BRI Peduli Dongkrak Kapasitas dan Pemasaran Peternak Sapi Perah Malang
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per semester pertama 2026, produksi susu segar nasional diperkirakan stagnan pada kisaran 950 ribu ton per tahun, sementara kebutuhan industri pengolahan s...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per semester pertama 2026, produksi susu segar nasional diperkirakan stagnan pada kisaran 950 ribu ton per tahun, sementara kebutuhan industri pengolahan susu terus bertumbuh sekitar 4–5 persen year-on-year. Di tengah kesenjangan pasokan tersebut, kebutuhan susu domestik masih ditopang impor dengan rasio ketergantungan yang menurut asosiasi peternak mencapai sekitar 80 persen. Dalam konteks itulah inisiatif tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) bernama BRI Peduli hadir mendampingi Kelompok Ternak Sumber Karanglo di Kabupaten Malang, Jawa Timur, untuk memperbaiki kualitas produksi sekaligus memperluas akses pemasaran hasil ternak sapi perah.
Malang sendiri merupakan salah satu kantong produksi susu utama di Indonesia, dengan kontribusi signifikan terhadap pasokan susu segar Jawa Timur. Kawasan dataran tinggi di wilayah ini telah lama menjadi lumbung susu nasional, sehingga intervensi pada kelompok peternak setempat dinilai strategis untuk memperbaiki fundamental industri susu dari hulu. Dari sisi makro, minat investasi pada sektor agribisnis juga ikut dipengaruhi sentimen pasar global, termasuk risiko capital outflow ketika suku bunga acuan negara maju bergerak naik.
Penguatan Kapasitas dari Kandang hingga Kualitas Susu
Melalui program BRI Peduli, Kelompok Ternak Sumber Karanglo mendapatkan pendampingan yang menyasar peningkatan kualitas produk, mulai dari tata kelola kandang, penanganan pakan, hingga higienitas pemerahan. Perbaikan mutu ini penting karena kualitas susu—yang diukur dari kadar lemak, protein, dan total plate count—menentukan harga beli di tingkat industri pengolahan susu (IPS). Semakin baik kualitas, semakin tinggi pula nilai jual yang diterima peternak.
Data Kementerian Pertanian menunjukkan produktivitas sapi perah lokal rata-rata baru mencapai 10–12 liter per ekor per hari, masih di bawah potensi genetik sapi perah yang bisa menembus 20 liter. Program pelatihan dan perbaikan manajemen pemeliharaan diharapkan mendorong produktivitas kelompok binaan naik bertahap, misalnya dari 12 liter menjadi 15 liter per ekor per hari dalam dua tahun. Jika tercapai, tambahan produksi ini secara langsung meningkatkan pendapatan peternak karena susu dihargai per liter dengan koreksi kualitas.
Dua Sisi: Optimisme Program versus Tantangan Struktural
Di satu sisi, pendampingan seperti ini memberikan efek nyata pada kapasitas peternak kecil. Studi lapangan di sentra susu menunjukkan bahwa kelompok yang mendapat pelatihan teknis dan pendampingan pemasaran mengalami kenaikan produktivitas rata-rata 8–12 persen dalam satu hingga dua tahun. Pemasaran yang lebih terstruktur juga memperpendek rantai perantara yang selama ini menekan margin peternak, sehingga porsi harga yang diterima peternak (farmer share) dapat meningkat.
Di sisi lain, para pengamat mengingatkan bahwa program berskala kelompok sulit menyelesaikan persoalan struktural sendirian. Biaya pakan konsentrat yang fluktuatif, terbatasnya lahan hijauan di musim kemarau, serta pergerakan indeks harga pakan yang kerap lebih cepat daripada harga susu masih menjadi variabel di luar kendali peternak. Ketika rasio harga input-output memburuk, selisih margin justru menekan peternak meski produktivitasnya membaik.
“Program CSR yang baik adalah yang membangun kapasitas, bukan sekadar memberi bantuan. Namun tanpa perbaikan iklim usaha—stabilitas harga, ketersediaan pakan, dan infrastruktur rantai dingin—keberlanjutannya akan diuji,” ujar ekonom pertanian yang memantau sentra susu Jawa Timur.
Pemasaran dan Hilirisasi: Menjaring Nilai Tambah
Selain aspek teknis, BRI Peduli juga memfokuskan intervensi pada pemasaran produk kelompok ternak. Akses pasar yang lebih luas memungkinkan susu segar dijual tidak hanya kepada pengepul, tetapi juga ke koperasi, industri pengolahan, hingga konsumen langsung melalui produk olahan seperti yoghurt dan susu pasteurisasi. Hilirisasi sederhana ini menaikkan valuasi produk dari sekadar komoditas mentah menjadi barang setengah jadi dengan harga jual lebih tinggi.
Dari sisi permintaan, konsumsi produk susu domestik mengalami kenaikan seiring bertumbuhnya kelas menengah. Proyeksi konsumsi susu per kapita nasional masih jauh di bawah rata-rata negara tetangga, sehingga ruang pertumbuhan pasar tetap terbuka lebar. Namun demikian, persaingan dengan susu impor yang lebih murah tetap menjadi ujian nyata bagi daya saing produk lokal.
Program ini juga relevan dengan akses peternak terhadap modal kerja. Banyak peternak kecil kesulitan memenuhi kebutuhan likuiditas musiman untuk pembelian pakan karena keterbatasan agunan dan pencatatan keuangan. Pendampingan manajemen usaha diharapkan memperbaiki kelayakan kredit kelompok, sehingga ke depan mereka dapat memanfaatkan fasilitas pembiayaan formal untuk membeli sapi bibit atau pakan berkualitas.
Proyeksi dan Catatan Keberlanjutan
Ke depan, keberhasilan program semacam ini tergantung pada tiga hal: keberlanjutan pendampingan, keterlibatan pemerintah daerah dalam stabilisasi harga, serta investasi infrastruktur seperti unit pengolahan dan rantai dingin. Tanpa ketiganya, capaian di tingkat kelompok berisiko tidak tereskalasi menjadi perbaikan industri secara menyeluruh.
Catatan penting lainnya adalah perlunya pengukuran dampak yang transparan, misalnya melalui indikator jumlah peternak binaan, volume produksi sebelum dan sesudah program, serta kenaikan pendapatan riil. Evaluasi berkala semacam ini menjaga program tetap relevan dan mencegah tumpang tindih dengan intervensi pemangku kepentingan lain.
Secara keseluruhan, inisiatif BRI Peduli terhadap Kelompok Ternak Sumber Karanglo merupakan langkah positif dalam memperkuat mata rantai pertama industri susu nasional. Meski tantangan struktural tidak dapat diabaikan, penguatan kapasitas dan pemasaran di tingkat peternak tetap menjadi fondasi penting bagi Indonesia untuk menekan ketergantungan impor dan meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat dalam jangka panjang.
Comments (0)