Pendampingan BRI Angkat Tenun Ikat Troso KainRatu ke Pasar Dunia

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per semester I 2026, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menjadi penopang utama perekonomian nasional dengan kontribusi sekitar 61 persen ...

Aug 21, 2026 - 16:24
0 0
Pendampingan BRI Angkat Tenun Ikat Troso KainRatu ke Pasar Dunia

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per semester I 2026, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menjadi penopang utama perekonomian nasional dengan kontribusi sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan menyerap lebih dari 97 persen tenaga kerja. Namun, sumbangan UMKM terhadap ekspor nasional baru berkisar 15,7 persen, angka yang menunjukkan celah besar untuk mendorong produk lokal menembus pasar global. Salah satu contohnya adalah KainRatu, perajin tenun ikat asal Troso, Jepara, Jawa Tengah, yang berhasil membawa produknya ke mancanegara setelah mendapat pendampingan dari BRI.

Tenun Troso: Warisan Ratusan Tahun yang Hidup Kembali

Tenun ikat Troso merupakan warisan budaya yang telah berkembang sejak ratusan tahun silam. Berbeda dengan produk tekstil massal, setiap lembar kain Troso dikerjakan secara manual dengan alat tenun tradisional, sehingga proses produksinya memakan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu. KainRatu mengangkat warisan ini lewat sentuhan desain kontemporer, memadukan motif klasik dengan selera pasar modern. Hasilnya, produk mereka tidak hanya diminati konsumen domestik, tetapi juga mulai dilirik pembeli dari berbagai negara.

Melalui program pelatihan dan pendampingan, BRI membantu KainRatu memperbaiki tata kelola usaha, standarisasi kualitas, hingga strategi pemasaran. Akses ke pameran dagang internasional dan kanal digital memperluas jangkauan pasar. Sebelumnya, penjualan KainRatu bergantung pada pelanggan lokal dan pesanan terbatas; kini produknya menjangkau konsumen lintas negara dengan nilai jual lebih tinggi karena diposisikan sebagai kriya premium. Penjualan pun mengalami kenaikan signifikan sejak program berjalan.

Di Satu Sisi: Peran Perbankan sebagai Katalis Pertumbuhan

Dari sisi positif, keterlibatan perbankan dalam rantai pembinaan UMKM terbukti mempercepat pertumbuhan usaha. Pendampingan yang diberikan tidak sekadar berupa modal, tetapi juga transfer pengetahuan: pelatihan manajemen keuangan, kurasi produk, hingga literasi ekspor. Dengan pendampingan semacam itu, perajin dapat meningkatkan kapasitas produksi tanpa mengorbankan kualitas. Data Bank Indonesia menunjukkan pertumbuhan kredit UMKM secara year-on-year masih berada di kisaran dua digit, sejalan dengan target pemerintah. Rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan juga terus membaik dari tahun ke tahun, mencerminkan komitmen industri memperbesar portofolio pembiayaan ke sektor produktif.

“Pendampingan yang konsisten jauh lebih bernilai daripada sekadar suntikan modal. Yang dibutuhkan UMKM adalah kapasitas untuk berdiri sendiri setelah program selesai,” ujar seorang analis UMKM yang memantau industri kriya nasional.

Peningkatan kapasitas itu tercermin dari proyeksi pertumbuhan omzet KainRatu yang ditargetkan naik hingga 30–40 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan semacam ini, bila berlanjut, dapat menjadi model bagi ribuan perajin tenun lain di Nusantara.

Di Sisi Lain: Tantangan Keberlanjutan dan Risiko Pasar

Namun, analisis dua sisi menuntut kejujuran atas risiko yang mengintai. Pertama, ketergantungan pada program pendampingan perbankan dapat menjadi titik lemah bila pendampingan dihentikan. Keberlanjutan usaha harus ditopang fundamental internal, bukan semata-mata stimulus eksternal. Kedua, kapasitas produksi tenun ikat manual yang terbatas menjadi kendala ketika permintaan ekspor melonjak; regenerasi perajin muda juga menjadi persoalan serius karena minat generasi baru terhadap kerajinan tradisional cenderung menurun.

Dari sisi makro, gejolak nilai tukar rupiah dan sentimen pasar global ikut menentukan daya saing. Pelemahan rupiah memang menguntungkan eksportir dalam jangka pendek karena harga produk menjadi lebih kompetitif di pasar internasional. Namun di sisi lain, fluktuasi kurs dapat mengerek biaya bahan baku impor seperti pewarna sintetis, sehingga margin perajin bisa tergerus. Menguatnya indeks dolar AS di pasar global turut menekan mata uang negara berkembang, sementara risiko capital outflow dan tekanan likuiditas global berpotensi memperlambat permintaan di negara tujuan ekspor.

Persaingan dengan produk tekstil massal dari negara produsen besar juga tidak bisa diabaikan. Keunggulan tenun Troso terletak pada keunikan dan nilai budaya, bukan pada harga. Karena itu, strategi pemasaran yang mengedepankan cerita di balik setiap kain menjadi kunci menjaga valuasi produk di mata konsumen global.

Proyeksi: Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Program

Ke depan, proyeksi pertumbuhan ekspor kriya Indonesia sangat bergantung pada kemampuan membangun ekosistem yang utuh. Perbankan dapat terus berperan sebagai katalis, sementara pemerintah, asosiasi pengrajin, dan institusi pendidikan perlu memperkuat rantai pasok, sertifikasi mutu, serta pendidikan vokasi untuk regenerasi perajin. Kombinasi antara dukungan finansial dan penguatan kapasitas jangka panjang akan menentukan apakah kisah KainRatu menjadi pengecualian atau menjadi tren.

Kisah KainRatu membuktikan bahwa dengan pendampingan yang tepat, produk warisan budaya mampu bersaing di pasar global. Namun, keberhasilan itu baru bermakna jika berkelanjutan: tidak bergantung pada satu program, tidak rapuh terhadap gejolak kurs, dan mampu mewariskan keterampilan kepada generasi berikutnya. Di sinilah seluruh pemangku kepentingan dituntut bekerja sama, agar tenun ikat Troso tidak hanya menjadi cerita sukses sesaat, melainkan fundamental baru bagi ekonomi kreatif Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User