Destry Damayanti Imbau Pasar Tenang Pascapergantian Pimpinan BI
Jakarta – Pejabat sementara Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, meminta seluruh pelaku pasar untuk tetap tenang dan tidak terpancing spekulasi negatif setelah kursi pucuk bank sentral mengala...
Jakarta – Pejabat sementara Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, meminta seluruh pelaku pasar untuk tetap tenang dan tidak terpancing spekulasi negatif setelah kursi pucuk bank sentral mengalami pergantian. Mundurnya Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur BI dinilai tidak akan mengganggu arah kebijakan moneter maupun stabilitas fundamental perekonomian nasional.
Dalam pernyataan resminya, Destry menegaskan bahwa BI memiliki sistem kerja yang telah teruji, sehingga transisi kepemimpinan berjalan mulus tanpa menimbulkan guncangan berarti di pasar keuangan. “Saya meminta semua pihak, terutama pelaku pasar, untuk tidak panik. Bank Indonesia tetap solid dengan kebijakan yang konsisten,” ujar Destry.
Kontinuitas Kebijakan Moneter
Kepastian berlanjutnya bauran kebijakan menjadi sorotan utama. Dengan kapasitasnya sebagai Deputi Gubernur Senior yang kini menjalankan fungsi gubernur, Destry dinilai mampu menjaga kesinambungan respons moneter. Data terbaru menunjukkan cadangan devisa nasional masih bertengger di level 153,6 miliar dolar AS, cukup untuk membiayai 6,5 bulan impor atau setara 6,3 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah. Rasio kecukupan ini jauh di atas standar internasional tiga bulan, memberikan bantalan likuiditas yang tebal terhadap tekanan eksternal.
Secara year-on-year, inflasi inti tetap terkendali di kisaran 2,15%, masih dalam sasaran target BI. Sementara suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate bertahan di 5,75% sejak awal tahun, mencerminkan konsistensi bank sentral dalam merespons dinamika global tanpa reaksi berlebihan.
Respons Pasar dan Stabilitas Rupiah
Di satu sisi, sentimen pasar sempat memperlihatkan kekhawatiran jangka pendek. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 0,7% dan rupiah terkoreksi tipis ke posisi Rp15.280 per dolar AS pada sesi awal perdagangan. Capital outflow dari pasar obligasi tercatat sekitar Rp1,2 triliun dalam dua hari pascapengumuman, menandakan kehati-hatian investor asing terhadap ketidakpastian baru.
Di sisi lain, respons Bank Indonesia tergolong cepat dan terukur. Melalui mekanisme triple intervention—intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian Surat Berharga Negara—BI berhasil menahan pelemahan rupiah lebih dalam. Gubernur Sementara menekankan, “Fundamental ekonomi Indonesia tetap sehat, dan likuiditas perbankan memadai.” Hingga penutupan, rupiah kembali menguat ke Rp15.210, menunjukkan kepercayaan pasar yang pulih seiring pernyataan pejabat BI.
Sejumlah analis menilai bahwa Destry, yang dikenal ahli di bidang kebijakan makroprudensial, akan mampu memegang kendali. “Destry adalah sosok yang paham seluk-beluk stabilitas sistem keuangan. Rekam jejaknya tidak diragukan,” kata seorang ekonom dari lembaga riset independen. Namun, proyeksi jangka menengah tetap membutuhkan kejelasan siapa pengganti definitif agar kepastian hukum dan kelembagaan tidak menimbulkan diskon risiko di mata investor.
Fundamental Kuat dan Proyeksi Ekonomi
Kuatnya pondasi ekonomi domestik terkonfirmasi oleh data pertumbuhan ekonomi kuartal pertama yang mencapai 5,11% secara tahunan. Konsumsi rumah tangga yang tetap solid dan investasi yang mulai pulih menjadi motor penggerak utama. Sementara itu, neraca perdagangan kembali mencatatkan surplus sebesar 3,8 miliar dolar AS pada Juni lalu, menyumbang tambahan pasokan valas di dalam negeri.
Meski ada risiko perlambatan global, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 akan berada dalam kisaran 4,7% hingga 5,5%, dengan asumsi inflasi tetap terkendali. Kebijakan moneter yang akomodatif dipadukan dengan akselerasi program hilirisasi dan pembangunan infrastruktur menjadi senjata menghadapi tantangan.
Perubahan di pucuk pimpinan bank sentral, menurut catatan historis, kerap memicu volatilitas sementara. Namun, selama kebijakan dijalankan secara independen dan berbasis data, guncangan tersebut tidak berlangsung lama. Pasar diminta membaca situasi secara proporsional: pergantian pemimpin adalah dinamika kelembagaan yang wajar, bukan sebuah krisis. Transisi ini justru menjadi ujian bagi maturitas pasar keuangan Indonesia, yang diharapkan tidak mudah goyah oleh isu personalia.
Sejalan dengan imbauan Destry, pelaku pasar diharapkan terus mencermati indikator makro riil dan tidak terpaku pada rumor sesaat. Likuiditas, rasio kecukupan modal perbankan—yang saat ini berada di 26,7%, jauh di atas ambang batas 8%—serta nilai tukar yang fleksibel menjadi bukti bahwa sistem keuangan nasional mampu menyerap tekanan. Ke depan, nama calon gubernur definitif akan menjadi sentimen berikutnya yang pantauan ketat, namun untuk saat ini, stabilitas adalah kata kunci yang dipegang erat oleh Bank Indonesia.
Comments (0)