Ekonomi RI Tumbuh 5,29 Persen, Purbaya Sebut Cukup Baik Meski Melambat

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Agustus 2026, ekonomi Indonesia mengalami kenaikan 5,29 persen secara year-on-year (yoy) pada kuartal II 2026. Capaian ini sedikit melamb...

Aug 09, 2026 - 16:17
0 0
Ekonomi RI Tumbuh 5,29 Persen, Purbaya Sebut Cukup Baik Meski Melambat

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Agustus 2026, ekonomi Indonesia mengalami kenaikan 5,29 persen secara year-on-year (yoy) pada kuartal II 2026. Capaian ini sedikit melambat dibandingkan kuartal I 2026 yang tercatat di kisaran 5,35 persen, tetapi tetap bertahan di atas level psikologis 5 persen. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kinerja tersebut masih tergolong cukup baik mengingat tekanan ekonomi global yang belum sepenuhnya mereda.

Purbaya menegaskan bahwa laju pertumbuhan saat ini masih sejalan dengan asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang mematok kisaran 5,2 hingga 5,5 persen. Pemerintah, lanjutnya, akan terus menjaga momentum melalui belanja negara yang tepat sasaran, percepatan program prioritas, serta menjaga defisit anggaran di bawah ambang 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) sesuai ketentuan Undang-Undang Keuangan Negara.

Mesin Pertumbuhan Domestik Masih Bekerja

Ditinjau dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga yang menyumbang sekitar 53 persen dari total PDB tetap menjadi penopang utama dengan pertumbuhan mendekati 5 persen. Kinerja ini ditopang inflasi yang terkendali di level 2,4 persen yoy, masih berada dalam rentang target Bank Indonesia sebesar 2,5±1 persen. Inflasi yang rendah membantu menjaga daya beli masyarakat, terutama pada periode yang bertepatan dengan momentum hari besar keagamaan dan libur sekolah.

Sementara itu, investasi yang tercermin dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) — yakni penanaman modal dalam bentuk bangunan, mesin, dan peralatan — tumbuh di kisaran 5,8 persen. Realisasi investasi yang terus meningkat menandakan kepercayaan dunia usaha terhadap prospek ekonomi jangka menengah, meski sebagian pelaku usaha masih bersikap hati-hati menanti kepastian arah kebijakan global.

Di Satu Sisi Resilensi, di Sisi Lain Perlambatan

Di satu sisi, angka 5,29 persen menempatkan Indonesia sebagai salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tertinggi di kawasan Asia Tenggara dan jauh melampaui proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia versi Dana Moneter Internasional (IMF) yang berada di kisaran 3,1 persen. Fundamental ekonomi juga relatif kokoh: rasio utang pemerintah terhadap PDB terjaga di bawah 40 persen, cadangan devisa berada di atas 150 miliar dolar AS, dan perbankan mencatatkan rasio kecukupan modal (CAR) di atas 25 persen. Kombinasi faktor ini memberikan bantalan yang memadai dalam menghadapi guncangan eksternal.

Di sisi lain, tren perlambatan dari 5,35 persen menjadi 5,29 persen tidak bisa dipandang sebelah mata. Tekanan datang dari sisi eksternal: harga komoditas ekspor andalan seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO) bergerak melemah sepanjang semester pertama 2026, sehingga kontribusi ekspor menahan laju ekonomi. Selain itu, ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat memicu capital outflow — keluarnya dana asing dari portofolio pasar keuangan domestik — yang menekan nilai tukar rupiah hingga bergerak di kisaran Rp16.200 per dolar AS.

Sentimen pasar turut tercermin pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berfluktuasi, sementara imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) bertenor 10 tahun bertahan di kisaran 6,7 persen. Kondisi ini menuntut koordinasi kebijakan yang erat antara otoritas fiskal dan moneter agar likuiditas di pasar keuangan tetap terjaga dan biaya pendanaan tidak meningkat tajam.

Proyeksi Paruh Kedua 2026

Ke depan, sejumlah lembaga ekonomi memproyeksikan pertumbuhan setahun penuh 2026 berada di rentang 5,1 hingga 5,3 persen. Bank Indonesia diprakirakan mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75 persen dalam waktu dekat, sembari menimbang ruang pelonggaran apabila tekanan nilai tukar mereda. Dari sisi pasar modal, valuasi saham domestik dinilai sebagian analis relatif menarik dibandingkan negara kawasan, meski arus dana asing masih menjadi variabel penentu. Pemerintah sendiri menyiapkan sejumlah stimulus fiskal pada paruh kedua, termasuk percepatan realisasi belanja infrastruktur dan program perlindungan sosial.

Pada akhirnya, penilaian 'cukup baik' dari Menteri Keuangan mencerminkan dua hal sekaligus: apresiasi atas ketahanan ekonomi domestik, sekaligus pengakuan bahwa ruang perbaikan masih terbuka. Bagi pelaku pasar dan dunia usaha, konsistensi kebijakan serta kecepatan respons pemerintah terhadap dinamika global akan menjadi penentu apakah tren pertumbuhan dapat kembali menguat pada kuartal-kuartal mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User