BRI Peduli Dorong Kapasitas Peternak Sapi Perah Malang

Berdasarkan data Kementerian Pertanian per kuartal III 2024, populasi sapi perah di Indonesia mencapai 534.000 ekor, dengan produksi susu segar nasional sekitar 968.000 ton per tahun. Namun, kapasitas...

Aug 07, 2026 - 17:00
0 0
BRI Peduli Dorong Kapasitas Peternak Sapi Perah Malang

Berdasarkan data Kementerian Pertanian per kuartal III 2024, populasi sapi perah di Indonesia mencapai 534.000 ekor, dengan produksi susu segar nasional sekitar 968.000 ton per tahun. Namun, kapasitas peternak lokal masih menghadapi tantangan dalam hal kualitas produk dan akses pemasaran. Di tengah kondisi tersebut, program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, yaitu BRI Peduli, hadir untuk mendongkrak kapasitas kelompok peternak sapi perah di Desa Sumberkaranglo, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Inisiatif ini tidak hanya menyentuh aspek produksi, tetapi juga memperkuat rantai distribusi agar peternak mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.

Dukungan Terintegrasi untuk Peternak Lokal

Program BRI Peduli di Sumberkaranglo dirancang sebagai intervensi holistik. Bantuan yang diberikan mencakup peningkatan kualitas pakan ternak, pelatihan manajemen peternakan modern, serta pendampingan dalam pengemasan dan sertifikasi produk. Kelompok ternak setempat yang beranggotakan sekitar 40 keluarga kini memiliki akses ke peralatan pemerahan higienis dan unit pengolahan susu sederhana. Data internal BRI menunjukkan bahwa sejak program berjalan pada awal tahun 2024, volume produksi susu kelompok ini mengalami kenaikan dari rata-rata 1.200 liter per hari menjadi 1.500 liter per hari, atau tumbuh 25% secara year-on-year. Di sisi lain, harga jual susu di tingkat peternak juga meningkat sekitar 10% karena kualitas yang lebih baik dan kemasan yang lebih menarik.

Pro: Pendekatan ini dinilai tepat sasaran karena tidak hanya memberikan bantuan modal, tetapi juga membangun kapasitas jangka panjang. Kontra: Namun, beberapa pengamat mengingatkan bahwa keberlanjutan program sangat bergantung pada pendampingan pasca-program dan kemampuan kelompok untuk mandiri secara finansial. Meski demikian, BRI menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang untuk mendukung ekosistem agribisnis nasional.

Dampak Ekonomi dan Sosial di Tingkat Akar Rumput

Dampak ekonomi dari program ini terlihat dari peningkatan pendapatan bersih peternak. Sebelumnya, margin keuntungan peternak hanya sekitar 15% dari total penjualan. Setelah intervensi, margin tersebut naik menjadi 22% karena efisiensi biaya pakan dan pengurangan susu yang terbuang. Secara sosial, program ini juga membuka lapangan kerja baru di sektor pengolahan susu, seperti pembuatan yoghurt dan keju segar. Berdasarkan survei internal BRI, tingkat kepuasan peternak terhadap program mencapai 87%, dengan indikator utama berupa peningkatan keterampilan dan kepercayaan diri dalam memasarkan produk ke koperasi maupun ritel modern.

Di satu sisi, keberhasilan ini menunjukkan bahwa program CSR yang terukur dapat menjadi katalis pertumbuhan ekonomi pedesaan. Di sisi lain, tantangan logistik dan fluktuasi harga susu nasional yang dipengaruhi oleh impor tetap menjadi risiko. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), harga susu segar di tingkat peternak pada September 2024 rata-rata Rp6.500 per liter, masih di bawah biaya produksi ideal Rp7.000 per liter untuk peternak skala kecil. Karena itu, program BRI Peduli berupaya menutup celah tersebut dengan memberikan pelatihan negosiasi harga dan diversifikasi produk turunan.

Proyeksi dan Perluasan Skala

Ke depan, BRI berencana mereplikasi model Sumberkaranglo ke lima wilayah lain di Jawa Timur dan Jawa Tengah pada tahun 2025. Targetnya, setiap kelompok ternak mampu meningkatkan kapasitas produksi minimal 20% dan menjalin kemitraan dengan minimal dua buyer korporasi. Proyeksi ini sejalan dengan target pemerintah untuk mencapai swasembada susu 2030, yang membutuhkan peningkatan produksi nasional sebesar 6% per tahun. Namun, para analis mencatat bahwa tanpa dukungan kebijakan yang konsisten, seperti stabilisasi harga dan insentif pajak untuk peternak kecil, program CSR saja tidak cukup.

Sentimen pasar terhadap sektor peternakan sapi perah saat ini cenderung positif, ditopang oleh meningkatnya konsumsi susu domestik yang tumbuh 3,5% per tahun. Namun, fundamental industri masih rapuh karena ketergantungan pada pakan impor dan fluktuasi nilai tukar rupiah. Oleh karena itu, kolaborasi antara BUMN, pemerintah daerah, dan asosiasi peternak menjadi kunci. BRI Peduli, melalui pendekatan berbasis data dan pendampingan intensif, telah menunjukkan bahwa investasi sosial yang terencana dapat menghasilkan dampak yang terukur. Meskipun demikian, evaluasi berkala dan transparansi laporan dampak tetap diperlukan agar program ini tidak hanya menjadi seremonial belaka.

Sebagai penutup, keberhasilan BRI Peduli di Sumberkaranglo memberikan pelajaran berharga bahwa peningkatan kapasitas peternak tidak cukup hanya dengan bantuan alat, tetapi juga membutuhkan penguatan kelembagaan dan akses pasar. Dengan proyeksi perluasan yang jelas, program ini berpotensi menjadi model CSR yang berkelanjutan. Namun, semua pihak harus waspada terhadap risiko oversupply di masa depan jika produksi meningkat tanpa diimbangi perluasan pasar ekspor. Oleh karena itu, diversifikasi produk dan kemitraan strategis dengan industri pengolahan susu harus terus didorong. Dengan demikian, kesejahteraan peternak tidak hanya meningkat secara nominal, tetapi juga berkelanjutan dalam jangka panjang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User