Dari Dapur Rumahan, Sahate Tembus Pasar Global Berkat BRI
Berdasarkan data BPS dan Kementerian Koperasi dan UKM, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional serta menyerap lebih da...
Berdasarkan data BPS dan Kementerian Koperasi dan UKM, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional serta menyerap lebih dari 97 persen tenaga kerja. Namun demikian, kontribusi UMKM terhadap total ekspor nasional masih tertinggal, baru berkisar 15-16 persen. Kesenjangan inilah yang tengah dijembatani oleh berbagai program pemberdayaan, salah satunya lewat jalur pembiayaan dan pendampingan perbankan.
Salah satu cerita yang menonjol datang dari Lince Sulastri, perintis merek Sahate, camilan sehat berbasis beras yang bebas gluten. Berawal dari dapur rumah, produknya kini menembus pasar global. Transformasi itu tidak lepas dari peran program LinkUMKM milik BRI, tempat Lince belajar merancang pengembangan usaha sekaligus memperlebar jangkauan pasar.
Dari Dapur Rumahan ke Panggung Ekspor
Sahate lahir dari keresahan akan minimnya camilan sehat yang aman dikonsumsi, termasuk bagi mereka yang sensitif terhadap gluten. Beras dipilih sebagai bahan baku utama karena melimpah di dalam negeri dan memiliki nilai gizi yang baik. Dengan pengolahan yang higienis serta kemasan yang modern, produk ini kemudian menemukan pasarnya, baik di pasar domestik maupun mancanegara.
Tren konsumsi pangan sehat global mengalami kenaikan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data BPS, ekspor produk makanan olahan Indonesia tumbuh year-on-year (YoY) dalam kisaran 8-10 persen, sejalan dengan meningkatnya permintaan internasional terhadap makanan ringan bernutrisi. Gluten-free menjadi kata kunci yang membuka peluang di kawasan Asia, Eropa, hingga Amerika Utara. Istilah ini merujuk pada produk yang tidak mengandung gluten, protein yang umum terdapat pada gandum, sehingga aman bagi penderita intoleransi gluten.
Peran LinkUMKM BRI dalam Akselerasi Usaha
LinkUMKM adalah platform pemberdayaan milik BRI yang menyatukan layanan pembiayaan, pelatihan, dan pendampingan bagi pelaku UMKM. Melalui program ini, Lince tidak hanya memperoleh modal kerja, tetapi juga wawasan tentang manajemen keuangan, pengemasan, pemasaran digital, hingga standar mutu ekspor. Pendampingan semacam ini penting karena banyak usaha mikro gagal tumbuh bukan karena kekurangan produk, melainkan karena keterbatasan kapasitas manajerial.
Dari sisi permodalan, portofolio kredit BRI untuk sektor UMKM terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun, dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang terjaga rendah. Hal ini menunjukkan bahwa pembiayaan ke usaha kecil bukan sekadar program sosial, melainkan memiliki fundamental bisnis yang sehat.
Kombinasi antara modal dan pendampingan terbukti menjadi pengungkit utama. Pembiayaan tanpa kapasitas usaha hanya akan menciptakan beban, tetapi pembiayaan yang disertai pelatihan mampu mendorong UMKM naik kelas hingga menembus pasar ekspor,
ujur seorang ekonom yang memantau pemberdayaan UMKM nasional.
Dua Sisi: Peluang Besar dan Tantangan yang Tak Ringan
Di satu sisi, keberhasilan Sahate menunjukkan bahwa pasar global tidak lagi eksklusif bagi korporasi besar. Dengan dukungan ekosistem pembiayaan dan pendampingan, usaha rumahan mampu bersaing dari sisi kualitas maupun harga. Kehadiran program seperti LinkUMKM juga membantu menjaga likuiditas usaha di tengah fluktuasi permintaan yang sewaktu-waktu berubah.
Di sisi lain, jalan menuju ekspor tetap penuh rintangan. Sertifikasi produk seperti izin edar BPOM, sertifikat halal, hingga standar HACCP membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Fluktuasi nilai tukar rupiah turut memengaruhi daya saing harga di pasar internasional; ketika rupiah melemah, biaya bahan baku impor menjadi lebih mahal, sementara ketika menguat, margin eksportir dapat tergerus. Risiko capital outflow di pasar keuangan global juga dapat mendorong kenaikan suku bunga dan memperberat biaya kredit.
Tantangan lain datang dari skala produksi. Permintaan ekspor yang bersifat musiman dan fluktuatif menuntut pelaku usaha menjaga stok serta kualitas secara konsisten. Tanpa kapasitas produksi yang memadai, pesanan besar justru berpotensi menjadi bumerang. Karena itu, peran pendampingan dalam perencanaan kapasitas sama pentingnya dengan modal itu sendiri.
Proyeksi dan Arah ke Depan
Ke depan, proyeksi pertumbuhan UMKM berorientasi ekspor masih menjanjikan. Pemerintah menargetkan kontribusi ekspor UMKM naik bertahap menuju 17 persen dalam beberapa tahun mendatang, seiring perbaikan akses pembiayaan dan fasilitasi perdagangan. Indeks kepercayaan pelaku usaha mikro juga menunjukkan tren membaik, didorong oleh sentimen pasar domestik yang relatif stabil.
Kisah Sahate mengajarkan bahwa keberhasilan usaha kecil tidak ditentukan semata oleh besar kecilnya modal awal, tetapi oleh kombinasi antara inovasi produk, literasi usaha, dan akses terhadap ekosistem pendukung. Valuasi sebuah merek, pada akhirnya, tumbuh dari konsistensi kualitas dan kemampuan menjangkau pasar yang lebih luas.
Bagi pelaku UMKM lain, pelajaran utamanya sederhana: pintu pasar global terbuka, asalkan produk bermutu, manajemen tertata, dan pembiayaan digunakan secara produktif. Dengan dukungan yang tepat, transformasi dari dapur rumahan menuju panggung ekspor bukan lagi sekadar angan-angan.
Comments (0)