Ekonomi RI Bisa Tumbuh di Atas 5 Persen, Ini Syaratnya

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga akhir 2023, ekonomi Indonesia tumbuh 5,05 persen year-on-year, melanjutkan tren pertumbuhan di kisaran 5 persen yang telah berlangsung hampir satu d...

Aug 10, 2026 - 11:14
0 0
Ekonomi RI Bisa Tumbuh di Atas 5 Persen, Ini Syaratnya

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga akhir 2023, ekonomi Indonesia tumbuh 5,05 persen year-on-year, melanjutkan tren pertumbuhan di kisaran 5 persen yang telah berlangsung hampir satu dekade terakhir. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu ekonomi dengan kinerja terbaik di kawasan Asia Tenggara, namun sekaligus memunculkan pertanyaan mendasar: mengapa pertumbuhan ekonomi nasional seolah terjebak di level tersebut dan sulit menembus 6 hingga 7 persen seperti era sebelum krisis 1998?

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Didik J Rachbini, memandang fenomena ini bukan sekadar persoalan siklikal atau pengaruh ekonomi global semata. Menurutnya, ada faktor struktural yang menahan laju ekonomi Indonesia sehingga potensi pertumbuhan yang sebenarnya lebih tinggi tidak dapat terealisasi. Istilah struktural di sini merujuk pada persoalan mendasar dalam fondasi ekonomi, seperti kualitas sumber daya manusia, produktivitas industri, dan efisiensi birokrasi.

Deindustrialisasi Dini Jadi Beban Utama

Salah satu faktor yang kerap disorot adalah deindustrialisasi dini, yakni kondisi ketika kontribusi sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) menyusut sebelum ekonomi mencapai tingkat pendapatan negara maju. Data menunjukkan kontribusi industri pengolahan terhadap PDB turun dari sekitar 29 persen pada awal 2000-an menjadi di bawah 19 persen dalam beberapa tahun terakhir. Padahal, sektor manufaktur merupakan mesin utama penciptaan lapangan kerja bernilai tambah tinggi sekaligus penggerak ekspor berkualitas.

Akibatnya, struktur ekonomi Indonesia semakin bergantung pada konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari 53 persen PDB, serta ekspor komoditas mentah yang harganya sangat fluktuatif. Ketergantungan pada komoditas membuat ekonomi rentan terhadap gejolak harga global, sementara konsumsi domestik memiliki batas pertumbuhan alami seiring kenaikan pendapatan masyarakat.

Di Satu Sisi Fundamental Kuat, di Sisi Lain Produktivitas Stagnan

Di satu sisi, optimisme terhadap ekonomi Indonesia memiliki dasar yang kuat. Inflasi terkendali di kisaran 2-3 persen, rasio utang pemerintah terhadap PDB berada di bawah 40 persen—jauh lebih sehat dibanding banyak negara berkembang—serta cadangan devisa di atas 130 miliar dolar AS memberikan bantalan likuiditas yang memadai. Bonus demografi dengan penduduk usia produktif mencapai sekitar 70 persen dari total populasi juga menjadi modal berharga hingga satu dekade ke depan.

Di sisi lain, sejumlah indikator menunjukkan pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Produktivitas tenaga kerja Indonesia masih tertinggal dibanding negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand. Kualitas investasi juga menjadi sorotan: meski realisasi investasi terus mengalami kenaikan dan menembus Rp1.400 triliun dalam setahun terakhir, porsi investasi di sektor padat karya dan teknologi tinggi dinilai belum memadai. Sentimen pasar terhadap aset domestik pun kerap terganggu oleh ketidakpastian kebijakan dan risiko capital outflow ketika bank sentral Amerika Serikat mengetatkan suku bunga.

Syarat Struktural untuk Lompat ke 6-7 Persen

Agar ekonomi dapat tumbuh lebih tinggi, sejumlah syarat dipandang tidak bisa ditawar. Pertama, revitalisasi sektor manufaktur melalui hilirisasi yang tidak hanya berfokus pada mineral, tetapi juga agroindustri dan produk bernilai tambah tinggi. Kedua, peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi dan pelatihan kerja yang selaras dengan kebutuhan industri. Ketiga, perbaikan iklim usaha melalui kepastian hukum, efisiensi perizinan, dan pemberantasan praktik ekonomi biaya tinggi.

Proyeksi sejumlah lembaga internasional seperti Bank Dunia dan IMF memperkirakan ekonomi Indonesia akan tetap berada di kisaran 5-5,2 persen dalam dua tahun ke depan apabila tidak ada lompatan reformasi. Valuasi pasar saham domestik yang relatif menarik dan fundamental makro yang stabil memang menjaga daya tarik portofolio investor asing, tetapi tanpa perbaikan sisi produksi, pertumbuhan lebih tinggi akan sulit tercapai secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, perdebatan mengenai pertumbuhan 5 persen bukanlah soal baik atau buruk secara absolut. Bagi ekonomi sebesar Indonesia dengan PDB di atas 1.300 miliar dolar AS, setiap satu persen pertumbuhan setara dengan nilai ekonomi yang sangat besar. Namun, dengan target menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2045, kenaikan kualitas pertumbuhan—bukan sekadar kuantitas—menjadi keniscayaan yang menuntut konsistensi kebijakan lintas pemerintahan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User