Aug 24, 2026
Bisnis

Destry Damayanti: Stabilitas Moneter Terjamin di Tengah Transisi BI

Berdasarkan data BPS per 2 Juni 2025, inflasi tahunan tercatat sebesar 3,1% secara year-on-year, sementara BI Rate bertahan di level 5,75%. Pasar keuangan pun bereaksi tenang menyusul penegasan dari G...

Destry Damayanti: Stabilitas Moneter Terjamin di Tengah Transisi BI

Berdasarkan data BPS per 2 Juni 2025, inflasi tahunan tercatat sebesar 3,1% secara year-on-year, sementara BI Rate bertahan di level 5,75%. Pasar keuangan pun bereaksi tenang menyusul penegasan dari Gubernur Bank Indonesia sementara Destry Damayanti bahwa seluruh tugas bank sentral akan terus berjalan tanpa hambatan pasca pengunduran diri Perry Warjiyo. Perry, yang telah menjabat sejak 2013 dan baru saja menyelesaikan masa jabatan keduanya, memutuskan mundur lebih awal karena alasan kesehatan, meninggalkan posisi strategis yang kini dipegang Destry hingga penunjukan definitif oleh DPR.

Warisan Kebijakan dan Peluang Keberlanjutan

Di satu sisi, kelanjutan stabilitas tampak meyakinkan. Destry, yang sebelumnya menjabat Deputi Gubernur Senior, dianggap sebagai figur pasar yang paham betul dinamika moneter. Posisinya sebagai Gubernur sementara memberikan jaminan bahwa arah kebijakan tidak akan berubah secara drastis. Dalam pernyataan resminya, Destry menekankan bahwa inflasi masih terkendali dalam kisaran target 2,5%—3,5%, dan tim likuiditas BI siap melakukan intervensi jika terjadi gejolak di pasar uang.

Secara fundamental, Indonesia memiliki cadangan devisa sebesar 140,2 miliar dolar AS per akhir Mei 2025, cukup untuk 6,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri, sehingga ruang untuk menahan tekanan eksternal cukup lebar. Sentimen investor pun terlihat stabil terlihat dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih bertengger di area 7.000-an pasca pengumuman mundurnya Perry. Ini menunjukkan bahwa pelaku pasar cenderung memandang peralihan ini sebagai pergantian rutin daripada krisis.

“Destry dikenal sebagai teknokrat yang berorientasi stabilitas. Peran sementara ini akan menjamin momentum pemulihan ekonomi tetap terjaga,” ujar Anton Gunawan, ekonom senior yang pernah menjabat di OJK.

Ketidakpastian yang Mengintai

Di sisi lain, pengunduran diri mendadak seorang gubernur bank sentral bukan tanpa risiko. Sejarah mencatat bahwa transisi di pucuk pimpinan BI kerap memicu spekulasi pasar, terutama menjelang akhir tahun yang biasanya disertai tekanan inflasi musiman. Meskipun BI Rate sejauh ini dipertahankan, pasar keuangan akan terus mencermati sinyal dari Dewan Gubernur, apalagi jika Rapat Dewan Gubernur bulan Juli nanti menghasilkan keputusan yang mengejutkan, seperti penurunan suku bunga prematur yang bisa membebani nilai tukar rupiah.

Nilai tukar rupiah sendiri saat ini bergerak di sekitar Rp15.700 per dolar AS, masih dalam koridor yang dapat ditoleransi, namun analis teknikal mencatat adanya indikasi capital outflow kecil dari pasar obligasi pemerintah dalam dua hari terakhir. Ini bisa menjadi tanda awal bahwa investor asing memilih wait and see sembari menunggu profil Gubernur definitif yang akan diajukan Presiden. Jika nama yang muncul dianggap kurang kredibel, potensi pengetatan likuiditas melalui intervensi ganda—di pasar valas dan lelang Surat Berharga Negara—bisa menjadi pilihan yang menyakitkan bagi pertumbuhan.

Proyeksi dan Pendorong Pasar

Dari perspektif valuasi, IHSG saat ini diperdagangkan dengan rasio harga terhadap laba (P/E) sekitar 14,1 kali, sedikit di bawah rata-rata historis 15,2 kali, sehingga masih menyisakan ruang apresiasi jika sentimen politik tetap kondusif. Pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia juga mencermati beberapa sektor potensial, terutama konsumsi dan perbankan, yang secara fundamental memiliki cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang makin membaik pasca restrukturisasi kredit era pandemi.

Namun, kunci tetap pada kejelasan kebijakan moneter. Sebagai Gubernur sementara, Destry masih memiliki wewenang penuh hingga akhir tahun, sehingga ia berpeluang membuktikan bahwa transisi ini bukanlah kelemahan. Jika ia mampu menjaga inflasi inti tetap di bawah 3% dan menstabilkan rupiah di bawah 16.000 per dolar AS, kepercayaan pasar bisa kembali menguat.

“Bank Indonesia harus memisahkan hiruk-pikuk politik dari kebijakan moneter. Ini saatnya menunjukkan independensi,” tegas Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede.

Tantangan Eksternal dan Agenda Ganda

Ke depan, BI tidak hanya menghadapi risiko internal berupa transisi pimpinan, tetapi juga tekanan eksternal dari kebijakan suku bunga Federal Reserve yang masih tinggi dan gejolak geopolitik yang mendorong harga komoditas. Neraca perdagangan Indonesia yang sempat surplus besar tahun lalu mulai menunjukkan penurunan surplus menjadi hanya 1,2 miliar dolar AS di kuartal pertama 2025, mengindikasikan bahwa ketidakpastian global sudah merembes ke sektor riil.

Destry perlu menavigasi dual agenda: menjaga stabilitas nilai tukar sambil memastikan kredit perbankan terus mengalir ke sektor produktif. Dengan cadangan devisa yang memadai, BI memiliki amunisi untuk intervensi, namun intervensi yang berlebihan bisa menguras portfolio likuiditas valas dan justru memicu ekspektasi negatif. Oleh karena itu, komunikasi yang terukur dan koordinasi erat dengan Kementerian Keuangan menjadi kunci agar aliran modal asing tidak berbalik arah secara drastis.

Secara keseluruhan, mundurnya Perry Warjiyo dan pengangkatan Destry Damayanti sebagai Gubernur sementara adalah ujian bagi kelembagaan Bank Indonesia. Data-data makro masih menunjukkan fondasi yang cukup kokoh, namun tarikan antara optimisme dan kehati-hatian akan menentukan apakah transisi ini berakhir sebagai catatan kaki sejarah atau justru menjadi awal dari gejolak yang lebih besar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User