MotoGP Mandalika 2026 Diproyeksi Jadi Katalis Ekonomi NTB
Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat per kuartal IV 2025, penyelenggaraan event motorsport internasional di Kawasa...
Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat per kuartal IV 2025, penyelenggaraan event motorsport internasional di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika tercatat menyumbang tambahan produk domestik regional bruto (PDRB) hingga Rp1,2 triliun per edisi. Angka itu setara dengan sekitar 4,7 persen dari total PDRB NTB pada periode yang sama—sebuah kontribusi yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Menjelang Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026, InJourney selaku holding BUMN pariwisata dan aviasi kembali menegaskan posisi MotoGP sebagai katalis pertumbuhan ekonomi daerah, bukan sekadar tontonan tahunan.
Sinergi Lintas Sektor dan Angka yang Berbicara
Di satu sisi, sinergi yang dibangun InJourney bersama pemerintah daerah, pengelola sirkuit, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta operator transportasi menunjukkan dampak berganda yang terukur. Data sementara yang dihimpun dari rangkaian event sebelumnya memperlihatkan okupansi hotel di kawasan Mataram, Senggigi, dan Kuta Mandalika menembus 92 persen pada pekan balapan, naik dari rata-rata harian yang biasanya berkisar 55 persen. Sektor penerbangan pun mengalami kenaikan frekuensi penerbangan ke Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid hingga 28 persen year-on-year, sementara perputaran uang di sektor kuliner dan suvenir diperkirakan melampaui Rp450 miliar.
Dari kacamata analis, lonjakan tersebut tidak hanya bersifat musiman. Indeks kepercayaan pelaku usaha pariwisata NTB tercatat menguat ke level 118,3 pada survei terakhir, level tertinggi dalam lima tahun terakhir. Artinya, sentimen pasar terhadap keberlanjutan agenda Mandalika relatif solid, meski tetap bergantung pada fundamental seperti konektivitas, kualitas infrastruktur, dan daya tarik destinasi di luar sirkuit.
Pro: Efek Berganda dan Penguatan Destinasi
Pro: penyelenggaraan MotoGP memberi panggung global bagi NTB untuk memperkenalkan destinasi wisata unggulan seperti Pantai Kuta Mandalika, Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika, dan kawasan budaya Sade. Paparan media internasional ini—yang diestimasi mencapai nilai ekuitas merek setara Rp3,1 triliun dalam bentuk pemberitaan dan siaran global—jauh lebih efisien dibandingkan kampanye promosi konvensional. Selain itu, penyerapan tenaga kerja temporer selama pekan balapan mencapai 6.800 orang, dengan 1.400 di antaranya merupakan pekerja lokal yang terlatih secara berkelanjutan oleh program pelatihan InJourney.
"Event ini tidak berhenti pada tiga hari balapan. Yang kami bangun adalah ekosistem, mulai dari pembinaan UMKM, standardisasi layanan, hingga penguatan rute penerbangan," ujar seorang pejabat di lingkungan holding pariwisata tersebut, dalam keterangan yang dikutip dari paparan resmi perusahaan.
Dari sisi likuiditas, masuknya wisatawan mancanegara maupun domestik mendorong peredaran uang di NTB, yang tercermin pada pertumbuhan kredit konsumsi daerah sebesar 7,8 persen year-on-year. Ini menunjukkan bahwa event berskala global dapat memperkuat portofolio ekonomi daerah secara lebih luas, bukan hanya menguntungkan pelaku usaha besar.
Kontra: Risiko Ketergantungan dan Beban Fiskal
Kontra: sejumlah ekonom mengingatkan bahwa optimismenya berpotensi menutupi risiko struktural. Pertama, ketergantungan pada event musiman menciptakan pola pendapatan yang tidak stabil. Bila biaya penyelenggaraan membengkak—misalnya karena kenaikan biaya logistik dan fluktuasi kurs yang memengaruhi kontrak internasional—maka rasio manfaat terhadap biaya bisa tergerus. Kedua, sebagian proyeksi menggunakan asumsi kunjungan yang belum tentu terealisasi, sehingga valuasi dampak ekonomi berisiko overshooting.
Ketiga, ada kekhawatiran soal kapasitas infrastruktur. Lonjakan kunjungan yang tidak diimbangi perluasan kapasitas Bandara Zainuddin Abdul Madjid serta pasokan air dan listrik dapat memicu kemacetan, penumpukan limbah, dan tekanan harga bagi penduduk lokal. Sejumlah pengamat juga mengingatkan bahwa tanpa diversifikasi destinasi, NTB rentan terhadap capital outflow apabila penyelenggara asing menarik keuntungan keluar daerah.
Keempat, dari sudut pandang fiskal, pembiayaan sirkuit dan infrastruktur pendukung menyisakan beban anggaran yang perlu dihitung cermat. Rasio pengembalian investasi baru terlihat dalam jangka menengah, sehingga pengawasan terhadap tata kelola anggaran menjadi krusial.
Proyeksi dan Arah Kebijakan
Dengan asumsi tidak ada gangguan besar, proyeksi dampak ekonomi MotoGP 2026 berkisar antara Rp1,4 triliun hingga Rp1,8 triliun, dengan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi NTB diperkirakan 0,4 hingga 0,6 poin persentase. Untuk menjaga tren positif ini, diperlukan strategi penguatan fundamental seperti pengembangan paket wisata terintegrasi, insentif bagi UMKM, serta perluasan konektivitas penerbangan langsung dari negara sumber wisatawan utama.
Pada akhirnya, MotoGP Mandalika bukan sekadar soal siapa yang finis tercepat di lintasan. Ia adalah ujian bagi kemampuan daerah dan BUMN mengelola sentimen pasar, menjaga likuiditas ekonomi, serta memastikan manfaat pertumbuhan dirasakan merata. Bila sinergi dijaga dan tata kelola diperbaiki, event ini berpotensi menjadi katalis yang berkelanjutan. Namun bila euforia mengalahkan perencanaan, dampaknya bisa berbalik menjadi beban yang mahal.
Comments (0)