Oct 08, 2026
Bisnis

BRI Dorong UMKM Tembus Pasar Global Lewat GMBPF 2026

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per awal 2026, sektor UMKM menyumbang sekitar 61 persen dari Produk Domestik Bruto nasional dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja. Namun, kontribusi ...

BRI Dorong UMKM Tembus Pasar Global Lewat GMBPF 2026

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per awal 2026, sektor UMKM menyumbang sekitar 61 persen dari Produk Domestik Bruto nasional dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja. Namun, kontribusi UMKM terhadap ekspor masih tertahan di kisaran 15-16 persen, jauh di bawah capaian negara tetangga seperti Thailand yang menembus 25 persen. Kesenjangan inilah yang menjadi latar upaya perluasan akses pasar lintas negara, termasuk melalui ajang Global Muslim Business and Products Fair (GMBPF) 2026 di Macao.

Dalam gelaran tersebut, sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah binaan bank pelat merah tampil memamerkan produk unggulan mereka. Langkah ini berjalan seiring kolaborasi dengan perwakilan diplomatik Indonesia di Hong Kong yang membawahi wilayah Macao. Tujuannya jelas: memperluas jaringan pembeli internasional sekaligus menguji daya saing produk lokal di pasar yang selama ini didominasi pemain dari Timur Tengah dan Asia Timur.

Mengapa Pasar Global Menjadi Kunci Pertumbuhan

Secara fundamental, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan berada di kisaran 5,1 persen year-on-year pada 2026 membutuhkan motor penggerak baru. Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama, tetapi likuiditas domestik menghadapi tantangan seiring tren suku bunga global yang belum sepenuhnya melonggar. Di satu sisi, ekspor UMKM menawarkan potensi margin lebih tinggi karena selisih harga di pasar internasional bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat dibanding harga jual domestik.

Di sisi lain, membawa UMKM ke pasar global bukan perkara sederhana. Ada hambatan sertifikasi halal, standar mutu, hingga logistik yang membuat biaya pengiriman membengkak. Rasio biaya logistik terhadap PDB nasional masih berkisar 14 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata ASEAN yang berada di angka 11 persen. Artinya, tanpa intervensi pembiayaan dan pendampingan, produk UMKM berisiko kalah bersaing hanya karena ongkos kirim.

Peran Pembiayaan dan Pendampingan Ekspor

Skema pembiayaan menjadi elemen krusial dalam mendorong UMKM menembus rantai pasok global. Portofolio kredit UMKM perbankan nasional tercatat tumbuh sekitar 7,5 persen year-on-year pada akhir 2025, namun porsi kredit ekspor bagi segmen ini masih relatif kecil. Keterbatasan informasi pasar dan akses pembeli menjadi penyebab utama. Kehadiran dalam pameran internasional seperti GMBPF menjadi jembatan yang menghubungkan produsen dengan distributor, importir, dan jaringan ritel modern di kawasan Asia Pasifik.

"UMKM kita punya kualitas produk yang bersaing. Yang sering hilang adalah akses pasar dan kepercayaan diri untuk menembus pasar internasional. Pameran semacam ini memperpendek kurva pembelajaran mereka," ujar seorang analis perdagangan internasional dalam sebuah forum diskusi ekonomi.

Dari perspektif valuasi bisnis, keikutsertaan UMKM dalam ajang global juga berpotensi meningkatkan kelayakan kredit mereka di mata perbankan. Riwayat transaksi ekspor yang terdokumentasi dapat menjadi dasar penilaian risiko yang lebih akurat, sehingga suku bunga pinjaman bisa lebih kompetitif. Ini menciptakan siklus positif antara pembiayaan, produksi, dan penetrasi pasar.

Tantangan Sentimen Pasar dan Proyeksi ke Depan

Meski begitu, sentimen pasar global masih dibayangi ketidakpastian. Perlambatan ekonomi Tiongkok sebagai mitra dagang utama, ditambah potensi capital outflow dari pasar negara berkembang, menjadi risiko yang tak bisa diabaikan. Proyeksi pertumbuhan perdagangan dunia yang direvisi turun menjadi sekitar 2,8 persen pada 2026 mempertegas bahwa ekspansi ekspor tidak akan berjalan mulus. Di satu sisi, diversifikasi pasar ke kawasan Timur Tengah dan Asia Tenggara dapat menjadi bantalan. Di sisi lain, penetrasi ke pasar baru menuntut adaptasi produk, sertifikasi, dan strategi pemasaran yang tidak murah.

Pemerintah sendiri menargetkan kontribusi ekspor UMKM naik menuju 20 persen dalam tiga hingga lima tahun ke depan. Untuk mencapainya, diperlukan sinergi antara perbankan, kementerian, dan perwakilan diplomatik di luar negeri. Pendekatan yang menggabungkan pembiayaan, pelatihan, dan fasilitasi pameran menjadi formula yang diyakini mampu mempercepat transformasi UMKM dari pemain lokal menjadi eksportir andal.

Pada akhirnya, keberhasilan di ajang seperti GMBPF bukan sekadar soal transaksi jangka pendek. Ini adalah investasi reputasi dan jejaring yang akan menentukan posisi Indonesia dalam peta perdagangan global. Jika ekosistem pendukung terus diperkuat, bukan tidak mungkin UMKM menjadi tulang punggung baru ekspor nasional di tengah tekanan eksternal yang masih membayangi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User