BRI Peduli Dongkrak Kapasitas Peternak Sapi Perah Malang

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per akhir 2024, produksi susu segar dalam negeri (SSDN) Indonesia diperkirakan berada di kisaran 560 ribu ton per tahun, sementara kebutuhan konsumsi nasio...

Aug 07, 2026 - 08:03
0 0
BRI Peduli Dongkrak Kapasitas Peternak Sapi Perah Malang

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per akhir 2024, produksi susu segar dalam negeri (SSDN) Indonesia diperkirakan berada di kisaran 560 ribu ton per tahun, sementara kebutuhan konsumsi nasional menembus 4,3 juta ton. Kesenjangan tersebut membuat rasio ketergantungan impor susu masih berada di atas 80 persen. Di tengah fundamental yang timpang antara pasokan dan permintaan ini, intervensi di tingkat hulu menjadi krusial. Salah satunya datang dari BRI Peduli yang menyalurkan dukungan kepada Kelompok Ternak Sumber Karanglo di Kabupaten Malang, Jawa Timur, melalui peningkatan kualitas produksi dan pemasaran produk olahan susu.

Konteks Makro: Jawa Timur Penopang Produksi Susu Nasional

Jawa Timur selama ini berkontribusi sekitar 55–57 persen terhadap total produksi susu segar nasional, dengan Malang sebagai salah satu kantong produksi utama. Namun, produktivitas sapi perah rakyat rata-rata hanya 10–12 liter per ekor per hari, jauh di bawah standar negara produsen susu maju yang dapat mencapai 25–30 liter. Produktivitas sendiri merupakan ukuran output susu per ternak; semakin tinggi angkanya, semakin efisien biaya produksi per liternya.

Dukungan yang disalurkan kepada Kelompok Ternak Sumber Karanglo mencakup pendampingan manajemen pakan, penanganan kesehatan ternak, higienitas pemerahan, hingga pengemasan dan pemasaran produk olahan. Pendekatan semacam ini menyasar dua titik lemah sekaligus: kualitas bahan baku di hulu dan nilai tambah (value added) di hilir, yakni selisih nilai produk setelah diolah dibanding saat masih berupa susu mentah.

Analisis Dua Sisi: Peluang dan Tantangan Pemberdayaan

Di satu sisi, program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) yang menyentuh peternak rakyat berpotensi memperbaiki fundamental rantai pasok susu domestik. Apabila kualitas susu segar meningkat—diukur dari total plate count atau jumlah bakteri serta kadar lemak—maka industri pengolahan susu lebih bersedia menyerap produksi lokal dengan harga lebih baik. Tren permintaan juga menjanjikan: konsumsi susu per kapita Indonesia baru sekitar 16 kilogram per tahun, terendah di kawasan ASEAN dibanding Malaysia yang menembus 50 kilogram. Artinya, ruang pertumbuhan pasar domestik masih sangat lebar dan sentimen pasar terhadap produk susu lokal berpeluang menguat.

Di sisi lain, skala intervensi program pemberdayaan semacam ini relatif terbatas dibanding kebutuhan nasional. Satu kelompok ternak dengan populasi puluhan hingga ratusan ekor sapi hanya berkontribusi marginal terhadap target swasembada. Risiko lain adalah keberlanjutan: tanpa pendampingan jangka panjang dan akses pembiayaan berkesinambungan, peningkatan kapasitas kerap kembali ke titik semula setelah program berakhir. Harga susu segar di tingkat peternak juga fluktuatif, sehingga margin usaha tetap tipis meski volume produksi mengalami kenaikan.

Proyeksi: Efek Pengganda dan Arah Kebijakan

Proyeksi ke depan, rencana program makan bergizi bagi anak sekolah diperkirakan menambah kebutuhan susu nasional secara signifikan. Jika pasokan lokal tidak ditingkatkan, tambahan permintaan itu berpotensi diserap impor. Capital outflow —keluarnya devisa untuk membeli produk luar negeri— di sektor ini dapat terus mengalami kenaikan year-on-year bila produksi domestik stagnan, yang pada gilirannya menekan neraca perdagangan produk susu.

Dalam konteks tersebut, sinergi antara perbankan, koperasi susu, dan peternak menjadi kunci. BRI sebagai bank dengan portofolio pembiayaan UMKM terbesar memiliki instrumen kredit mikro seperti KUR yang dapat melengkapi program pemberdayaan nonfinansial. Likuiditas pembiayaan yang memadai di hulu akan menentukan apakah peternak mampu menambah populasi, memperbaiki kandang, dan membeli sapi perah berkualitas.

Valuasi ekonomi dari program seperti ini memang tidak langsung terlihat pada indeks produksi nasional dalam satu atau dua tahun. Namun, akumulasi intervensi serupa di berbagai sentra sapi perah—Malang, Boyolali, Pasuruan, hingga Lembang—dapat membentuk tren kenaikan produktivitas yang lebih struktural dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan.

Kesimpulan yang Berimbang

Langkah BRI Peduli mendukung Kelompok Ternak Sumber Karanglo patut diapresiasi sebagai bagian dari penguatan kapasitas di tingkat mikro. Kendati demikian, dampaknya terhadap rasio swasembada susu nasional baru akan terasa bila diikuti replikasi yang masif, pendampingan berkelanjutan, dan integrasi dengan pembiayaan formal. Bagi pembaca, perkembangan sektor ini layak dicermati melalui indikator produksi SSDN yang dirilis BPS secara berkala, bukan dari klaim sepihak mana pun.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User