Oct 19, 2026
Bisnis

Cabai Merah Naik di 314 Daerah, Harga Tembus Rp193 Ribu per Kg

Berdasarkan data panel harga pangan yang dirilis Badan Pangan Nasional per pekan ketiga bulan ini, harga cabai merah dan cabai rawit mengalami kenaikan yang cukup signifikan di hampir seluruh wilayah ...

Cabai Merah Naik di 314 Daerah, Harga Tembus Rp193 Ribu per Kg

Berdasarkan data panel harga pangan yang dirilis Badan Pangan Nasional per pekan ketiga bulan ini, harga cabai merah dan cabai rawit mengalami kenaikan yang cukup signifikan di hampir seluruh wilayah Indonesia. Rata-rata nasional harga cabai merah tercatat berada di level Rp67.313 per kilogram, sementara cabai rawit menyentuh angka Rp88.138 per kilogram. Kenaikan ini terpantau terjadi di 314 kabupaten dan kota dari total wilayah administrasi yang dimonitor, menjadikannya salah satu lonjakan harga komoditas hortikultura paling luas dalam beberapa kuartal terakhir.

Yang menarik, disparitas harga antarwilayah sangat lebar. Harga tertinggi tercatat menembus Rp193 ribu per kilogram di sejumlah daerah dengan keterbatasan pasokan, sementara di sentra produksi seperti Jawa Barat bagian selatan dan beberapa kabupaten di Sumatera, harga masih berada di kisaran Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram. Selisih ini mencerminkan persoalan distribusi yang belum terselesaikan, bukan semata persoalan produksi di tingkat petani.

Anatomi Kenaikan: Pasokan, Cuaca, dan Biaya Logistik

Membaca tren harga cabai tidak bisa dilepaskan dari siklus musiman. Secara historis, periode menjelang akhir tahun hingga awal tahun selalu diwarnai kenaikan harga karena curah hujan tinggi menurunkan kualitas dan volume panen. Curah hujan yang meningkat membuat risiko gagal panen dan busuk buah meningkat, sehingga pasokan ke pasar induk berkurang. Dalam bahasa sederhana, ketika pasokan di pasar tradisional menipis sementara permintaan rumah tangga relatif stabil, harga otomatis akan naik.

Di satu sisi, kenaikan harga ini sebenarnya menguntungkan petani yang selama ini menghadapi harga jual rendah di tingkat kebun. Ketika harga di pasar konsumen melonjak, sebagian petani di daerah dengan akses pasar langsung bisa menikmati margin yang lebih baik. Indeks Nilai Tukar Petani (NTP) untuk subsektor hortikultura berpotensi mencatat perbaikan jika kenaikan ini konsisten beberapa pekan ke depan.

Di sisi lain, kenaikan ini menekan daya beli rumah tangga, khususnya kelompok menengah ke bawah yang mengalokasikan porsi belanja lebih besar untuk bahan pangan. Cabai merupakan bumbu pokok dalam hampir seluruh masakan Indonesia, sehingga lonjakan harga berdampak langsung pada inflasi pangan bergejolak atau volatile food. Komponen ini menjadi salah satu penyumbang utama inflasi bulanan yang sulit dikendalikan karena sifatnya yang musiman dan rentan terhadap gangguan cuaca.

Pro dan Kontra di Ruang Kebijakan

Pro: intervensi pemerintah melalui operasi pasar dan kerja sama antardaerah dapat mempercepat normalisasi harga. Langkah seperti ini pernah terbukti efektif ketika disparitas harga antarwilayah ditekan dengan memindahkan pasokan dari daerah surplus ke daerah defisit. Dalam konteks ini, perbaikan data logistik dan informasi harga real-time menjadi kunci agar distribusi tidak tersendat.

Kontra: intervensi jangka pendek sering kali hanya bersifat tambal sulam. Tanpa perbaikan fundamental berupa peningkatan produktivitas, diversifikasi waktu tanam, serta penguatan rantai dingin (cold chain), pola kenaikan harga yang berulang setiap tahun akan terus terjadi. Struktur pasar cabai yang terfragmentasi membuat fluktuasi harga sulit diredam hanya dengan operasi pasar sesaat.

“Fluktuasi harga cabai adalah fenomena struktural, bukan sekadar gangguan sesaat. Yang dibutuhkan adalah perbaikan tata niaga dan infrastruktur pascapanen, bukan hanya respons darurat,” ujar seorang pengamat ekonomi pertanian dalam sebuah diskusi panel harga pangan.

Proyeksi dan Risiko ke Depan

Ke depan, proyeksi harga cabai sangat bergantung pada dua variabel utama: pola cuaca dan kelancaran distribusi. Jika curah hujan tetap tinggi hingga kuartal berikutnya, risiko kenaikan lanjutan masih terbuka, terutama untuk cabai rawit yang lebih sensitif terhadap kelembapan. Namun, jika panen di sentra produksi kembali normal, harga berpotensi mengalami koreksi bertahap menuju kisaran rata-rata historis.

Dari sisi sentimen pasar, kenaikan harga pangan segar biasanya berdampak pada ekspektasi inflasi jangka pendek. Bank Indonesia dan pemerintah perlu mencermati agar lonjakan ini tidak merambat ke ekspektasi upah dan harga barang lain. Dalam kerangka kebijakan moneter, gejolak harga pangan umumnya direspons dengan pendekatan sisi pasokan, bukan pengetatan suku bunga, karena sifatnya yang temporer.

Bagi konsumen, strategi paling rasional adalah menyesuaikan pola belanja dan mencari alternatif bahan. Bagi pembuat kebijakan, momen ini menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan tidak cukup diukur dari ketersediaan nasional, tetapi juga dari kemampuan menjaga stabilitas harga di tingkat rumah tangga. Tanpa itu, volatilitas harga cabai akan terus menjadi cerita tahunan yang berulang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User