Danantara Masuk Bisnis Tekstil, Ini Alasan di Baliknya

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan Bank Indonesia per awal 2025, sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional mencatat kontraksi kinerja yang cukup dalam. Utilisasi kapasitas pabrik te...

Oct 10, 2026 - 18:36
0 0
Danantara Masuk Bisnis Tekstil, Ini Alasan di Baliknya

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan Bank Indonesia per awal 2025, sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional mencatat kontraksi kinerja yang cukup dalam. Utilisasi kapasitas pabrik tekstil diperkirakan berada di kisaran 60–65 persen, jauh di bawah level ideal 80 persen. Ekspor TPT juga mengalami penurunan year-on-year, sementara impor produk tekstil murah terus menekan harga jual di pasar domestik. Di tengah kondisi itu, Danantara disebut tengah menjajaki masuk ke bisnis tekstil, dan pihaknya mengungkap alasan strategis di balik langkah tersebut.

Alasan di Balik Rencana Masuknya Danantara

Menurut penjelasan yang disampaikan pihak Danantara, keputusan untuk melirik sektor tekstil bukan semata-mata didorong oleh sentimen pasar jangka pendek. Dony, pihak yang mengungkap alasan tersebut, menyatakan bahwa sudah ada diskusi intensif dengan berbagai asosiasi pengusaha tekstil mengenai rencana ini. Artinya, langkah ini dirancang sebagai masuknya modal besar ke sektor yang tengah mengalami tekanan struktural, bukan sekadar ikut-ikutan tren.

Di satu sisi, masuknya Danantara ke bisnis tekstil bisa dibaca sebagai upaya penyelamatan industri padat karya. Sektor TPT menyerap lebih dari 3,7 juta tenaga kerja langsung dan tidak langsung, menurut data asosiasi industri. Jika likuiditas sektor ini membaik, risiko pemutusan hubungan kerja massal bisa ditekan. Kehadiran investor besar juga berpotensi memperbaiki fundamental industri melalui modernisasi mesin, efisiensi rantai pasok, dan akses pasar ekspor yang lebih luas.

Di sisi lain, masuknya pemain besar ke industri yang sedang lesu menimbulkan pertanyaan soal valuasi dan timing. Harga aset tekstil saat ini relatif murah, sehingga secara strategis bisa menjadi entry point yang menarik. Namun, jika permintaan global belum pulih dan banjir impor belum tertangani, injeksi modal bisa saja habis untuk menutup kerugian operasional tanpa menghasilkan perbaikan struktural yang permanen.

Tekanan Fundamental yang Harus Dihadapi

Fundamental industri tekstil nasional saat ini menghadapi tiga tekanan utama. Pertama, pelemahan permintaan ekspor dari pasar tradisional seperti Amerika Serikat dan Eropa. Kedua, lonjakan impor tekstil jadi, terutama dari Tiongkok, yang membuat harga di pasar domestik tertekan. Ketiga, biaya energi dan logistik yang masih relatif tinggi dibandingkan kompetitor regional seperti Vietnam dan Bangladesh.

Rasio utang terhadap ekuitas di sebagian emiten tekstil juga menunjukkan tren kenaikan. Beberapa perusahaan mencatat rasio di atas 1,5 kali, menandakan beban bunga yang menggerus margin. Dalam konteks ini, kehadiran Danantara bisa diposisikan sebagai penyuntik likuiditas sekaligus mitra restrukturisasi. Namun, tanpa perbaikan permintaan, suntikan dana berisiko hanya menunda koreksi, bukan menyelesaikannya.

"Sektor tekstil itu padat karya dan strategis, tetapi masalahnya bukan hanya modal. Ada persoalan daya saing harga, regulasi impor, dan efisiensi produksi yang harus dibenahi bersamaan," ujar seorang pengamat industri tekstil.

Pro dan Kontra di Mata Pelaku Pasar

Pro: masuknya Danantara dapat memperkuat struktur permodalan industri, membuka akses pembiayaan yang lebih murah, dan mendorong konsolidasi agar skala produksi lebih efisien. Dengan portofolio yang kuat, Danantara berpotensi menjadi katalis bagi modernisasi mesin dan peningkatan kualitas produk ekspor.

Kontra: langkah ini berisiko menimbulkan distorsi pasar jika tidak diikuti reformasi kebijakan. Tanpa pengendalian impor yang konsisten dan perbaikan iklim usaha, capital outflow di sektor hilir tetap sulit dibendung. Selain itu, ada kekhawatiran bahwa fokus jangka pendek pada penyelamatan aset justru mengabaikan akar masalah, yakni lemahnya daya saing struktural.

Dari kacamata investor, keputusan ini perlu dicermati melalui proyeksi arus kas dan prospek pemulihan permintaan. Jika tren ekspor membaik pada semester kedua dan kebijakan anti-dumping diperketat, valuasi sektor tekstil bisa kembali menarik. Sebaliknya, jika tekanan eksternal berlanjut, ekspansi ini berpotensi menambah beban portofolio. Yang jelas, masuknya Danantara ke bisnis tekstil menandai babak baru industri yang selama ini bergerak di bawah bayang-bayang tekanan global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User