Pertumbuhan Ekonomi RI Bisa Melaju, Asalkan Tiga Syarat Terpenuhi

Berdasarkan data BPS per triwulan kedua 2024, perekonomian Indonesia tumbuh 5,05% year-on-year, sedikit melambat dari capaian 5,11% pada kuartal sebelumnya. Meski masih berada di jalur positif, angka ...

Aug 09, 2026 - 19:14
0 0
Pertumbuhan Ekonomi RI Bisa Melaju, Asalkan Tiga Syarat Terpenuhi

Berdasarkan data BPS per triwulan kedua 2024, perekonomian Indonesia tumbuh 5,05% year-on-year, sedikit melambat dari capaian 5,11% pada kuartal sebelumnya. Meski masih berada di jalur positif, angka ini memicu perdebatan di kalangan pelaku pasar mengenai apakah momentum pemulihan pascapandemi sudah mencapai titik jenuh. Di tengah gejolak global dan dinamika domestik, sejumlah ekonom memperingatkan bahwa potensi tumbuh di atas 6% tetap terbuka, asalkan sejumlah prasyarat fundamental segera diperbaiki.

Dua Sisi Momentum Pertumbuhan

Di satu sisi, konsumsi rumah tangga mengalami kenaikan seiring stabilisasi indeks keyakinan konsumen yang kembali ke zona optimis. Belanja modal pemerintah dan ekspor komoditas juga turut menopang laju ekonomi nasional. Data Bank Indonesia menunjukkan likuiditas perbankan masih longgar dengan rasio intermediasi yang sehat, menciptakan ruang bagi ekspansi kredit ke sektor produktif sebesar 10,2% year-on-year.

Di sisi lain, tekanan dari sentimen pasar global tidak bisa diabaikan. Arus capital outflow dari pasar keuangan domestik pada semester pertama 2024 terus berlanjut, memicu pelemahan tren nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku dan menggerus daya saing sektor manufaktur yang masih mengandalkan pasokan dari luar negeri. Biaya logistik dalam negeri yang mencapai 23,5% dari total produk domestik bruto regional pun masih menjadi beban berat bagi pelaku usaha.

Valuasi dan Risiko di Sektor Riil

Fundamental perekonomian Indonesia dinilai masih solid, namun valuasi beberapa sektor mulai menunjukkan sinyal kelebihan pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menyentuh level tertinggi baru, namun rasio harga terhadap laba (P/E ratio) sejumlah emiten infrastruktur dan teknologi sudah berada di atas rata-rata historis lima tahun. Bagi investor yang menyusun portofolio, kondisi ini menuntut selektivitas lebih tinggi untuk menghindari gelembung harga.

"Pertumbuhan 5% bukanlah hasil akhir. Ini adalah basis yang bisa ditingkatkan jika reformasi struktural di sektor perizinan, logistik, dan sumber daya manusia berjalan konsisten. Tanpa itu, kita akan terjebak di middle-income trap dengan proyeksi jangka panjang yang melambat," ujar seorang ekonom senior.

Sektor riil juga menghadapi tantangan serius. Utilisasi kapasitas industri manufaktur masih tertahan di kisaran 70%, menandakan permintaan domestik belum cukup kuat untuk mendorong investasi mesin dan peralatan baru. Sementara itu, indeks harga produsen mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu, memberi isyarat bahwa deflasi komoditas global mulai merambat ke harga grosir dalam negeri.

Proyeksi dan Catatan untuk Kebijakan

Menjelang akhir tahun, proyeksi pertumbuhan ekonomi dari berbagai lembaga keuangan internasional masih berkisar antara 4,8% hingga 5,2%. Namun, capaian di ujung atas rentang tersebut sangat bergantung pada efektivitas stimulus fiskal dan konsistensi kebijakan moneter. Bank Indonesia telah menahan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar, namun ruang geraknya terbatas jika tekanan inflasi dari sisi distribusi kembali meningkat.

Untuk mendorong laju ekonomi menembus angka 6%, pemerintah perlu mempercepat realisasi anggaran infrastruktur yang hingga semester pertama baru mencapai 42% dari total alokasi. Selain itu, perbaikan iklim investasi melalui harmonisasi peraturan perpajakan dan persetujuan berusaha menjadi syarat mutlak. Di pasar tenaga kerja, angka pengangguran terdidik yang masih tinggi menunjukkan adanya mismatch antara output pendidikan dengan kebutuhan industri 4.0.

Secara keseluruhan, tren pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menguntungkan, namun ketergantungan pada konsumsi dan komoditas mentah perlu segera dikurangi. Diversifikasi sumber pertumbuhan melalui industrialisasi hilirisasi dan digitalisasi usaha mikro kecil menengah menjadi kunci menjaga momentum jangka menengah. Tanpa transformasi struktural tersebut, potensi melompat ke level pendapatan negara maju akan sulit terwujud meski likuiditas global kembali melimpah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User