Buenos Aires — Instruktur Pilates Bongkar Mitos Metode Latihan Populer
BUENOS AIRES — Metode latihan pilates terus menambah pengikut di berbagai belahan dunia. Tim peliput LN+ mendatangi pusat pelatihan Toulouse yang berlokasi
BUENOS AIRES — Metode latihan pilates terus menambah pengikut di berbagai belahan dunia. Tim peliput LN+ mendatangi pusat pelatihan Toulouse yang berlokasi di kawasan Palermo, Buenos Aires, Argentina, untuk berbincang dengan instruktur pilates Melani Giommetti. Ia mengungkap teknik, filosofi, serta sejumlah mitos yang selama ini keliru dipahami publik tentang disiplin kebugaran yang kian digemari lintas kalangan tersebut.
Giommetti menegaskan bahwa pilates bukan sekadar tren sesaat. Menurutnya, latihan ini memiliki tujuan jangka panjang yang jelas bagi tubuh. "Aktivitas ini berguna untuk memperkuat otot-otot kita secara sadar dan dalam jangka panjang," ujarnya. Kesadaran gerak, lanjut dia, menjadi pembeda utama pilates dibandingkan latihan kebugaran konvensional yang cenderung mengejar hasil instan.
Filosofi Joseph Pilates: Kebahagiaan Berpangkal pada Tubuh
Joseph Pilates, pencipta metode latihan ini, semasa hidupnya kerap mengingatkan satu prinsip mendasar: "Kita adalah arsitek kehidupan kita sendiri." Sejalan dengan gagasan itu, ia menekankan bahwa "kebahagiaan tunduk pada kesejahteraan fisik, di atas tingkat sosial maupun ekonomi."
Pernyataan tersebut mencerminkan keyakinan Pilates bahwa kondisi tubuh menentukan kualitas hidup seseorang secara menyeluruh. Status sosial dan kekayaan materi, menurut pandangannya, tidak banyak berarti apabila tubuh tidak berada dalam keadaan sehat dan bugar. Filosofi inilah yang hingga kini menjadi fondasi setiap sesi latihan pilates di seluruh dunia, termasuk di institut Toulouse.
Rantai Miofasial: Memandang Tubuh sebagai Kesatuan
Di institut tempatnya mengajar, Giommetti bersama timnya mengembangkan riset mandiri dan mempromosikan praktik pilates melalui pendekatan rantai miofasial (cadenas miofasciales) — rangkaian latihan yang merevolusi praktik olahraga ini. Pendekatan tersebut memandang tubuh secara integral, bukan sebagai kumpulan kelompok otot yang bekerja sendiri-sendiri.
"Di sini, di institut kami, kami memiliki riset sendiri dan mempromosikan praktik pilates melalui rantai miofasial. Ini berarti memandang tubuh secara utuh, bukan sebagai kelompok otot yang terisolasi," tutur Giommetti. Dengan cara pandang tersebut, setiap gerakan dirancang melibatkan koneksi antarotot dan jaringan fasia, sehingga hasilnya lebih fungsional bagi aktivitas sehari-hari.
Reformer: Alat Kunci dalam Latihan
Salah satu perangkat yang paling identik dengan pilates adalah reformer, yakni ranjang latihan dengan sistem pegas dan rel. Giommetti menyebut alat ini sebagai elemen kunci dalam metode tersebut.
"Ranjang yang disebut reformer adalah alat kunci. Alat ini bukan hanya membantu kita, tetapi juga memberdayakan kita agar latihan tidak sekadar menjadi kerja pasif," jelasnya. Dengan kata lain, reformer berfungsi ganda: menopang tubuh sekaligus memberikan resistensi yang menantang, sehingga otot tetap bekerja aktif sepanjang sesi latihan.
Dua Mitos yang Dipatahkan
Sebagaimana disiplin olahraga lainnya, pilates juga dihantui sejumlah kesalahpahaman. Giommetti meluruskan dua mitos yang paling sering beredar di masyarakat.
Pertama, anggapan bahwa berlatih di atas ranjang berarti latihannya ringan. "Tidak benar bahwa karena bekerja di atas ranjang, latihannya jadi tidak berat. Dalam pilates kita bekerja keras menggunakan beban dan berat tubuh sendiri," tegasnya. Kedua, mitos bahwa pilates hanya diperuntukkan bagi kaum perempuan.
Giommetti menyaksikan sendiri perubahan tren di studionya. "Semakin banyak pria yang datang dan berlatih, karena pilates meningkatkan performa banyak disiplin olahraga lain yang mereka tekuni," katanya.
| Mitos | Fakta |
|---|---|
| Latihan di atas reformer itu ringan | Pilates memakai beban tambahan dan berat tubuh sendiri secara intensif |
| Pilates hanya untuk perempuan | Jumlah pria yang berlatih terus meningkat untuk menunjang olahraga lain |
| Pilates melatih otot secara terpisah | Pendekatan rantai miofasial melatih tubuh sebagai satu kesatuan |
Analisis: Mengapa Pilates Terus Berkembang
Popularitas pilates yang terus menanjak dapat dijelaskan dari beberapa faktor. Pertama, sifat latihannya yang berdampak rendah namun efektif membuatnya ramah bagi berbagai usia dan kondisi tubuh. Kedua, pendekatan ilmiah seperti riset rantai miofasial yang dikembangkan institut Toulouse memberikan legitimasi lebih bagi metode ini di mata kalangan profesional kebugaran.
Ketiga, pilates bersifat komplementer. Alih-alih menyaingi olahraga lain, ia justru memperkuat fondasi tubuh sehingga performa di disiplin lain ikut terangkat — alasan yang membuat semakin banyak atlet pria memasukkannya ke dalam rutinitas latihan. Pesan warisan Joseph Pilates pun terasa tetap relevan hingga hari ini: kesejahteraan fisik adalah fondasi kebahagiaan, dan setiap orang memegang kendali penuh untuk membangunnya sendiri.
Dengan semakin banyaknya pusat pelatihan yang mengadopsi pendekatan terintegrasi, pilates diprediksi akan terus memperluas basis penggemarnya — melintasi batas gender, usia, maupun latar belakang olahraga.
[SOCIAL_TWEET]: Instruktur Melani Giommetti bongkar 2 mitos pilates: latihan di reformer bukan berarti ringan, dan pilates bukan cuma untuk perempuan. Filosofi Joseph Pilates: kebahagiaan berpangkal pada kebugaran fisik. #Pilates #Kebugaran #Beritadua [SOCIAL_TG]: 💪 PILATES: Bukan Sekadar Tren! Instruktur Melani Giommetti mengungkap rahasia metode latihan populer ini — dari rantai miofasial hingga alat reformer. Dua mitos dipatahkan: latihan di atas ranjang tetap berat, dan semakin banyak pria yang bergabung. Selengkapnya di Beritadua.com 🔗
Comments (0)