Dolar AS Kembali Dekati Rp 18.000

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tren pelemahan pada perdagangan pagi ini. Berdasarkan pantauan terminal data Bloomberg yang dihimpun media kami pada Jumat (

Jul 08, 2026 - 00:34
0 0
Dolar AS Kembali Dekati Rp 18.000

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tren pelemahan pada perdagangan pagi ini. Berdasarkan pantauan terminal data Bloomberg yang dihimpun media kami pada Jumat (26/6/2026), mata uang Paman Sam bergerak menguat ke posisi Rp 17.987 per dolar AS. Posisi itu tercatat naik 44 poin atau menguat 0,25 persen dibanding penutupan hari sebelumnya.

Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring dengan penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang global. Data yang dihimpun Beritadua.com menunjukkan, greenback juga menguat terhadap yen Jepang, dolar Australia, pound sterling Inggris, euro, dolar Singapura, hingga yuan China. Penguatan dolar AS yang bersifat luas ini mengindikasikan sentimen risk-off kembali mendominasi pasar seiring dengan masih tingginya ketidakpastian di panggung ekonomi global.

Pergerakan rupiah yang mendekati level psikologis Rp 18.000 ini menjadi perhatian pelaku pasar dan otoritas moneter. Sejumlah analis menilai, faktor eksternal seperti kebijakan tarif yang masih menjadi perdebatan di Washington serta ketegangan geopolitik di beberapa kawasan menjadi pemicu utama menguatnya dolar AS sebagai aset safe haven. Di sisi domestik, kebutuhan valuta asing korporasi untuk pembayaran dividen dan impor kuartal kedua juga turut menambah beban bagi rupiah.

Rupiah di Antara Tekanan Eksternal dan Domestik

Laporan dari meja redaksi Beritadua.com mencatat, sejak awal tahun rupiah telah terdepresiasi cukup dalam terhadap dolar AS. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia yang agresif pada semester lalu nampaknya belum sepenuhnya mampu membendung arus keluar modal asing dari pasar obligasi dan saham domestik. Investor asing yang masih wait and see terhadap stabilitas fiskal jangka pendek memperberat langkah rupiah untuk kembali ke bawah level Rp 17.500.

Dari sisi teknikal, level Rp 18.000 menjadi resistance krusial. Jika tertembus, bukan tidak mungkin rupiah akan mencari keseimbangan baru di kisaran yang lebih tinggi. Namun, intervensi Bank Indonesia melalui pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) serta operasi moneter di pasar sekunder Surat Berharga Negara (SBN) diharapkan mampu meredam gejolak.

Dampak Terhadap Ekonomi Domestik

Penguatan dolar AS ke dekat Rp 18.000 berpotensi memperlebar biaya impor bahan baku dan barang modal bagi industri dalam negeri. Sektor manufaktur yang bergantung pada komponen impor akan merasakan dampak paling langsung, yang pada gilirannya dapat mendorong naik harga jual ke konsumen. Di sisi lain, eksportir dengan pendapatan dalam dolar AS justru diuntungkan, meskipun mereka juga harus menghadapi ketidakpastian permintaan global.

Pelaku pasar kini menanti rilis data inflasi inti AS yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga The Fed selanjutnya. Jika inflasi AS tetap tinggi, ekspektasi kenaikan suku bunga tambahan akan kembali mengerek indeks dolar dan memberikan tekanan baru bagi rupiah. Beritadua.com akan terus memantau dinamika nilai tukar dan dampaknya bagi perekonomian nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Fact Checker. Memverifikasi klaim politik dan narasi publik.

Comments (0)

User