Oct 08, 2026
Bisnis

Ketua DK LPS Berbagi Strategi Ketangguhan Finansial kepada Generasi Muda Lampung

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per akhir 2023, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia baru mencapai 65,43 persen, sementara indeks inklusi keuangan menyentuh 75,02 persen. Kesenj...

Ketua DK LPS Berbagi Strategi Ketangguhan Finansial kepada Generasi Muda Lampung

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per akhir 2023, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia baru mencapai 65,43 persen, sementara indeks inklusi keuangan menyentuh 75,02 persen. Kesenjangan angka tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap produk keuangan tidak selalu berbanding lurus dengan pemahaman yang memadai. Dalam konteks inilah Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu, menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya ketangguhan dan pembelajaran berkelanjutan bagi generasi muda, khususnya di Provinsi Lampung.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah forum finansial daerah yang mempertemukan pelaku industri, akademisi, dan mahasiswa. Anggito menekankan bahwa keberhasilan finansial bukanlah hasil instan, melainkan akumulasi dari proses belajar, disiplin, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan kondisi ekonomi.

Ketangguhan sebagai Fondasi Pengelolaan Keuangan

Dalam paparannya, Anggito menyoroti bahwa ketangguhan atau resilience merupakan kualitas fundamental yang harus dimiliki setiap individu dalam mengelola keuangan pribadi maupun usaha. Ia menjelaskan bahwa fluktuasi ekonomi merupakan keniscayaan, sehingga kemampuan untuk bertahan dan pulih dari tekanan menjadi pembeda antara mereka yang mampu menjaga stabilitas finansial dan yang tidak.

Merujuk pada data Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan IV 2023 tercatat 5,04 persen year-on-year, dengan tingkat inflasi yang terkendali di kisaran 2,61 persen. Angka-angka ini menggambarkan kondisi makro yang relatif stabil, namun tantangan struktural seperti ketimpangan akses modal dan rendahnya literasi keuangan di daerah masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

"Ketangguhan bukan berarti tidak pernah gagal, tetapi kemampuan untuk bangkit dan belajar dari setiap proses yang dilalui," ujar Anggito dalam forum tersebut.

Pernyataan ini sejalan dengan prinsip manajemen risiko yang menekankan pentingnya diversifikasi portofolio dan pengelolaan likuiditas. Bagi generasi muda, pemahaman mengenai konsep ini menjadi krusial mengingat semakin kompleksnya instrumen keuangan yang tersedia di pasar.

Pembelajaran Berkelanjutan dan Literasi Finansial

Di satu sisi, peningkatan literasi keuangan di kalangan anak muda menunjukkan tren positif. Survei OJK mencatat bahwa kelompok usia 18-25 tahun memiliki tingkat literasi yang lebih tinggi dibandingkan kelompok usia dewasa awal, berkat akses informasi digital yang semakin terbuka. Platform edukasi daring, seminar, dan komunitas finansial menjadi kanal pembelajaran yang efektif.

Di sisi lain, masih terdapat tantangan berupa rendahnya kedalaman pemahaman. Banyak anak muda yang mengenal produk investasi namun belum sepenuhnya memahami risiko yang melekat, termasuk potensi kerugian akibat sentimen pasar dan volatilitas harga aset. Rasio utang terhadap pendapatan (debt-to-income ratio) pada kelompok usia produktif juga perlu menjadi perhatian, terutama di tengah maraknya layanan pinjaman daring.

Anggito menekankan bahwa pembelajaran harus bersifat berkelanjutan. Menurutnya, kemampuan untuk terus memperbarui pengetahuan tentang kondisi ekonomi, kebijakan moneter, dan dinamika pasar merupakan investasi jangka panjang yang tidak ternilai. Ia juga mengingatkan pentingnya memahami peran lembaga penjamin simpanan dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.

LPS sendiri memiliki fungsi strategis dalam menjamin simpanan nasabah di perbankan, dengan batas penjaminan yang telah ditetapkan. Pemahaman mengenai mekanisme ini membantu masyarakat untuk lebih tenang dalam mengelola dana dan tidak mudah terpapar risiko capital outflow yang tidak perlu.

Kerja Keras dan Proyeksi Masa Depan Ekonomi

Dari perspektif makro, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2024 berkisar antara 4,7 hingga 5,5 persen, dengan sektor konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama. Valuasi pasar modal domestik juga menunjukkan tren pemulihan, meskipun masih dibayangi ketidakpastian global seperti kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat dan dinamika geopolitik.

Dalam konteks ini, kerja keras dan disiplin menjadi kunci bagi generasi muda untuk memanfaatkan peluang yang ada. Anggito mendorong anak muda Lampung untuk tidak hanya mengejar hasil jangka pendek, tetapi juga membangun fundamental keuangan yang kokoh, mulai dari pengelolaan arus kas, perencanaan kebutuhan, hingga kesiapan menghadapi risiko.

Kesimpulannya, pesan yang disampaikan menegaskan bahwa kesuksesan finansial adalah hasil dari kombinasi ketangguhan mental, pembelajaran terus-menerus, dan etos kerja yang kuat. Bagi pembaca, poin pentingnya adalah membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak dini, memahami risiko di balik setiap instrumen, serta memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi secara bijak tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User