bursa sejak 1997 ini resmi pailit pada 2024. Volume ekspor tekstil anjlok 78% dalam lima tahun, diperparah oleh serbuan tekstil impor ilegal dari Tiongkok yang tidak terbendung. Utang perseroan mencapai Rp 1,9 triliun saat pengajuan PKPU.
  2. PT Sekar Laut Tbk (SKLT) — Produsen kerupuk udang dan bumbu jadi ini mengalami penurunan pendapatan sebesar 33% pada semester pertama 2024. Meskipun belum delisting, kapitalisasi pasar SKLT menyusut dari puncak Rp 4,8 triliun (2021) menjadi hanya Rp 680 miliar.
  3. PT Trias Sentosa Tbk (TRST) — Industri flexible packaging yang beroperasi sejak 1979 ini harus merestrukturisasi utang senilai Rp 3,2 triliun melalui mekanisme PKPU pada 2023. Volume produksi menyusut 62% sebagai imbas dari penurunan permintaan dari sektor rokok dan makanan ringan.

Transformasi dan Kebangkrutan: Studi Kasus Delisting

  1. PT Sariwangi Agricultural Estate Agency Tbk — Ikon teh celup Indonesia yang melantai di bursa tahun 1994 ini delisting pada 2018. Penjualan merosot setelah gagal bersaing dengan Unilever (Sariwangi) dan merek global lainnya. Aset terakhir dilego melalui lelang dengan nilai likuidasi Rp 220 miliar dari utang total Rp 780 miliar.
  2. PT Pioneerindo Gourmet International Tbk (PTSP) — Pengelola waralaba CFC (California Fried Chicken) ini terancam delisting pada 2025 jika tidak segera menyelesaikan restrukturisasi utang. Gerai CFC yang sempat mencapai 280 outlet pada 2016 kini hanya tersisa 15 gerai di Jabodetabek.
  3. PT Asiaplast Industries Tbk (APLI) — Produsen kemasan plastik rigid yang sempat menjadi andalan ekspor kini berkinerja negatif dengan akumulasi rugi bersih Rp 87 miliar selama tiga tahun berturut-turut. Permintaan dari sektor otomotif dan farmasi anjlok akibat perang harga regional.
  4. PT Kertas Basuki Rachmat Indonesia Tbk (KBRI) — Pabrikan kertas terintegrasi ini delisting pada 2021 setelah suspensi bursa selama 36 bulan. Kerugian operasional mencapai Rp 1,1 triliun akibat mesin produksi yang sudah usang dan ketidakmampuan berproduksi secara efisien sejak 2016.

Beberapa emiten yang masih bertahan seperti BNBR dan SKLT sedang berupaya merestrukturisasi melalui rights issue atau divestasi aset, namun kepercayaan investor ritel sudah banyak yang hilang. Sementara itu, kasus seperti ZBRA dan KBRI menunjukkan bahwa regulator bursa kini lebih tegas menindak emiten yang gagal menunjukkan keberlanjutan usaha dalam jangka waktu tertentu.

Pro: Kejatuhan emiten-emiten ini membuka pelajaran berharga bagi investor dan manajemen tentang pentingnya tata kelola yang transparan dan adaptasi terhadap perkembangan teknologi. Delisting massal turut meningkatkan kualitas emiten yang tersisa di bursa.
Kontra: Investor ritel menjadi pihak yang paling dirugikan, terutama mereka yang membeli saham pada masa kejayaan dan tidak sempat melakukan cut loss. Banyak dana pensiun dan reksa dana yang masih mencatat kerugian dari portofolio saham yang kini tidak memiliki harga.

Dalam konteks pasar modal yang sehat, fenomena semacam ini merupakan siklus alami dari seleksi pasar dan Schulze dari raksasa bisnis yang gagal bertransformasi. Namun, literasi keuangan investor harus ditingkatkan agar mampu menganalisis fundamental perusahaan sebelum dan sesudah berinvestasi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User