Oct 10, 2026
Bisnis

Coaching Clinic Dorong Mentalitas Wirausaha Mahasiswa Lampung

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah per awal 2024, rasio kewirausahaan nasional baru menyentuh angka 3,47 persen dari total populasi, masih tertinggal dibanding Malaysia yan...

Coaching Clinic Dorong Mentalitas Wirausaha Mahasiswa Lampung

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah per awal 2024, rasio kewirausahaan nasional baru menyentuh angka 3,47 persen dari total populasi, masih tertinggal dibanding Malaysia yang berada di kisaran 4,7 persen dan Singapura di atas 8 persen. Angka ini menjadi konteks penting ketika sejumlah mahasiswa pengusaha di Lampung menerima program pendampingan berupa coaching clinic yang dirancang untuk mengasah keterampilan praktis bisnis, bukan sekadar teori ruang kelas.

Kegiatan tersebut menghadirkan praktisi yang membagikan pengalaman lapangan, mulai dari membangun produk awal, mengelola arus kas terbatas, hingga menjaga ketahanan mental ketika bisnis menghadapi fase sulit. Bagi kalangan akademisi, model pembelajaran semacam ini dipandang sebagai jembatan antara kurikulum kampus dan realitas pasar yang bergerak cepat.

Mengapa Pendampingan Praktis Menjadi Krusial

Di satu sisi, pendekatan coaching clinic memberi mahasiswa paparan langsung terhadap dinamika dunia usaha. Mereka tidak hanya belajar menyusun rencana bisnis, tetapi juga berlatih mengambil keputusan di bawah tekanan likuiditas yang terbatas. Survei Badan Pusat Statistik menunjukkan usaha mikro, kecil, dan menengah menyumbang sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto nasional serta menyerap hampir 97 persen tenaga kerja. Artinya, memperkuat kapasitas pengusaha muda berarti memperkuat fundamental ekonomi daerah dalam jangka panjang.

Di sisi lain, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa mentoring sesaat tidak otomatis mengubah lanskap kewirausahaan. Tanpa akses pembiayaan yang memadai, jaringan pemasaran yang luas, dan pendampingan berkelanjutan, semangat yang tumbuh di ruang pelatihan berisiko menguap begitu peserta kembali ke rutinitas kampus. Rasio kredit usaha mikro yang masih di bawah 20 persen dari total kredit perbankan menjadi indikator bahwa hambatan struktural belum sepenuhnya terurai.

"Kewirausahaan bukan soal ide semata, melainkan soal disiplin mengeksekusi dan kemampuan membaca sinyal pasar. Pendampingan yang intens jauh lebih berharga daripada modal besar tanpa arah," ujar seorang pelaku usaha yang terlibat dalam sesi tersebut, menggambarkan pentingnya ketahanan usaha di fase awal.

Pro dan Kontra Seputar Efektivitas Program

Pro: program seperti ini terbukti meningkatkan kepercayaan diri peserta dalam mengelola risiko. Pengalaman langsung dari praktisi membantu mahasiswa memahami pentingnya valuasi produk, penetapan harga, serta strategi menjaga margin di tengah persaingan digital. Tren bisnis berbasis platform juga menuntut literasi pemasaran daring yang tidak selalu diajarkan di bangku kuliah.

Kontra: kritik yang kerap muncul adalah kecenderungan program bersifat seremonial dan sporadis. Tanpa metrik keberlanjutan, sulit mengukur seberapa banyak peserta yang benar-benar menjalankan usaha hingga satu tahun setelah pelatihan. Selain itu, ketimpangan akses antara mahasiswa di kota besar dan daerah menjadi catatan tersendiri, mengingat infrastruktur digital di sejumlah wilayah belum merata.

Proyeksi dan Sentimen Pasar Ke Depan

Melihat tren pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan menembus nilai ratusan triliun rupiah dalam beberapa tahun ke depan, kebutuhan akan wirausaha muda yang adaptif semakin mendesak. Pemerintah sendiri menargetkan rasio kewirausahaan nasional naik menuju 3,95 persen pada periode berikutnya, sebuah target yang menuntut kolaborasi lintas sektor antara kampus, industri, dan lembaga pembiayaan.

Dari kacamata investor, sentimen pasar terhadap sektor usaha rintisan di daerah masih beragam. Capital outflow global dan volatilitas suku bunga acuan membuat investor lebih selektif, sehingga hanya bisnis dengan fundamental kuat dan model pendapatan jelas yang berpeluang menarik pendanaan. Karena itu, kemampuan mahasiswa mengelola portofolio usaha secara disiplin menjadi nilai tambah yang nyata.

Kesimpulannya, coaching clinic bagi mahasiswa pengusaha di Lampung merupakan langkah positif untuk menumbuhkan ekosistem kewirausahaan. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada kesinambungan program, dukungan pembiayaan yang terjangkau, serta kemauan peserta menjaga konsistensi setelah pelatihan berakhir. Tanpa itu, antusiasme awal berisiko sekadar menjadi euforia sesaat, bukan fondasi pertumbuhan ekonomi daerah yang kokoh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User